12/13/2016T12/13/2016

Psikologi proses-proses belajar

/* kode iklan */
/* kode iklan */



Hanya proses-proses belajar yang bagaimana yang akan dipergunakan merupakan suatu skala yang luas dan majemuk. Bukan hanya yang langsung dan distrukturkan untuk tujuan-tujuan tertentu kepada anak misalnya, melainkan juga hal hal dalam proses belajar yang bisa berlangsung tanpa disengaja tanpa diketahui, tanpa disadari oleh anak atau siapa saja yang sedang mengubah atau berubah tingkah lakunya, Suatu latar belakang sosial atau kebudayaan tertentu akan memberikan pola tertentu pula pada tingkah laku orang-orang yang ada di dalamnya. Hal ini jelas terbukti karena terdapat konsep relativisme budayaan di mana-mana. Membicarakan ciri-ciri atau gambaran kepribadian seseorang sering dipengaruhi oleh latar belakang kebudayaan yang meman bisa disangkal memberikan nuansa-nuansa tertentu pabaran atau ciri kepribadian yang ditampilkan. Pengaruh-jerngaruh ini membentuk sedikit, menetap beruba susah dipengaruhi oleh lingkungan kebudayaan yang RM, Lerner (1976) mengemukakan beberapa teori Pesan dalam usahanya untuk memberikan gambaran menge Perkembangan dewasa ini.Dalam kologi perkembangan ada beberapa psi dekatan untuk menerangkan  tipe teori g terdiri dari satu jenis teori dan tiga jenis pendekatan
yaI. Teori penahapan

2. Pendekatan diferensial
3. Pendekatan ipsatif
4. Pendekatan Teori-belajar.

(1) Teori penahapan.

Teori penahapan dalam perkembangan sering disebut teori klasik. Perkembangan terbagimelalui dari yang satu kepada yang lain secara bertingkat. Antara tahap yang satu dengan tahap lain terdapat masa perkembangan dengan Para ahli teori penahapan melihat tahap-tahap perkembangan sebagai sesuatu yang universal, dan berlangsung dengan urutan- yang tertentu. Dari satu tahap yang lain harus dilalui urutan yang berlaku bagi seluruh perkembanganya dan tidak bisa misalnya suatu tahap. Dilewati pada satu masa perkembangan berbeda secara kualitatif dengan ciri-ciri pada masa perkembangan yang lain. Hanya perbedaan ini tidak mutlak, karena bisa saja ciri yang ada pada suatu masa perken- bangan, masih tetap ada pada masa perkembangan berikutnya, hanya tidak berdominasi Meskipun ada hukum-hukum yang berlaku umum (nomotetis) jadi yang ada atau terjadi pada siapa saja dalam perkembangan, masih juga ada perbedaan perorangan yang menurut Emmerich (1968) terjadi, yakni perbedaan dalam

a). Waktu yang diperlukan untuk melewati sesuatu masa perkembangan, yang berbeda-beda Misalnya seorang anak membutuhkan waktu dua tahun untuk melewati suatu tahap perkembangan, sedangkan anak lain membutuhkan waktu empat tahun.
b). Tingkatan perkembangan yang dapat d
Ini menerangkan bahwa tahapan perkembangan berlangsung sampai pada tingkatan yang berbeda-beda pada setiap orang. Si A mungkin berkembang terus sampai batas a, sedangkan B hanya sampada b. Tingkat-tingkat akhir a dan b tidak sama.Sifat-sifat teori Penahapan ini ialah: diskonsep mengenai adanya kontinuitas kontinuitas, dan kualitatif serta epigenetis dalam kembangan antara faktor
2) Mengikuti
pandangan meskipun terdapat perbedaan dan faktor yang lebih dan mana yang perbedaan dalam tekanan, mana ini. rang pada para ahli yang mengikuti teori-teori
3). Mengakui bahwa kritis dalam perkembangan, meskipun terdapat perbedaan-perbedaan pendapat dalam mengemukakan, seberapa kritisnya masa kritis, serta tahapan perkembangan mana dan untuk  an apa terdapat masa-masa kritis itu. Yang digolongkan pada kelompok teori penahapan ini al i S. Frend, J. Piager, L. Koblberg.

2). Pendekatan diferensial.

Pendekatan diferensial dipergunakan untuk tujuan-tujuan emis berusaha menerangkan adanya perbedaan-perbedaan langkah laku dalam perkembangan pada kelompok-kelompok atau sub-1 elompok. Dasar untuk mengelompokkan ini ialah adanya dua macam atribut, yaitu: 1. Atribut status dan 2. Atribut tingkah laku

Atribut status yaitu yang mengelompokkan orang-orang atas dasar, umur, jenis kelamin, latar belakang keturunan, agama stars sosial tingkah laku adalah dimensi yang bersifat dua pola kontinuitas, ekstrovenir introversi,  Dengan kedua dasar atribut di atas, para ahli berusaha mengetahui perbedaan-perbedaan yang ada pada beberapa suatu kelompok dalam suatu Anak dikategori adimensi varian sehingga mudah terlihat perbedanya dengan anak lain, karena tempatnya yang berbeda-bedaContoh pengalaman pendekatan-pendekatan diferensial terdapat pada EH, Erikson yang terkenal dengan perkembangan lo sosialnya dan J. Kagan & H.A. Moss, K. Warner Schaie, Baltes, J R. Nesselroade.

3). Pendekatan ipsatif.

Pendekatan ipsatif mempunyai orientasi yang terutama i diog r a p his (berlawanan dengan n o m otetis), yakni ingin mengetahui hukum hukum yang ada atau yang bisa berlaku pada satu individu yang sedang berkembang. Pada anak yang sedang berkembang terdapat perubahan-perubahan di dalam dirinya atau juga ada hal-hal yang menetap, yang terus ada dalam perkembagannya, dan yang ingin diketahui hukum-hukumnya. 

Pada pendekatan ipsatif ini ada dua komponen yakni:

l). Atribut repertoire, yaitu atribut yang ada pada seorang da perbedaan-perbedaan tahap perkembangan. Dapat dikatan atribut sifatnya Misalnya nilai-nilai g ada pada seorang berumur 15 tahun akan berbeda atau bertanbah ketika ia berumur 25 tahun. Pada usia 15 tahun misalnya ada 4 nilai yakni nilai yang berhubungan dengan tubuhnya, lai seks, pendidikan dan agama, Sedangkan umur tahun yang berhubungan dengan karir dan ini bertambah dengan nilai

2). Atribut saling berhubungan, yaitu atribut yang ada pada seseorang dengan tingkatan-tingkatan fungsi yang berlainan karena berbeda tahapan  perkembangannya. Misalnya pada umur 18 tahun, nilai-nilai yang paling menonjol adalah seks, sedangkan lnilai ckonomi dan nilai religi kurang berperanan. Pada  tahun, nilai yang paling menonjol adalah nilai ekonomi dan kedua nilai lain kurang. Scterusnya pada umur 68 tahun, nilai yang paling menonjol adalah nilai religi, sedangkan nilai ekonomi serta nilai seks kurang berfungsi. tan nilai berbeda karena ada perbedaan pada tahapan perkembangannya meskipun saru nilai dengan nilai lainnya saling berhubungan Pendekatan ipsatif yang menitikberatkan sifat-sifat yang ber- beda secara perorangan, berusaha mengetahui dasar-dasar atau

pola yang menyebabkan adanya perubahan ciri-ciri tingkah laku atau juga ciri-ciri yang menetap dalam Perkembangan tingkah laku. Contoh yang dapat diberikan di konsep perkembangannya Werner. diterangkan Dengan pendekatan ipsatif ini dapat interaksi-insep dasar mengenai kontinuitas diskontinuitas, serta interaksi antara faktor konstitusi dan faktor lingkungan. 

Contoh pengalaman dengan pendekatan ipsatif terda: Alerander Thomas, Stella Chess, Herbert Birch, Margarer Hertzig, Sam Korn.

4). Pendekatan teori-belajar.

Teori belajar dipergunakan untuk menerangkan bangan tingkah laku, keterangan mengenai teori belajar ini akan dibicarakan tersendiri pada Bab lain.

4. Teori organismik

Titik tolak teori organismik bertentangan dengan teori R-1. Dalam teori yang memandang organisme sebagai pribadi yang organisme mempunyai sesuatu peranan yang aktif yang ada pada dirinya (misalnya ciri-ciri an) dalam mempengaruhi perkembangan tingkah laku, di samping faktor yang timbul dari interalesi antara faktor kematangan dan faktor lingkungan. Padangan organismik sedikit banyak meniru pandangan Psilologi Gestalt yang mengatakan bahwa keseluruhan adalah lebih daripada sekedar penjumlahan bagian-bagiannya. Pandangan organismik menitikberatkan keseluruhan dan organisasi pada orgaitisme. Lauduig von Bertalanffy (1933), mengatakan bahwa orangn-bagian organisme sebagai bagian bagian yang terpisah dari keseluruhan organisme itu. Ada tingkatan-tingkatan organisasi sesuai dengan tingkat atau penahapan dalam perkembangan tingkah laku. 

Tingkatan dalam tingkah laku ini berbeda-beda dan tingkatan organisasi tingkatan yang lebih tinggi mempunyai kualitas yang berbeda dengan tingkatan yang lebih rendah. Pada setiap tingkaran baru yang lebih tinggi ada sesuatu yang baru, yang disebut pigJadi epigenesis ini merupakan suatu karakteristik baru yang timbul pada tingkatan lebih tinggi, yang tidak ada pada tingkatan lebih rendah yang mendahuluinya. Jika ditinjau dari sudut kontimuitas diskontinuitas, maka pandangan organismik menunjukkan bahwa dalam perkembangan terjadi diskontinuitas kualitatif. Jadi uda perbedaan-perbedaan secara kualitatif antara ciri-ciri tingkah laku pada suatu tahapan perkembangan dengan tahapan perkem bangan yang lain, yang oleh Werner disebut e m e r g e n c e. Prinsip epigenesis ini juga dikemukakan oleh E.H. Erikson bahwa prinsip ini menunjukkan bahwa sesuatu yang tumbuh mempunyai landasan rencana. Melalui landasan ini timbul bagian-bagian yang mempunyai waktu untuk meningkat secara khusus, sampai keseluruhan bagian-bagian ini muncul dan membentuk keseluruhan yang berfungsi. Menurut R.M. Lerner (1976), 

ciri-ciri komponen dasar dari teori organismik adalah

a) Perkembangan ditandai sebagian oleh rangkaian perubahan kualitatif dalam proses-prosesnya yang mendasari perkembangan. Contoh dapat dilihat pada perkembangan aspek-aspek seperti persepsi, motivasi dan kognisi tempat akan terjadi perubahan kualitatif, a.l. macam dan tipenya pada perubahan-perubahan kuantitatif seperti jumlah dan strukturnya. yang berlaku untuk perubahan-perubah an kualitatif ini berhubungan erat dengan faktor konstitusi dan faltor pada
c) Kedua faktor konstitusi dan faktor lingkungan berinteraksi untuk mempengaruhi perkembangan tingkah laku. Interaksi terjadi melalui macam-macam cara yang sangat tergantung pada waktu, tingkatan perkembangan dan keadaan-keadaan sus lain, baik yang ada pada dirinya maupun yang ada di ling-
d) Cara kedua faktor berfungsi merupakan pola interaksi yang timbal balik, yang satu bisa lebih aktif yang lain. contoh ini jelas terlihat bahwa dalam pandangan-pandangan teori organismik individu menempati m yang aktif untuk perkembangannya sendiri. 

Organisme tidak menanti, melainkan aktif menguasai dan menstruktur lingkung-Untuk memberikan gambarangan anak ketikat perkemban nismik-epigenesis ini dapatlah dida umur atkan berumur setahun. Apa yahun ini masih be laku motorik yang dan kemampuan-kemampuan mentalnya masih terbatas pada ber Ketika si anak  intereaksi atau jawaban terhadap suatu umur dua tahun, maka ia pakan kemampuan ke yang baru.  bertambah dan ia mulai bisa melihat sesuatu konsep atau simbol yang mewakili sesuatu yang tidak ada. Pada anak munculkan tingkah laku suatu yang baru, tempatsa mempel bagai hasil meniru dari apa yang pernah dilihatnya (karena ke mampuan mensimbolisasikan). Bagi ahli yang menitikberat kan pendekatan orga k, kemampuan yang baru ini bukan kelanjutan kemampuan-kemampuan yang berkembang dari tingkat yang muncul an sebelumnya.

Kemampuan ini merupakan sesuatu sebagai hasil interaksi antara dua faktor yang melatar belakangi fungsi perkembangan yakni faktor keturunan atau konstitusi dan faktor lingkungan, di samping aktivitas anak itu sendiri. Contoh lain bisa dilihat pada masa remaja ketika muncul dorongan (sebagai akibat kematangan kelenjar-kelenjar kelamin) dan ting tingkah laku yang baru seperti kehidupan emosi, cara berilir dan sikap-sikap terhadap lawan jenis kelaminnya. 

Dorongan seks  yang muncul ini bukan merupakan kelanjutan dorongan karena kebutuhan fisiologis. sismik ini banyak diterima oleh ahli-ahli Psikologi Perkemban gan  akhir-akhir ini, sebagai salah satu jalan keluar jawaban atau keterangan yang berabad-abad sudah menjadi obyek rdebatan, pembahasan, bahkan pertentang nismik masalah keturunan dan lingkungan. Pandangan org secara integratif dimasukkan dalam teori perlberti, Werner, Erikson, bahkan Prag li lain yang banyak menerapkannya dalam comas, S. Chers, seperti TC. RO  Herraig, H.G. Bireb, S J. Korn dan Do IL Tokoh dan aliran dalam Psikologi Perkembangan Uraian berikut mengenai tokoh-tokoh yang dianggap terkenal dalam mengemukakan teori perkembangan. 

Sulit sekali mengemukakan semua tokoh yang dianggap terkenal dan mengemakalan teorinya secara eksplisit. Banyak ahli mengemukakan karyanya berdasar hasil pembahasan secara deduktif dan integra yang sangat baik dari bermacam-macam teori yang sudah sila. Apa yang akan dicoba diuraikan lebih menitikberatkan teori dan pandangannya mengenai perkembangan, lebih khusus lagi perkembangan anak, daripada bidang-bidang lain yang mungkin juga dikuasai. Misalnya uraian mengenai S. Freud akan lebih diarahkan untuk memperjelas teorinya mengenai perkembangan anak, daripada misalnya teorinya yang lain yang juga terlenal yakni mengenai struktur kepribadian atau mengenai tehnik



sistem motivasi sekunder yang didasarkan pada proses belajar yang di keluarga. Ad. It Tahap I Masa tingkah laku rudimenter. Sampai beberapa bulan sejak seorang bayi dilahirkan, pengalaman-pengalaman lingkungan belum secara terarah menimbulkan proses belajar pada bayi. Masa ini ditandai oleh kebutuhan kebutuhan dasar, seperti lapar, haus, sakit dan lain-lain yang dapat dikurangi ketegangannya dengan perbuatan. Apa yang di- perlihatkan oleh bayi masih sangat egosentrik dan nal keadaan sosial di lingkungan hidupnya. Lambat laun bayi merasakan adanya hubungan antara meredanya suatu ke kehadiran orang dewasa yang ada sekitarnya. Gerak-gerik atau perbuatan yang diperlihatkan menimbulkan ia waban yang menyenangkan. Jadi ada hubungan yang mulai didiran orang lain. Dengan kesenangan atau kenikmatan untuk mengulangi gerak atau perbuatan yang sama. Di sini mulai timbul hal belajar dari pengalaman. Kenya di kehidupan bayi sumber ke- orang lain di sini mempertahankan sikap dan perlakuan oleh mulai pada bayi. bahwa dalam perkembangan anak, terjadi doebut kesatuan tingkah laku yang timbal artinya selalu berada dalam interaksi sosial. Perkembangan ditandai oleh berkurangnya sikap "autism (menyen- 13diri atau menutup diri dan erak-g k atau rbuatan ter- perhubungan pusat untuk memenuhi kebutuhan dasar, sebaliknya ubungan sosial timbal  Gerak atau perbuatan terpusat pada pengadaan hubung betapa penan sosial. Dalam hubungan ini Sears kehidupan anak. Tokoh ting dan tokoh dalam kepada lingkung ibu dengan peranannya memperkenalkan anak ibu terda. an yang akan ditempuh Pada tokoh  pat banyak faktor latar belakang yang mempengaruhi dan yang bersangkut paut dengan bermacam-macam status yang dimiliki

Tahap Masa sistem Motivasi sekunder


Belajar terpusat di dalam keluarga Tahap ini dimulai kira-kira pada pertengahan tahun kedua sampai anak masuk sekolah. Sosialisasi mulai benar-benar terjadi Dorongan-dorongan untuk memenuhi kebutuhan dasar masih ada -doronga sedangkan tingkah laku yang didasari oleh dorongan kunder mulai banyak terlihat. Timbulnya rasa lapar tidak lagi sepenuhnya disebabkan oleh kontraksi lambung yang sudah k ng, melainkan oleh bunyi-bunyi yang ada ketika ibunya mempersiapkan makanan untukn Anak tidak lagi terlalu tergantung kepada ibunya atau lingkungan sosialnya,  kan sedikit demi sedikit mulai melepas ri mampu memenuhi kebutuhan dan kehendaknya sendiri dari hasil mempelajari sesuatu. Juga ketergantungan secara mulai dilepaskan, yakni pada saat-saat ibu mulai meandung lagi. 

Dalam melepaskan ketergantungan ini, sering terjadi perbedaan pada anak perempuan dan anak laki. Dari amatannya, Sears mengemukakan adanya kecenderungan pada anak perempuan lebih lama mempertahankan ketergantungan daripada anak laki-laki. Berkurangnya ketergantungan ini menumbuhlan perasaan bebas pada bersaing anak anak untuk memperoleh dengan dan ng sesuatu yang diinginkan dibutuhkan. Deadangan nya pembatasan-pembatasan yang a atau tidak sengaja diberikan kepada anak, maka timbul reksi frustrasi. Frustrasi ini mengakibatkan munculnya dorongan-dorongan agresif pada anak. Hukuman yang diberikan untuk mengatasi resifitas ini, justru sering menimbulkan masalah-masalah lain yang lebih kompleks. Hukuman yang diberikan tanpa memperiitungkan kesalahan dan perbuatan anak, justru akan menambah munculnya frustrasi yang baru. 

Hal lain yang penting oleh Sears pada masa ini adalah identifikasi. Terlalu kuat atau sebaliknya terlalu sedikit identifikasinya akan mempengaruhi kelancaran perkemIdentifikasi dimulai pada anak sekitar umur tiga tahun. Corak hubungan antara anak dengan ibunya akan mempengaruhi peroses identifikasi. Pada umur empat tahun anak laki-laki memindahkan indentifikasinya terhadap tokoh ayah, sementara anak- perempuan meneruskannya terhadap ibunya. melai menyadari perbedaan kelamin, identifikasi dengan jlamin yang sama dan mulai mengadakan sosialisasi melalui permainan-permainan. Sosialisasi meliputi komunikasi verbal maupun non-verbal dalam hubungan interpersonal dengan orang atau anak lain. Komunikasi non-verbal misalnya dengan gerak-gerik dari tubuhnya untuk mengungkapkan sesuatu. Semuanya masih terjadi dalam lingkungan keluarga, lingkungan rumah.

Masa sistem motivasi sekunder. Belajar terjadi di luar lingkungan rumah atau keluarga. Tahap ini dimulai ketika seorang masuk sekolah, dan siapntuk menerima sesuatu dari lingkungan di luar lingkungan keobyek kerergantungan tidak lagi terbatas pada orang tua tetapi lebih luas lagi, misalnya kepada guru. Pada mulanya anak mempergunakan pola-pola yang dimiliki ketika anak masih kecil. Lambat laun pola-pola ini berubah menjadi lebih rcalistilt sesuai dengan tuntutan-tuntutan lingkungannya, temansepermainan. Pola-pola yang positif akan diteruskan dan pola-pola yang negatif, setelah disesuaikan dengan ling-baru akan dihilangkan. B tidak menghilang, maka dia akan menetap sebagai bagian kepebadiannya setelah dewasa. Kemampuan anak untuk menguasa dan mengatur kebebasannya harus seimbang dengan keinginan nya akan kebebasan. Kalau ia bisa mengatur dirinya sendiri, ia juga akan bisa mengatur pengaruh-pengaruh teman lain terha dapnya. Lingkungan hidup menjadi makin jelas bagi anak tem. at kebebas untuk bertindak semau-maunya menjadi sangat an  serkurang. Batasan-batasan muncul dari lingkungan sosial, tidak lagi dari orang tua, tetapi dari guru, tetangga, atau orang dewasa lain yang berhubungan dengan dia. Pada umur lima tahun identifikasi terhadap tokoh jenis kelamin yang sama menjadi lebih jelas, khususnya orang tua. Dengan semakin luasnya hubungan sosial, identifikasi terhadap tmodel lain, termasuk teman sendiri yang sebaya bisa menjadi identifikasinya.


Lingkungan hidup yang baru dan lebih luas akan menumbuhkan nilai-nilai pribadi di dalam diri anak, di samping berkembangnya nilai sosial, agama dan nilai lain. Dari uraian Sears ini dapat dilihat jelas bahwa
 perkembangan anak adalah perkembangan seluruh kepribadian anak. Setiap leali anak bertingkah laku, setiap kali juga ia berkembang. Tingkah laku ini adalah hasil hubungannya dengan lingkungan sosial yang langsung tempat anak dibesarkan. Dalam hal ini peranan dan cara orang tua memperlihatkan sikap dan pola dalam pengasuhan anak penting
/* kode iklan */

jangan lupa iklannya diklik ya, to "Psikologi proses-proses belajar"

Post a Comment