12/13/2016T12/13/2016

TEORI DAN KHUSUS PERKEMBANGAN ANAK

/* kode iklan */
/* kode iklan */

tokoh tokoh yang mengemukakan teori perkembangan anak yang sam-pai saat ini masih banyak mempengaruhi pengetahuan-pengetahuan lain dalam membahas kehidupan anak dengan segala aspekaspeknya. Tentu para tokoh di atas hanya sebagian di antara banyak lagi yang mengemukakan teori-teorinya hanya saja tidak muncul sebagai titik pusat pembicaraan atau pembahasan berbagai masalah yang berhubungan dengan perkembangan anak, atau yang teori-teorinya dianggap sudah diperbaiki atau diperkembangkan oleh tokoh lain. Sejak dulu sudah dikenal tokoh-tokoh yang membicarakan perkembangan anak a.l.: K. Koffka (1924), W. St sell (1946). Selain kelompok yang mengemukakan teori perkembangan anak secara umum atau menyeluruh dan tentunya mengenai perkembangan dari seluruh kepribadian, ada pula kelompok-kelompok yang membicarakan dan mengemukakan teori-teori yang hanya mengenai salah satu aspek perkembangan anak, misalnya mengenai perkembangan moral, perkembangan bahasa, perkebangan sosial dan lain-lain. 

Di bawah ini akan dibicarakan sebagian dari para tokoh yang mengemukakan satu atau beberapa aspek perkembangan anak. JOHN BowLBY (1907 Keterikatan dan kecemasan. (terpisah) John Bowlly dilahirkan pada tahun 1907 di London. Pendidikan formalnya adalah dokter dan psikonalist dan sejak tahun mulai bekerja dalam bidang Bimbingan Anak. Perhati yang besar terhadap anak-anak yang terlantar, anak-anak dibesarkan di institusi-institusi, anak-anak yang karena sesuatu sebab terpisah dari asuhan orang tua, menyebabkan Boiwby minta sebagai Konsultan mengenai kesejahteraan mental pada W.H.O. tahun 1950.poran yang dibuat menjadi literatur yang terkenal dalam bentuk buku yang berjudul Maternal Care and Maternal Health. Buku ini menjadi dasar bagi buku lain yang berisikan yelidikan mengenai pengalaman-pengalam kehidupannya yang terpisah dari ibunya dan yang sebab timbulnya masalah-masalah kesulitan di dan kesejahteraan mental pada kehidupannya lebih lanjut, Child Care and the Grourb of Love. 

Selama berahun Bowlby bekerja Tavistock Clinic, The Tavistock Human Relations, baik sebagai tenaga peneliti pada k Child Development Research Unit maupun sebagai epartment of Children and Parents sampai tahun 1968, kerika kemudian Bowlby meneruskan tugasnya sebagai tenaga peneliti maupun sebagai pengajar Tavisrock Clinic terkenal dengan pendekatan dan orientasi keterikatan tingkah laku pada anak dan ke- cemasan kecemasan pihak orang tuanya Bowlby memakai landas- yang dilakukannya dengan tehnik banyak melakukan penyelidikan terhadap he- memperkuat tesisnya. Penyelidikan yang dilakukan terhadap hewan, terhadap tingkah laku hewan dalam hubungan nya dengan perkembangan secara evolusi disebut sel menggunakan etologi Bowlby juga meneI o g i. Di samping T Alexander, P. Roodin, & B. Gormam merumuskan etologi tingkah laku hewan di alam benaluri-naluri dan kekhususan-kekhusus- tingkah laku sesuai dengan jenisnya". Yang dimaksud dengan kekhususan-kekhususan tingkah laku sesuai dengan jenisnyatingkah laku umum yang diperlihatkan oleh semua atau hampir semua anggota yang termasuk jenisnya dan dalam situasi yang sama. 

Dilihat dari sudut ini memang sulit menarik garisbatas yang tegas antara etolog dengan ahli biologi maupun psi Dasar tologi ini dipergunakan untuk menerangkan tingkah secara umum, misalnya selaku pada bayi yang bisa tersenyum, umur semua bayi pada umur dua atau tiga bulan jadi pada satu tahun mulai bisa mengucapkan beberapa kata, belajar kan dengan kah laku sesuatu. Kecuali itu, yang diperoleh dari hasil memp ajari naluri, pe dengan sendirinya etologi tidak lepas dari pengertian lahir dan pengertian mengenai tingkah laku yang diperoleh dari nalurisama pada semua jenis. Penyelidikan dan teori-teori  yang telah menarik perhatian sejak puluhan tahun yang lalu, k mengenai naluri William banya menjadi kurang banyak dibicarakan dengan munculnya teori dan aliran Behaviorisme, Lorenz dan Meskipun demikian para tokoh seperti Konrad membu- Nico hadiah Nobel telah kembali lapangan-lapangan penyelidikan mengenai tingkah  berhubungan delalau hewan, baik yang naluriah maupun yang dipakai untuk penyelidikan-penyelidikannya Dasar etologi sangat penting untuk menerangkan tingkalaku yang berasal dari faktor biologi dan yang mempunyai fungsi penyesuaian diri terhadap lingkungan alamnya, agar bisa mepara kehidupannya. Ada tiga sifat dari naluri menurut ahli etologi

l). Naluri mempunyai sifat mereda oleh rangsang dari luar. 

Bilamana ayam berada dalam bahaya, induk ayam akansegera membantu dan menyelamatkan. Ternyata induk ayam ini meman reaksi menolong setelah mendengar adan semacam ya anak ayam. Bruckner (yang yang menyedihkan dari 1951) membuktikan dengan dikutip oleh N. Tinbergen, ayam dipisahkan oleh sbb. Kalau induk suatu pemisah dari anak-anak ayamkan setiap sistem tingkah laku sudah siap untuk memperoleh berbagai macam rangsangan. antara sistem-sistem tingkah laku ini ada beberapa yang menjadi landasan terbentuknya tingkah laku keterikatan seperti mennyusu, menangis, dan mendekap. Be- berapa minggu kemudian diikuti dengan senyum dan ocehan bulan kemudian dengan merangkak dan berjalan. Pada masa pertama ini bayi memperlihatkan bermacam-macam kepada pribadi-pribadi secara tidak menentu, belum bisa membedakan pribadi-pribadi tertentu.jawaban sama saja diberikan kepada semua orang. Menurut beberapa penyelidik yakni Fantz, RL. (1961) dan Freedman D.G. (1974) bayi senang mendengarkan suara dan melihat wajah. Bahkan bayi yang baru beberapa menit dilahirkan ternyata lebih menyukai melihat wajah seseorang dari pada melihat gambar wajah yang tidak jelas. Bayi akan menggerakkan kepalanya mengikuti gerak wajah seseorang, daripada mengikuti gerakan dari gambar wajah yang tidak jelas. Bagi Baulby, hal ini merupakan landasan bagi hal-hal yang genetik ke arah perkembangan terjadinya keterikatan dalam tingkah laku yakni dasar timbulnya senyuman. sampai tiga minggu sejak lelahirannya, senyuman-senyum- yang diperlihatkan bayi belum mempunyai arti sosial, jadi senyumannya belum atau tidak ditujukan kepada seseorang minggu, mulai memperlihatkan senyuman terhadap suara-suara seseorang, sebagai tanda mulainya bisa memperlihatkan senyuman yang mempunyai arti sosial (Freedman, D.G, 1974). Senyuman ini semakin jelas setelah berumur lima mil wajah seseorang yang dilihatnya dan menunjukkan sorotan mata yang riang. Senyuman demikian pada bayi akan selalu menimbulkan reaksi khas pada orang dewasa, leni adanya perasaan kasih-sayang yang diperlihatkan dengan senyuman untuk menjawab senyuman pada bayi tersebut. 


Hal hubungan-hubungan khusus antara bayi dengan orang tua atau orang dewasa. Tetapi sampai menjelang umur tiga bulan, bayi masih belum bisa mendiskrimina-sikan jawaban-jawaban atau senyuman terhadap pribadi-pribadi tertentu. Senyuman yang diperlihatkan bayi, diberikan kepada saja dan tidak atau belum ada pilihan Reaksi reaksi yang diperlihatkan orang tua atau orang dewasa terhadap mempunyai fungsi itu menumbuhkan rasa kasih sayang dan keinginan akan selalu berdekatan. Di samping senyuman, ocehan diperdengarkan sebagai tanggapan kepada suara-suara dari orang-orang, terutama kalau wajah seseorang juga ikut terlihat oleh bayi. Sama halnya pada seyuman, pada mulanya mengoceh juga belum ada arti sosialnya, dalam ocehan diperlihatkannya beberapa sifat saja. Bowlby mengemukakan "Mengoceh, sama halnya dengan tersenyum, mempunyai fungsi yang secara sosial meredakan dan pertahankan hubungan yang dekat dengan tokoh ibu yang dari pihak bayi, dengan meningkatkan interaksi sosial antara mereka". Menangis adalah kegiatan lain dari pihak bayi agar didekati oleh pengasuhnya, karena ingin dibantu. Seorang bayi menangis karena lapar, sakit, hawa udara yang terlalu panas atau terlalu dingin dan perasaan tidak enak karena gerak-geriknya terhalang, dan lain-lain pengalaman yang tidak menyenangkan. Meskipun belum bisa membedakan siapa yang datang menolongnya, bayi didekati atau ditolong oleh sisaja. Bahkan bayi akan menahan orang yang telah menolonggar ia tidak segera meninggalkan dirinya. Reaksi menahan ini pada bayi diperlihatkan melalui dua macam refleks, yakni tersentuh Refleks menggenggam. Yakni bilamana tapak tangan sesuatu, akan menggenggam; termasuk dalam reaksi menekan ini ialah tangan orang yang menolongnya, yang di pegang dan ditahannya agar tidak meninggalkan bayi.

2). Refleks Moro, yakni refleks atau mendekap.

Terlihat kalau ada suara yang mengagetkan atau keseimbangannya tiba-tiba ter baakan merentangkan dan ganggu, yi memeluk atau mendekap kedua refleks tersebut atas, pada bayi ada disentuh atau lain, yakni refleks berpaling lee arah sisi pipi yang tersentuh sesuatu dan diikuti dengan refisap kalau mulutnya menyentuh sesuatu. Menurut Bowlby kedua jenis refleks terakhir ini adalah pola-pola keterikatan dengan ibunya, karena dengan tersebut terjadi hubungan dengan ibunya. Masa II: 0.3 0,6 tahun Mengarah pada pribadi-pribadi yang dikenal.Dimulai pada kira-kira umur 3 bulan, bayi memilih orang- orang tertentu. Senyuman bukan diperlihatkannya kepada semua orang yang mendekatinya, melainkan diperlihatkannya kepada orang yang sudah dikenalnya. Sebaliknya kalau bayi melihat orang asing, orang yang baru dikenalnya, ia hanya melihat dengan pandangan biasa, seolah-olah mempelajari wajah yang baru. Bukan hanya senyuman yang sudah selektif, melainkan juga mengoceh pada umur empat atau lima bulan diperlihatkan kepada orang-orang yang dikenalnya. Pada umur lima bulan mulai meraih dan memegang anggota-anggota orang yang yang ada di dekatnya. Jadi pada masa ini bayi sudah memilih reaksi-reaksi yang diperlihatkan kepada orang-orang yang sudah dikenalnya, yang sering membantu kalau ia merasa membutuhkan mereka, yang mengajak tersenyum dan mengajak berbicara dan yang memberikan kepuasan dalam hubungan-hubungan antara orang dewasa dan bayi. Tokoh ini bisa ibunya, ayahnya atau siapa saja yang sering berada dekat dengan kehidupan bayi; maka tercipta keterikatan yang lebih kuat. Masa Ill: 0,5 3 0 tahun. Mempertahankan hubungan dekat dengan tokoh tertentu. 

Masa ini dimulai pada umur enam atau tujuh bulan, tetapi bisa tertunda sampai anak berusia satu tahun bahkan lebih, terutama pada anak-anak yang hubungannya dengan para tokoh utama sangat kurang. Pada umur enam bulan bayi memperlihatkan keterikatannya dengan tokoh tertentu dan karena itu ia akan sering kecewa dan tokoh tempat bayi sudah merasa terikat akan meninggancamnya.Kalau sebelumnya si bayi memperlihatkan sikap tidak sewang bahkan dengan riknva tertentu ia memperlihat- gerak-gekan tidak setuju terhadap siapa saja yang meninggalkannya, sekarang ia memperlihatkan sikap ini terhadap tokoh tertentu, yang bisa ibunya, ayahnya atau orang lain yang dekat dalam hidup  Pada umur tujuh bulan ketika bayi sudah mulai bisa merangkak, bayi akan aktif mengikuti kepergian dari orang tuanya atau tokoh lain. Bayi mencoba mengetahui ke mana tokoh pergi dan berusaha dengan gerak-gerik motoriknya mendekati tokoh tersebut. Kalau bayi berhasil dekat dengan tokoh ini, ia akan menggerak-gerakkan lengannya, dengan harapan ia akan diangkat. Dengan caranya sendiri bayi mulai memanggil dan cara ini sudah bisa diubah-ubah dan disesuaikan dengan jauh dekatnya jarak antara bayi dan tokoh yang dituju. Kuat kalau jauh dari lemah dekat. 

Semakin besar semakin terlihat cara anak  Misalnya dekatnya dengan tokoh tempat anak merasa terikat. pada anak yang berumur satu atau dua tahun, oleh ibu-nya anak ini dibawa suatu tempat bermain. Untuk beberapa saat setelah dilepaskan, anak terlihat ragu-ragu untuk berjalan sendiri dan meninggalkan ibunya. Kegu-raguannya ter- lihat waktu si anak untuk beberapa saat masih menengok ke ibu- nya, seolah-olah menyadarkan dirinya bahwa ia tidak akan di- tinggalkan sendiri. Bahkan mungkin ia masih lari kembali beberapa kali untuk mempertahankan kedekatannya dibunya. Kemampuan anak untuk mempertahankan hnbungan dengan tokoh tertentu, menurut Bowlby baru bisa dicapai secara sempurna pada umur tiga tahun. Pada umur ini anak sudah bisa menyesuaikan gerak-geriknya untuk mempertahankan kedekatan terhadap seseorang tokoh Pada masa ketiga ini keterikatan bayi atau anak kepada atau orang tuanya menjadi semakin kuat. Kalau anak ditinggalkan sendiri ia akan bergerak, menjerit atau menangis. Pada bayi atau anak timbul apa yang oleh Bowlby disebut kece- masan-terpisahPada umur tujuh atau delapan bulan, bayi juga memperlin reaksi tertentu terhadap orang asing, kepada orang yang baru dikenalnya yang tiba-tiba berada di dekatnya, bayi nemlihatkan  ketakutan terhadap orang asing atau orang yang baru dikenalnya


akhir masa kanak-kanak

Tentang pada masa ini Bowlby tidak banyak membicarakan sesuatu mengenai masalah keterikatan tingkah laku. Kalau pada masa-masa sebelumnya seorang anak tidak bisa ditinggalkan sebentar saja oleh misalnya ibunya yang mempunyai keperluan ke toko, pada masa IV ini anak sudah bisa diajak berkompromi. Anak sudah mau mengizinkan orang tua pergi,karena anak mengetahui bahwa kepergian orang tua itu hanya sementara, dan akan kembali lagi. Pada anak seakan-akan sudah terbentuk suatu sikap untuk bisa diajak bekerjasama. Keterikatan tingkah laku terhadap orang tua terancam akan pecah pada masa remaja, ketika biasanya remaja tidak lagi menginginkan ketergantungan dari orang tua, melainkan di pihak lain remaja mengadakan ikatan dengan tokoh-tokoh pengganti orang tua. Pada masa dewasa ketika seseorang sudah bisa berdiri sendiri, anak masih pula terikat pada orang-orang lain, orang-orang tua; misalnya, kalau orang dewasa tersebut berada dalam keadaan kritis, ia cenderung untuk mencari orang tua yang men- cintainya, agar dekat padanya. Bowlby mengatakan bahwa berada sendirian merupakan hal yang paling ditakuti dalam kehidupan seseorang. Dari sudut bioogis hal ini dapat diterangkan berdasarkan dari kenyataan bahwa untuk menghadapi krisis-krisis yang dialami seseorang membutuhkan orang lain untuk membantu mengatasinya. Mengenai keterikatan tingkah laku ini, berdasarkan literatur psikologi dan psikoanalisa, menurut Boul y ada empat teori yang dapat dipakai untuk menerangkan keterikatan tingkah laku ini

1). Teori Dorongan Sekunder. 

fisiologis Bayi atau anak mempunyai kebutuhan-kebutuhan siyang perlu dipenuhi, khususnya makanan. terikatnya anak kepada ibunya, si anak dapat memenuhi kebutuhan fisiologis anak sedikit demi sedikit bahwa ibunya adalah sumber tempat ia bisa memperoleh kepuasan. Teori Mengisap obyek-Primer. Bayi sejak dilahirkan sudah memiliki kemampuan untuk menghubungkan dirinya dengan payudara pada manusia, meng dan memilikinya secara oral. Bayi sedikit demi sedikit mempelajari bahwa payudara menjadi milik ibunya, dan agar bisa memiliki payudara, ia harus dekat dengan ibunya.

3). Teori Mendekap obyek-Primer

Bayi sejak dilahirkan sudah memiliki kemampuan untuk mendekap seseorang. Ada kebutuhan terhadap obyek yang sama primernya dengan kebutuhan terhadap makanan.

4). Teori Kembali ke rahim primer.

Keinginan pada bayi untuk memperoleh rasa aman, terlindung, yakni dengan kembali ke rahim ibunya. Antara ke-4 teori ini, Bowlby cenderung untuk mempergunakan teori yang pertama untuk melanda teorinya mengenai keterikatan tingkah laku. Teori ini ditunjang baik oleh teori Psi- koanalisa tempat Freud sendiri (1940) mengemukakan bahwa "Cinta berasal dari keterikatannya dan terpuaskannya kebutuhanuntuk memperoleh makanan Selain psikoanalisa, teori belajar mendukungnya pula, sebagaimana dapat dilihat dari pernyataan Dollard & Miller (1950)kan Agaknya pengalaman mem makanan meruperoleh dengan wa bagi anak untuk belajar menyukai ke- orang lain. Kelemahan teori dorongan sekunder ini dibuktikan oleh banyak ahli dengan percobaan terhadap hewan. Lorenz a l. sudah menunjukkan sejak tahun 1935 bahwa tingkah laku mengekor oleh anak-anak ayam atau bebek terhadap induknya, bukan disebabkan oleh karena induk ayam atau induk bebek ini memberi makan kepada anak-anaknya. Anak-anak ayam atau anak-anak bbek akan mengekor terhadap apa saja yang bergerak, apakah, balon yang bergerak, atau obyek lain. 

Hal yang sama di lahirkan mempunyai pada manusia. Ternyata bayi yang baru di- kemampuan untuk mendekap ibunya. Bayi menyenangi kebersamaan dengan orang lain, dan bahkan bisa diam dan tenang kalau diangkat atau diajak itu kesemua nya tidak ada hubungan dengan kepuasan kebutuhan fisiknya. Penyelidikan yang dilakukan oleh Schaffer dan Emerson (1964) memperkuat hal ini. Dari 60 anak yang diselidiki di Scotlandia, tidak kurang dari 1/s-nya tidak pernah berhubungan dengan hal-hal demi pemuasan kebutuhan atau perawatan fisiknya oleh tokoh yang ada dalam kehidupan mereka; ternyata semua anak memperlihatkan keterikatan terhadap tokoh tersebut, Dengan kata lain, keterikatan dapat terjadi. meskipun tempat seorang anak terikat tidak memberinya kepuasan terhadap Untuk menerangkan hal ini, Bowlby, yang dalam pendekatannya mempergunakan landasan Psikoanalisa, menggabungkan dorongan Sekunder dengan psikoanalisa. Pada bayi tingkah-tingkah laku yang keterikatannya terhadap nya memang tidak semata-mata untuk memperoleh makanan, melakukan sini  bungkannya mengisap dengan puting payudara ibunya dan air susu yang Keterikat yang ada setelah tidakan menyusu menunjukkan kelakuan regresi ke arah masa oral dengan gerak menyusu tersebut. Anak-anak tertentu dan pada saat-saat tertentu, mereka masih memasukkan arinya dan mengisapnya. 

Berdasarkan ini Bowlby menunjukkan adanya yang sifatnya oral, kepuasan oral, terhadap puting payudara ibunya ataupun terhadap hal-hal lain sebagai substitusi. la yang secara simbolik memuasktan kebutuhan oralnya. eterikatan bayi atau anak terhadap ibunya atau tokoh lain pertanyaan apa yang terjadi atau bagaimana reaksidan akibatnya kalau karena sesuatu sebab terpisah. Banyak tidak bisa misalnya karena Boulby peneliti melakukan penelitian mengenai hal ini, termasuk satu yang banyak memikirkan anak-anak yang karena  dan lain sebab harus hidup di Institusi misalnya Panti-Panti Asuhan, yang harus di Rumah Sakit, dan sebab-sebab lain yang memisahkan bayi atau anak dari ibunya pengasuhnya yang antara para pene yang terkenal banyak melakukan penelitian mengenai masalah ini dan dengan metode pengamatan bebas melalui film-film adalah rekan Bowlby. James Robertson dari tahun 1952 hingga 1967. Hasil-hasil satu juga ditulis menjadi majalah, artikel dan buku. Salah Se-film-nya yang terkenal berjudul Young in Brief aration (Robertson, James & Robertson, Joyce) gaimana anak umur 2,5 tahun terpisah dari ibunya yang dirawat Rumal Sakit selama 27 marah tokoh keterikatannya dan memperlihatkan reaksi reaksi ketika bertemu kembali dengan ibunya. 

Menurut Bowlby dan Robertson akibat keterpisahan anak dengan tokoh tempat ia terikat mengikuti pola tahapan sbb. 

Tabap I Bayi atau anak memperlihatkan protes. Bayi atau anak akan menangis, berteriak dan menolak semua bentuk untuk mengisi kekurangan-kekurangannya. Semua perbuatanny menunjukkan harapan agar ibunya akan segera kembali. Tahapini bisa berlangsung dari sekian jam sampai satu minggu atau lebih.

Tahap 2 Bayi atau anak memperlihatkan kesedih a n Diam, menarik diri dan tidak aktif, tetapi juga menampilkan putus asa. Gerak-gerik fisik berkurang dan kalau menangis, tidak keras dan tidak berteriak lagi seperti sebelumnya. Tidak ada gairah terhadap lingkungannya, dan terlihat sedih.

Tahap 3 Bayi atau anak memperlihatkan tidak ada keterikatan dengan tokohnya. Ia tidak lagi menolak pengasuh atau perawat dan mau diasuh, menerima makanan dan mainan dibawa dan bahkan mau tersenyum. kel yang anak sudah bisa menerima kepergian tokohnya sehingga dianggap


sudah tidak apa-apa. Tetapi keadaan sebenarnya tidak sebagai mana yang terlihat. Ketika bayi atau anak bertemu kembali dengan tokoh atau ibunya, ia memalingkan mukanya, seakan-akan tidak punya minat lagi terhadap tokoh atau ibunya. Berapa lamanya sebelum bayi atau anak mengembalikan ke- terikatannya kepada tokohnya, tergantung dari berapa lama teradinya perpisahan serta berapa umur si bayi atau anak ketika terjadi perpisahan itu Menurut Bowlby perpisahan yang terjadi pada bayi yang berada pada masa 1, yakni antara umur 0,6 1 tahun ketika bayi baru saja membentuk keterikatannya dengan tokoh, akan menimbulkan banyak persoalan, banyak kesulitan dan membutuhkan banyak waktu untuk memulihkan segala ke keadaan Sebaliknya bilamana perpisahan terjadi pada masa ke-4 ketika anak sudah bisa menerima kenyataan bahwa tokohnya harus meninggalkannya dan bisa menerima sebabnya, maka perpisahan tidak akan terlalu menimbulkan masalah. Beberapa faktor yang menentukan serta beberapa jauh  menimbulkan masalah pada anak yang terpaksa terpisah dari ibunya atau tokoh pengganti tema anak memperlihatkan keterikatannya adalah l Lamanya dan seringnya perpisahan terjadi. Perpisahan yang lama tanpa ada tokoh pengganti akan menimbulkan akibat yang menyulitkan maupun orang lain. secara khusus terlihat pada kehidupan dan perwujudan emosinya. Kejengkelan yang dialami karena harus terpisah dari tokoh atau ibunya mempengaruhi reaksi-reaksi emosi terhadap lingkungan yang sebaliknya akan memberikan pula jawaban teranak. Demikian pula na sering terjadi perpisahan tanpa ada tokoh pengganti yang benar-benar memenuhi semua kebutuhan anak sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan yang sedang dialami pada tahapan perkembangannya.

2). Kondisi perawatan atau pengasuhan ketika terjadi perpisahan. Dalam keadaan-keadaan khusus perpisahan acapkali tidak bisa dihindarkan, misalnya ibunya tiba-tiba jatuh sakit, atau sebaliknya anak harus dirawat di rumah  Dalam keadaan demikian, pengganti ibu (perawat, suster engasuh, bibi, dll.) bisa berperan sebagai tokoh tempat anak mengalihkan obyek keterikatannya ibunya ke tokoh tersebutAdakalanya pengganti ibu ini bisa memperlihatkan sikap, mem perlakukan anak, memberikan jawaban dan rangsang yang me muaskan anak, sehingga anak lambat laun menjadi terikat dengan tokoh pengganti ibu. Di rumah sakit tempat seseorang anak dirawat untuk jangka waktu yang cukup lama, bisa timbul keterikatan dengan seorang atau lebih perawat dan kalau haru pmeninggalkan rumah sakit, akan timbul reaksi kesal, kecewa d tidak mau berpisah. Keadaan yang sama juga bisa terjadi di Panti Asuhan atau di sekolah. Sikap ibu atau tokoh setelah terjadi pertemuan kembali. Sebagaimana diketahui ketika terjadi pertemuan kerubali antara anak dengan ibu atau tokoh, anak akan memperlihatkan kejengkelan dan kekecewaan yang mungkin hanya terjadi beberapa saat, tetapi mungkin juga bisa berlangsung lama. Sikap ibu atau tokoh sangat penting agar si anak bisa cepat memulihkan keterikatannya terhadapnya. Sikap menerima dan mengerti bahwa anak telah kesal atau kecewa dan membiarkan anak untuk sementara waktu menampilkan kekecewaan atau kejengkelannya akan banyak menolong anak mempercepat pulihnya ke keadaan semula sebelum terjadi perpisahan perkembangan ketika terjadi perpisahan. Di atas telah ditunjukkan bahwa perpisahan yang terjadi pada masa pertama terjadinya dengan ibu atau tokoh akan ber akibat lebih buruk pada kalau perpisahan terjadi pada masa masa yang lain. Kemampuan untuk menerima sesuatu secara rasional dan berkurangnya sifat egosentrisitas pada anak mempengaruhi cara bagaimana anak akan bereaksi
5). Keadaan atau corak hubungan antara anak dengan ibu atau tokoh sebelum terjadi perpisahan. Kuat lemahnya keterikatan antara anak terhadap ibu atau tokohnya mempengaruhreaksi reaksi yang akan diperlihatkan anak, kalau terjadi perpsahan. Keterikatan yang longgar menyebabkan anak tidak ter lalu merasa kehilangan bahkan mudah untuk mencari atau memperoleh tokoh pengganti tempat ia lebih terikat. merasa  bayi Teori Bowlby ini menunjukkan kepada kita semua bahwa atau anak mempunyai cara-cara yang khusus dalam bertingkah laku yang diperoleh dari kelahirannya sebagai pradispsisi yang bersifat naluriah dan yang bertujuan agar orang tua selalu dekat dan mengadakan hubungan yang tersenyuri. m, mengoceh dengan demikian mempunyai arti tersen- Senyuman atau ocehan pada bayi merangsang orang tua untuk mendekati, mengajak tercipta dan  yang mesra antara bayi degan orang tua. Menangis, disamping bisa disebabkan hal-hal lain yang berhubungan dengan fisknya. juga merupakan tanda bagi bayi, agar orang tua dekat dan menolongnya. Tingkah tingkah laku yang diperlihatkan oleh bayi menciptakan hubungan yang dekat, menciptakan keterikatanpat mempunyai dasar penyesuaian secara evolusi yang terdapat pula dalam dunia hewan, di samping adanya laku naluriah. Masa-masa terjadinya keterikatan dengan orang tua atau khusus merupakan masa-masa  penting yang bisa memhi timbulnya gangguan dalam perkembangan kepribadian atau anak dan memerlukan perhatianyang khusus dan perlakuan yang tepat. Tidak jarang orang tua yang karena sesuatu sebab harus meninggalkan anak untuk waktu yang mungkin lain cukup lama dan dalam hal dan usaha yang tepat agar bayi atau anak tidak terlalu menderita, sehingga hal ini mungkin bisa menjadi dasar timbulnya kesulian-kesulitan tingkah laku dalam perkembangan kepribadian anak selanjutnya. Tokoh pengganti ibu bisa berperan baik, asal bersikap sayang terhadap bayi atau anak. Kasih sayang dengan affeksional sebagai seorang dewasa yang ingin mengasuh, merawat dan mendidik anak baiknya, sesuai densar-dasar perkembangan tingkah laku dan perkembangan kepribadian yang ideal dan normatif. menurut perkembangan keterikatan dalam tingkah Boully, secara ske dapat digambarkan sebagai matis

ALBERT BANDURA 

Teori sosial-belajar

Bandara tergolong tokoh yang boleh dikatakan muda dan yang terkenal dengan teorinya yang kemudian disebut teori yang dikemukakannya mempengaruhi la meluasnya tehnik-tehnik psikoterapi dengan dasar teori untuk melakukan perubahan-perubahan tingkah laku Bandura dilahirkan tahun 1925 di suatu kota kecil di propin- Alberta, Canada. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Mudanya di Universitas British Columbia dan kemudian menyelesai-kan pendidikan sarjananya dalam bidang psikologi di Universitas Iowa. Di Universitas Iowa ini ia menjadi mahasiswa bersama-sama dengan Robert R. Sears yang juga terkenal sebagai salah seorang pemuka dalam teori sosial-belajar. Pada tahun 1953 Bandura mulai menetap di Universitas Stanford. Kepemimpinannya dan prestasi-prestasinya dalam psikologi membawanya kenjang tertinggi dalam perkumpulan ahli psikologi, ketika pda tahun 1974 Band terpilih sebagai Presiden American Psychological Association, Pada waktu Bandura mengadakan percobaan-percobaan yang waktu itu sangat dipengaruhi oleh kelompok-kelompok penelii dengan aliran teori belajar, Bandura melihat bahwa hewan- hewan yang dipergunakan untuk percobaan memperlihatkan tingkah laku sendiri. Artinya tidak ada hewan lain atau dengan hewan percobaannya tidak sosial. Hasil-hasil percobaan dan penelitian para ahli teori belajar, r dan Thorndike diamalkan pada situasi sosialJadi atau penelitian tidak  situasi untuk situasi sosial. Bandura menganggap perlu penelitian lebih lanjut mengenai hal ini i belajar a I, yang dikemukakan oleh Skinmer, ar merupakan proses kemajuan sedikit demi sedikit tempat Organisme harus memperlihatkan atau berbuat sesuatu, artinya dengan perbuatan yang nyata. Menurut Bamdura, dalam situasiial ternyata orang bisa belajar lebih cepat dengan mengamati Contoh mengenai ini dapat dilihat pada para wanita di Guajar bagaimana merajut hanya dengan , 


ALBERT BANDURA: Teori sosial-belajar. 

Bandara tergolong tokoh yang boleh dikata muda dan yang terkenal dengan teorinya yang kemudian disebut sial-belai dikemukakannya mempengaruhi pula meluasnya tehnik-tehnik psikoterapi dengan dasar teori belajar untuk melakukan perubahan-perubahan tingkah laku.si Bandura dilahirkan di kecil di MudaAlberta, Canada. Ia menyelesaikan pendidikan  nya di Universitas British Columbia dan kemudian menyelesaikan Pendidikan sarjananya dalam bidang psikologi di Universitas Universitas Iowa ini menjadi mahasiswa bersama-sama dengan Robert R. Sears yang juga terkenal sebagai salah seorang pemuka dalam teori belajar. Pada tahun 1953 Bandura mulai menetap di niversitas Stanford. Kepemimpinannya dan prestasi-prestasinya dalam psikologi membawanya kejenjang tertinggi dalam perkumpulan ahli psikologi, ketika pada tahun 1974 Bandura terpilih sebagai Presiden Anmerican Psychological Association. Pada waktu Banduraan percobaan-percobaan yang waktu itu sangat dipengaruhi oleh kelompok-kelompok peneliti dengan aliran Bandara melihat bahwa hewan-hewan yang dipergunakan untuk percobaan memperlihatkan tingkah laku sendiri. Artinya tidak ada hewan lain atau dengankata lain hewan percobaannya tidak sosial. Hasil-hasil percobaan dan penelitian para ahli teori belajar, a.l. Skinner dan Thorndike diamalkan pada situasi sosial. Jadi nya penelitian tidak dalam situasi sosial, tetapi hasil untuk situasi sosial. Bandura menganggap perlu penelitian teori teori belajar a l. yang dikemukakan oleh Skinner, belajar merupakan proses kemajuan sedikit demi sedikit tempat nisme memperlihatkan atau berbuat sesuatu, artinya dengan perbuatan yang nyata. Menurut Bandura, dalam situasg bisa belajar lebih cepat dengan mengama contoh mengenai ini dapat dilihat pada para wanita di Gualihat bagaimana gurunya mengerjakan hal itu atau dengan kata lain memberi contoh. Ketika para wanita itu sudah merasa bisa melakukannya, maka ternyata tanpa mengalami kesulitan mereka segera bisa melakuka dengan baik. bisa Bandara menyebutkan istilah belajar tanpa mencobaIni dilakukan dengan segera, semata-mata dari hasil melakukan Peristiwa di atas mengikutsertakan adanya unsur kognitif yang menyertainya ketika melakukan pengamatan, yakni ada- nya proses di dalam yang mewakili obyek-obyek yang nyata di luar, yang diamati melalui alat indranya. Proses yang ada di dalam ini kemudian menjadi dasar timbulnya tingkah laku yang sesuai dengan apa yang telah diamati. 

Pada keterangan ini jelas terlihat bahwa Bandura menyertakan unsur kognitif dalam meterangkan teori belajar, atau teori sosial-belajarnya Bandura mengemukakan empat komponen dalam proses belajar melalui pengamatan yakni

l). Memperhatikan. Sebelum melakukan peniruan terlebihdahulu, orang menaruh perhatian terhadap model yang akan ditiru. Keinginan untuk meniru model karena model tersebut memberilkan atau mempunyai sifat dan kwalitas yang hebat, yang berhasil, anggun, berkuasa dan sifat-sifat lain. Dalam hubungan ini Bandura (1977) memberikan contoh mengenai pengaruh Televisi dengan model-modelnya terhadap kehidupan dalam masyarakat, terutama dalam dunia anak-anak. keinginan memperhatikan dipengaruhi oleh kebutuhan-kebutuhan dan minat-minat pribadi. Semakin ada hubungannya kebutuhan dan minatnya, semakin mudah tertarik perhatiannya; sebaliknya tidak adanya kebutuhan dan minat, menyehablan seseorang tidak tertarik perhatiannya.

2). Mencamkan. 
Setelah memperhatikan, mengamati suatu model, maka pada saat lain anak memperlihatkan tingkah laku nodel Jadi ada sesuatu kan, yang disimpan, yang diingat dalam bentuk simbol-simbol. mengemukakan kedelcaran dalam rangsang sebagai hak  terjadinya asosiasi rangsang yang satu dengan rangsang yang lain bersama-sama. satu karena ada rangsang, menarik ingatan lain untuk disadari karena kualitas rangsang-rangsang tersebut sama atau hampir sama dan ada hubungan yang dekat dengan dia Bentuk simbol-simbol yang dicamkan ini tidak hanya di oleh melalui pengamatan visual melainkan juga melalui verbalisasi. Ada simbol-simbol verbal yang nantinya bisa ditampilkan dalam tingkah laku yang berwujud. Pada anak-anak yang kekayaan verbalnya ini masih terbatas, mala kemampuan meniru hanya terbatas pada kemampuan mensimbolisasikan melalui peng-

3). Mereproduksikan gerak motorik.
Supaya bisa mereproduksikan tingkah laku secara tepat, seseorang harus sudah bisa memperlihatkan kemampuan-kemampuan motorik. Kemampuan motorik ini juga meliputi kekuatan fisik. Misalnya seorang anak mengamati ayahnya mencangkul diladang. Agar anak ini bisa meniru apa yang dilakukan oleh ayah-nya, anak tersebut harus sudah cukup kuat untuk mengangkat cangkul dan melakukan gerak terarah seperti ayahnya

4). Ulangan penguatan dan motivasi.
Setelah seseorang melakukan pengamatan terhadap sesuatu model, ia mencamkannya. Apakah hasil mengamati dan mencamlan terhadap sesuatu model ini akan diperlihatkan atau dilaku yang nyata, bergantung pada kemauan atau motivasi yang ada. Kalau motivasinya kuat untuk mereproduksikannya, misalnya karena ada hadiah atau keuntungan, maka ia akan melakukan hal itu. Kalau ia tidak merelambat  Selain motivasi, laun akan menghilang motivasinya? perlu ia mengulang perbuatannya, agar ia memperkuat ingatannya dan bisa memperlihatkan tingkah laku sebab meniru suatu model. Mengulang suatu perbuatan untuk memperkuat perbuatan yang sudah ada, agar tidak hilang, dise- ulangan penguatan. 

Kemauan untuk melakukan ulangan penguatan bergantung keadaan dan dorongan pribadi. Ulangan-penguatan yang memperkuat apa yang telah diamati, juga bisa terjadi melalui pengamatan terhadap model yang tingkah lakunya memperoleh hadiah dan menyebabkan tingkah Mengamati  tingkah lakuorang lain yang memperoleh hadiah, mempengaruhi proses psikis untuk meniru tingkah laku yang diamati tersebut, Bandura istilahkan hal ini ulangan-penguatan yang diwakili (vicarious reinforcement). Beberapa contoh percobaan terjadinya peniruan melalui pro- Pada Bagian II, Bab 2 mengenai Teori Belajar telah diterangkan percobaan yang dilakukan oleh Bandura, Ross & Ross (1963) mengenai anak yang ag f dan menang. Ini dimaksudkan sebagai model yang mudah untuk ditiru dibandingkan bilamana modelnya kalah. Dalam penyelidikan lain, Bandura (1965) menyuruh sekelompok anak berusia 4 tahun masing-masing melihat satu film yang sama tetap dengan perbedaan pada akhir cerita filmnya. Pada film pertama diperlihatkan model memperlihatkan agresifitasnya meletakkan boneka Pada akhir film ini seorang dewasa memuji model yang agresif tadi dan bahkan memberinya hadiah-hadiah makanan dan Pada film lain, model yang agresif tadi memperoleh perlalauan yang sebaliknya daripada model agresif di atas. Model tersebut bahkan dimarahi dan dipaksa pergiPada film ketiga, model tidak memperoleh reaksi atau perlakuan apa-apa atas perbuatan-perbuatan agresifnya. Segera setelah pemutaran film selesai anak-anak diminta masuk ke ruangan main, tempat boneka dan alat-alat permainan yang lain dan diamati melalui kaca-tembus dari ruangan lain. 

Dari pengamatan ternyata anak-anak yang telah melihat film kedua, tempat modelnya dihukum  Peniruan-peniruan yang paling sedikit dibandingkan dengan yang dua kelompok yang lain. Sedangkan pada kedua kelompok tidak jelas ada perbedaan. Dari penyelidikan ini ternyata bahwa hukuman (istilah Bandura ticarious pumishment) mengu-rangi peniruan terhadap perbuatan buatan yang agresif Setelah itu anak-anak disuruh masuk kembali ke ruangan dan kepada anak-anak ditawarkan kepada siapa akan  lihatkan suatu tingkah laku akan diberikan minuman dan gambar yang menarik. Ternyata semua anak, termasuk kelompok anak yang melihat model terhukum, bisa memperlihatkan tingkah la bagai hasil meniru model pada film masing-masing. Jadi pada model yang terhukum sebenarnya anak-anak yang melihat terhambat untuk mempertunjukkan tingkah laku yang baru diltnya, meskipun sebenarnya ia sudah meniru dan ternyata (kalau mau) mereka bisa mengulang perbuatan yang dimaksud.

Dari percobaan atau penyelidikan ini terlihat betapa besar pengaruh film dan T.V. yang dilihat oleh anak-anak Tingkah laku para tokoh dalam film dan T.V. menjadi model untuk ditiru Cara-cara memperlihatkan kekuasaan, kekejaman, kejahatan seorang anak yang berteriak atau mengancam "menembak" adik nya adalah hasil pengamatan peniruan dan pengulangan model model baik yang ada dalam lingkungan sosialnya, dalam film dan T.V. kehidupan yang nyata, maupun dalam Adanya ulangan-ulangan penguatan dalam lingkungan sosial terlihat dari proses berupa sedikit demi sedikit terbentuknya identitas jenis kelaminnya sendiri ak kecil anak-anak telah dibiasakan untuk memperlihat sesuatu sesuai dengan jenis kelaminnya dan kalau anak bisa mperlihatkan tingkah laku tersebut, lingkungan akan mene bahkan memujinya. Para ahli teori belajar tidak menglari adanya pengaruh faktor bakat, faktor konstitusi yang dalam hal-hal tertentu memang berbeda pada laki dan perempu kelaki-lakian atau kewanitaan banyak terbentuk proses sosialisasi khususn peniruan. Penyelidikan-penyelidikan antropologis banyak mencatat adanya ulangan lingkungan sosial (Bandura, social yang mempengaruhi anak dalam memperkembangkan ke Misalnya Margaret Mead (1964), yang kenamaan menceritakan bagaima bangsa Eskimo terbiasa dan terdorong untuk berburu binata tau membangun rumah, sedangkan anak perempuan tidak. 

Orang tua memang melatih anak laki-laki tingkah laku yang sesuai dengan jenis kelaminnya. Anak perempuan hanya melihat bagaimana anak laki berburu binatang atau memrumah. Tetapi bilamana pada suatu saat diperlukan, anak perempuan tersebut ternyata bisa mengerti peranan anak lelak bisa mempelihatkan kemampuan seperti anak lelaki hasil mengamati, dan meniru) meskipun tidak tepat sama dengan apa yang dilakukan anak laki-laki karena tidak ada latihan. Dalam proses sosialisasi di samping faktor ulangan-penguatan dalam lingkungan sosial (social reinforcement). Juga ulangan penguatan sendiri (Bandura self-reinforcement) merupakan fak- dalam terjadinya proses peniruan terhadap model-model sehingga apa yang telah ditiru menjadi sebagian tingkah laku ke-pribadiannya sendiri. Kalau hal ini terjadi berarti timbul normal Ulangan-penguatan sendiri (self-reinforcement) kecuali hsil yang langsung memberinya pujian atau hukuman, perlakuan  menurut Bandura terjadi dari hasil meniru model-model Bandura & Kupers (1964) melakukan percobaan sbb.: Anak- anak berumur tujuh sampai sepuluh tahun melihat seseorang model bermain bowling. Setiap kali si pemain (model) memperoleh angka yang baik, ia menghadiahkan permen buat dirinya sendiri. Kalau hasilnya kurang baik, hadiahnya juga sedikit, dan kalau hasilnya buruk ia mencela diri sendiri dan memperlihatkan kekecewaannya karena tidak memperoleh permen. Di samping kelompok tadi, ada kelompok lain yang tidak melihat Ketika kepada anak-anak diberikan kesempatan untuk bermain bowling sendiri, mereka meniru bagaimana memberi hadiah untuk dirinyasendiri bilamana memperoleh hasil baik. Sedangkan pada kelompok anak yang tidak melihat model tidak adapatokan tertentu untuk memakan permen da kelompok pertama) dan mereka memakanpermen pada waktu-waktu mereka merasa ingin makan permen tersebut. 

Pada contoh elidikan-penyedikan ini anak meniru suatu model dan melakukan ulangan-penguatan sendiri. Berbeda dengan ulangan-penguatan yang diwakilkan (vicariousreinforcement) tempat model memperoleh hadiah dari orang lain, pada ulangan penguatan sendiri (self-reinforcement) anak meniru bagaimana model memberi hadiah terhadap dirinya sendiri, jadi anak melakukan hal yang ni memberi hadiah terhadap perbuatan-perbuatannya sendiri yang memuaskan. Hal seperti misalnya dalam keinginannya juga ter mencapai suatu prestasi, apakah prestasi dalam pekerjaan atau prestasi dalam hal-hal lain, termasuk juga prestasi belajar, seseorang bisa melakukan ulangan-penguatan sendiri setelah ayahnya atau ibunya memberinya hadiah, ketika ia memperoleh hasil yang baik di sekolah. Di samping itu ia juga melakukan ulangan-penguatan sendiri setelah ia melihat orang lain (temannya) memberikan hadiah kepada dirinya sendiri untuk hasil baik yang di Bagaimana kalau model pemain bowling pada percobaan di atas melakukan hal lain, apakah ada pengaruh terhadap anak-anak Rushton mengulang percobaan atau penyelidikan di atas dengan kelompok umur sama. Model pemain-bowling menyumbangkan sebagian hasil kemenangannya kepada suatu badan untuk membantu anak-anak. Ketika pada kelompok anak diberi-laan kesempatan bermain bowling, mereka juga memberikan banyak sumbangan kepada badan tersebut, jauh lebih banyak dari- pada kelompok lain yang tidak melihat model tersebut. Anak-anak pada kelompok pertama di atas, masih memberikan sumbangan meskipun sudah lewat dua bulan, sekalipun anak-anak tersebut bermain di tempat lain dan dengan penyelidik yang lain pula. Contoh ini menunjukkan pula adanya proses peniruan yang bisa menetap lama, meskipun memperhatikan dan mengamati model berlangsung dalam waktu yang singkat. 

Percobaan dan penyelidikan di atas memperlihatkan bahwa sikap agresif atau sikap ingin memberikan kepada orang lain seperti pada contoh percobaan pertama dan terakhir adalah sileap-sikap yang diperoleh dari meniru suatu model dalam lingkungan sosial. Pengaruh lingkungan sosial dengan demikian sangat penting bagi seluruh perkembangan kepribadian anak tempat anak mempelajari sesuatu dari lingkungan sosialnya. Inilahdasar utama konsep-konsep dan teori sosial belajar yang dikemukakan oleh Bandura Anak-anak dipengaruhi oleh model-model yang ada dalam lingkungannya, seperti orang tua, guru, tenan-teman dan juga televisi. Di sekolah anak-anak sangat peka terhadap model-model guru maupun anak-anak lain. Setiap pengamatan yang dilakukan anak dalam kelompok bisa mempengaruhi dalam menjadi kan tokoh-tokoh dalam kelpok suatu model tingkah laku untuk ditiru. Termasuk juga model-model yang bisa bersifat negatif terhadap lingkungan seperti agresifitas, sikap memusuhi, dan egosentrisitas. Semakin banyak model memperlihatkan tingkah laku yang sama dalam kelsemakin besar kemungkinan anak akan meniru tingkah laku yang diperlihatkan model-model tersebut. Ada kalanya model-model tersebut bersikap keras, menekan,  atau mengharuskan seorang anak untuk mengikuti dan menuruti aspek tingkah laku tertentu, seperti cara duduk atau cara menyampaikan salam pada anak-anak di sekolah oleh guru rumah oleh orang tua. Orang tua mempunyai ranan untuk membantu anak mempelajari cara-cara bertingkah laku yang sesuai dan serasi dalam arti bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Bandura, seperti halnya juga para tokoh dalam Psikoanalisa, menunjukkan pentingnya proses identifikasi terjadi pada anak terhadap orang tuanya. Identifikasi penting pada proses sosialisasi anal Bandura (1969) mengatakan: lui identifikasi seorang anak mulai menerima sifat-sifat pribadi an tingkah-tingkah laku tertentu sebagai sesuatu yang berguna, agar bisa sesuai dan diterima oleh orang lain. Merasa diterima oleh lingkungannya itu akan memberikan rasa aman dan karena itu memperkuat motivasi untuk mempertahankan atau meneruskan yang telah dimilikinya. 

Dalam hal ini, para ahli sifat-sifat terjadi ulangan teori sosial-belajar mengemukakan perlunya diwakili (vic penguatan baik melalui ulangan-penguatan yang  nforcement), ulangan-penguatan sosial reinfornt) maupun ulangan-penguatan sendiri reinforcement). al-belajar Bandura memberikan keterangan mengenai pentingnya pengaruh media-masa, hanya Televisi film-film, majalah dan radio, terhadap perkembangan kepribadian anak. Banyak tokoh dalam film, televisi maupun majalah yang dijadikan model untuk ditiru, padahal kadang-kadang tokoh tokoh tersebut tidak sesuai dengan keadaan khusus kepribadian kita, terutama tokoh dari Barat dan tidak terkecuali juga tokoh dari Timur. Model yang ideal lah yang dekat dalam lingkungan hidup si anak sendiri, yakni orang tuanya. Tentu sesuai dengan jenis kelaminnya, anak perempuan meniru model ibu dan anak laki meniru model ayah. sosial-belajar menunju tokoh-tokoh orang tua dan orang dewasa lain yang dekat dalam kehidupan anak untuk membina hubungan yang baik dengan anak, anak bisa mempelajari hal-hal yang baru, yang berfungsi positif bagi perkembangan seluruh aspek kepribadian anak. Lingkungan rumah, lingkungan sosial adalah sum ber bagi anak untuk mempelajari segala hal, untuk memasukkan tingkah laku yang baru, sehingga menjadi tingkah lakunya, untuk membandingkan apakah sesuatu tingkah laku yang tidak sesuai dengan lingkungan tidak akan diperlihatkan lagi dan untuk memperkembangkan diri agar biasa menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sesuaian tahap perkembangan dan murnya. Peniruan akan lebih mudah terjadi pada anak-anak, biamana tokoh yang diamati si anak yang dijadikan model untuk ditiru memperoleh hadiah dan pujian sebagai hasil perbuatan-per-

/* kode iklan */

jangan lupa iklannya diklik ya, to "TEORI DAN KHUSUS PERKEMBANGAN ANAK"

Post a Comment