11/12/2016T11/12/2016

Teori tentang Kekerasan Materi Sosiologi

/* kode iklan */
/* kode iklan */
6. Teori tentang Kekerasan

Untuk memperjelas pemahaman kita tentang kekerasan, perlu kita bahas teori-teori tentang kekerasan. Berikut teori tentang kekerasan.

a. Teori Faktor Individual

Menurut teori faktor individual, konflik dan kekerasan selalu berawal dari tindakan perorangan atau individual. Perilaku kekerasan adalah agresivitas yang dilakukan oleh individu atau kelompok, secara spontan maupun direncanakan. MacPhail mengatakan bahwa kerusuhan yang melibatkan banyak orang, sebenarnya dipicu oleh orang-orang tertentu saja. Perilaku individual itulah yang akan memengaruhi pihak lain untuk melakukan hal serupa. Oleh sebab itu, teori ini meyakini bahwa tidak semua orang dalam sebuah kelompok perusuh adalah pelaku.

b. Teori Faktor Kelompok (Identitas sosial)

Setiap individu akan bergabung dengan individu lain untuk membentuk kelompok. Kelompok ini akan mengedepankan identitas berdasarkan persamaan ras, agama, atau etnik. Pada saat berinteraksi, setiap kelompok akan membawa identitasnya masing-masing. Hal yang dapat memicu benturan antara identitas kelompok yang berbeda. Kondisi ini sering menjadi penyebab munculnya kekerasan. Berdasarkan pandangan itu maka muncullah teori faktor kelompok. Menurut teori ini, identitas kelompok yang sering dijadikan alasan kekerasan dan konflik. Bentuk kekerasan yang terjadi contohnya kekerasan yang dilakukan

Jika kita melihat realitas kehidupan, pengelompokan atas dasar agama, suku, dan organisasi yang diikuti sering terjadi. Oleh sebab itu, seseorang akan selektif memilih identitas sosialnya. Hal inilah yang akan memunculkan apa yang dinamakan dan out-group. Setiap kelompok akan menganggap kelompoknya yang paling benar, sedangkan kelompok lain dianggap salah (in-group favouritism bias)

c. Teori Dinamika Kelompok (Deprivasi Relatif

Teori dinamika kelompok menyatakan kekerasan timbul karena adanya deprivasi (perasaan telah diperlakukan tidak adil) relatif yang terjadi dalam kelompok atau Deprivasi merupakan perasaan bahwa seseorang atau sekelompok orang tidak mendapatkan sebagaimana seharusnya didapatkan. Kondisi itu terjadi karena perubahan yang terjadi dalam masyarakat tidak mampu ditanggapi dengan seimbang tem sosial dan masyarakatnya. inilah yang dapat memacu pergolakan social yang berujung pada kekerasan.

d. Teori Kerusuhan Massa

Teori memperkuat toori deprivasi relatif. Pada teori ini diungkapkan tahapan-tahapan munculnya kekerasan Penggagas teori ini adalah NJ, Smelser. Menurutnya, ada lima tahapan yang menyertai munculnya kekerasan ini, yaitu sebagai berikut

1) Situasi sosial yang memungkinkan timbulnya kerusuhan atau kekerasan akibat struktur saluran yang jelas dalam masyarakat, tidak sosial tertentu, seperti tidak adanya media untuk mengungkapkan aspirasi aspirasi, dan komunikasi antarmereka.

2) Kejengkelan atau tekanan sosial, yaitu kondisi karena sejumlah besar anggota masyarakat merasa bahwa banyak nilai-nilai dan norma yang sudah dilanggar. Berkembangnya prasangka kebencian yang meluas terhadap suatu sasaran tertentu. Sasaran kebencian ini berkaitan dengan faktor pencetus, yaitu peristiwa tertentu yang mengawali atau memicu suatu kerusuhan.

Baca juga:
  1. Bentuk-Bentuk Kekerasan Materi Sosiologi - Baru!!
  2. Definisi Kekerasan dan Syarat Terjadinya Kekerasan Materi Sosiologi - Baru!!
  3. Faktor Penyebab Kekerasan dan Karakteristik Kekerasan Materi Sosiologi - Baru!!
  4. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pola Penyelesaian Konflik Materi Sosiologi - Baru!!
4) Mobilisasi massa untuk beraksi, yaitu adanya tindakan nyata dari massa dan men organisasikan diri mereka untuk bertindak. Tahap ini merupakan tahap akhir dari akumulasi yang memungkinkan pecahnya kekerasan massa. Sasaran aksi ini bisa ditunjukkan kepada pihak yang memicu kerusuhan atau disisi lain dapat dilampiaskan pada objek lain yang tidak ada hubungannya dengan pihak lawan tersebut

5) Kontrol sosial, yaitu kemampuan aparat keamanan dan petugas untuk mengendalikan kecil kesituasi dan menghambat kerusuhan. Semakin kuat kontrol sosial, semakin mungkinan untuk terjadi kerusuhan

e. Teori Disorganisasi Sosial

Teori disorganisasi sosial memandang perubahan sosial dapat menimbulkan keretakan sosial, Meskipun demikian, perubahan sosial tidak mungkin dihindari. Bagi kaum perubahan sosial dianggap sebagai disorganisasi sosial, sedangkan kaum konservareformis memandang perubahan sosial sebagai reorganisasi sosial

f. Teori ideologi

Teori ideologi dikemukakan oleh T.R. Gurr. Menurut pendapatnya, kekerasan dipengaruhi ideologi. Jika kita melihat kekerasan yang sangat besar terjadi, mungkin saja hal itu oleh disebabkan oleh sekelompok kecil orang yang memiliki ideologi berbeda. Tidak jarang hal itu kita saksikan di media massa, bagaimana perbedaan ideologi memunculkan kekerasan

g. Teori Konflik Realistik

Teori konflik realistik dikemukakan oleh Sherif. Teori ini mengatakan bahwa konflik kelompok disebabkan perebutan berbagai sumber (resources). Seperti yang kita ketahui bahwa sumber ekonomi dan kekuasaan memang terbatas atau langka. Oleh karena keterbatasannya, maka setiap individu atau kelompok akan bersaing untuk mendapatkan atau menguasainya. Persaingan yang terjadi akan memunculkan salah satu pihak sebagai pemenang dan pihak lain yang kalah. Akibat persaingan yang bersifat winlose orientation tidak jarang berujung pada perilaku kekerasan. Selain itu, perilaku kekerasan dapat terjadi karena pertentangan nilai dan keyakinan di antara mereka.

h. Teori Frustrasi-Agresi

Teori frustrasi agresi dikemukakan oleh Dollard. Teori ini mengatakan bahwa frustrasi karena terhalangnya suatu tujuan akan menyebabkan kekerasan yaitu intensi untuk menyakiti orang lain. Ilustrasi yang dapat menggambarkan teori ini adalah sebuah tim sepak bola yang merasa dirugikan oleh wasit (kondisi frustrasi) akan melakukan pemukulan kepada wasit yang bersangkutan (perilaku agresi

i. Teori Cultural Lag

Teori cultural lag dikemukakan oleh William Ogburn sebagai modifikasi dari teori perubahan sosial. Cultural lag adalah perbedaan taraf kemajuan antara berbagai bagian dalam kebudayaan, atau ketertinggalan antara unsur kebudayaan materiel dan non materiel Penyebab timbulnya cultural lag yaitu sebagai berikut.

1) Kurangnya penemuan baru dalam sektor yang harus menyesuaikan dengan per- kembangan sosial

2) Adanya hambatan terhadap perkembangan pada umumnya

3) Heterogenitas atau keberagaman sikap masyarakat, yaitu kesiapan dalam menerima perubahan.

4) kurangnya kontrak dengan budaya materiel masyarakat lain

Tidak sinkronnya perkembangan suatu kebudayaan, di mana ada aspek yang berkembang dan ada aspek yang jauh tertinggal dapat menimbulkan masalah sosial. Aspek yang berkembang sangat cepat umumnya berkahtan dengan budaya materiel atau teknologi, sedangkan aspek yang tertinggal berhubungan dengan kebudayaan nonmateriel

Terimakasih telah membaca Teori tentang Kekerasan Materi Sosiologi
/* kode iklan */

jangan lupa iklannya diklik ya, to "Teori tentang Kekerasan Materi Sosiologi"

Post a Comment