8/02/2016T8/02/2016

Sejarah Berdirinya Candi Mendut

/* kode iklan */
/* kode iklan */
Sejarah Berdirinya Candi Mendut
Candi Mendut

1. Lokasi

Candi Mendut yang berada di ujung utara dari ketiga candi itu boleh dikatakan merupakan pintu masuk menuju candi Pawon dan candi Borobudur terletak di desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Pintu masuk Candi Mendut menghadap ke arah barat, sama dengan candi Pawon. Banyak pengamat belum bisa menebak misteri mengapa candi itu menghadap ke barat. Sampai sekarang hanya berupa praduga-praduga yang dihubungkan dengan asal usul pendirian candi, makna sesungguhnya belum dapat diketahui dengan pasti. Ada yang mengaitkannya dengan tempat kelahiran sang Buddha. Mungkin hal ini dimaksudkan untuk mengenang keberhasilan beliau dalam menyebarkan agama Buddha Arah Hadap pintu candi mungkin melambangkan harapan pembuatcandi akan tempat di mana sang Buddha pertama kali menerima wahyu, di Taman Kijang Pendapat yang demikian itu akan memberikan pegangan serti arah hidup bagi pemeluknya pada saat menjalankan upacara keagamaan. 
wikipedia.org

Para ahli purbakala sampai sekarang belum sependapat tentang masa pendirian candi Ada yang mengatakan candi Mendut dibangun pada masa pemerintahan Raja Indra dan dinasti Cailendra pada abad ke-8 atau ke-9 Namun ada yang berpendapat candi Mendut didirikan lebih dahulu dari candi Borobodur dan sebaliknya. Hal ini menunjukkan ketidakpastian karena belum ditemukan tulisan atau prasasti yang menyebutkan tentang berdirinya candi tersebut Menorit sejarah, sekitar lahun 1836 seluruh bangunan candi Mendut diketemukan kecuali bagian ataptiya Candi tersebut ditemukan dalam keadain terlumbun semak belukar, mungkin akibat letusan Gunung Merapi atau gempa bumi Candi tersebut lama baru dapat diketemukan, itupun secara tidak sengaja Hal ini dapat dimaklumi karena penebaran penduduk yang belum merata mungkin pula karena terbatasnya

jumlah penduduk yang mendiami lokasi tersebut Hal itu bisa pula terjadi karena struktur tanah yang kurang subur. sehingga daerah enebut dianggap kurang menguntungkan untuk dijadikan pemukiman Setelah candi itu dapat ditampakkan dan pencarian utu-batuasli sudah buiiyak yang dapat diketemukan kembali meskipun belum selu pada tahun 1887 diadakan unuhnya baikan, baik pada tubuh maupun kaki candi Hasil perkan tersebut boleh dikatakan belum sepeni yang dihaaplan karena berbagai hambatan yang dialami pada masa

itu Kemudian oleh van Erp, pada tahun 1908 perbaikan candi Mendut dilanjutkan lagi bersamaan dengan candi Borobudur yang juga sedang diperbaiki Perbaikan kedua candi itu ternyata tidak bisa berjalan dengan lancar dan mendapat kendala, sehiagga tidak dapat dilanjutkan Kemdalanya adalah tidak tersedianya dana pada waktu itu. Hal dapat dimaklumi karena bangsa merlukan dana yang tidak sedikit untuk menyelamatkan bangsanya, apalagi bangsa Indonesia sedang berjuang untuk merebut kemerdekaan dari tangan kaum penjajah. Setelah kurang lebih 38 tahun, maka pada tahun 1925 perbaikan candi Mendut dilanjutkan

2. Susunan dan Relief Candi
wikipedia.org

Susunan candi Mendut sama seperti candi lainnya, yaitu terdiri dari kaki, tubuh dan puncak atau atap. Pada kaki candi Mendut terdapat selasar atau jalan untuk mengelilingi candi Selasar itu dibuat agak lebar, disediakan bagi para pengunjung yang mengitari canditersebut, sehingga mereka dapat bersama-sama melihat dari dekat. Selain itu, kaki candi dihiasi dengan omamen-omamen yang dilukiskan pada bidang-bidang yang berjumlah 31 buah. Ornamen yang dipahatkan pada setiap bidang bermotifkan bunga. Pahatan menonjol yang berbentuk bunga teratai masih baik keadaannya. Selain itu dipahatkan pula bentuk sulur-suluran yang kelihatan indah dan masih baik pula Tubuh candi juga penuh dengan berbagai hiasan, baik binatang, bunga, maupun arca arca yang semuanya mempunyai maksud maksud Tersendiri. Pada sebelah kanan pintu masuk ke bilik atau ruang candi terdapat relief Kuvera/Yaksha Panchika/Atavika. 

Dalam relief itu ia digambarkan sebagai figur seorang laki-laki yang dikelilingi anak-anak Pakaian yangdikenakannya menunjukkan ciri-ciri seorang bangsawan. Ia duduk di atas tempat yang ditinggikan dengan kaki sebelah kanan berada di bawah tangan serta tangan kanannya terletak di atas lutut kaki kanan Anak-anak digambarkan sedang bermain-main dan memanjat pohon dan ada yang sedang memetik buah. Di bawah tempat duduk laki-laki tersebut terdapat kendi-kendi yang penuh dengan uang (Kendipenuh dengan uang adalah salah satu atributdari dewa Kuvera dewa kekayaan.) uvera yang juga dikenal dengan sebutan Yaksha Panchika atau Atavika ini pada awalnya adalah seorang yaksha atau raksasa yang gemar memangsa manusia, tetapi setelah bertemu dengan sang Buddha ia bertobat dan berubah menjadi pelindung anak-anak. Kisah tersebut sama dengan Hariti, karena dikisahkan Hariti dan Yaksha Panchika adalah pasangan suami isteri. Di sebelah kiri pintu masuk menuju ke bilik atau ruang candi terdapat relief Haritisedang duduk sambil memangku anaknya. 

Di dalam relief itu ia digambarkan sebagai seorang wanita yang memakai busanadan perhiasan khas bangsawan Di pangkuannya duduk seorang anak kecil Disekelilingnya terdapat anak-anak yang bermain-main, memanjat pohon. dan memetik buah. Dalam mitologi agama Buddha, Hariti adalah seorang raksasa atau yaksha yang gemar makan daging manusia, terutama anak-anak. Setelah bertemu dengan sang Buddha ia bertobat dan berubah menjadi pelindung anak-anak dan kesuburan. Figur pelindung anak-anak dan kesuburan di Bali juga ada dan dikenal dengan nama MenBrayur (Fertiliry Goddes Pada tubuh candi sebelah selatan terdapat relief Bodhisattva Avalokitesvara dan raktinya, Dewi Tara. Relief Avalokitesvara digambarkan pada bagian tengah panel. duduk di atas padmasana. Di samping kanan dan kirinya dudukçaktinya atau istrinya, yaitu Dewi Tara. Di bawah panel ada gambar kolam atau danau yang banyak ditumbuhi bunga teratai. Dalam mitologi agama Buddha relief ini mengandung cerita kelahiran dewi Tara di dunia. Sang Bodhisattva Avalokitesvara terharu dan sedih melihat kesengsaraan manusia di dunia. 

Ia meneteskan air matanya yang kemudian berubah menjadi sebuah kolam atau danau yang penuh dengan bunga teratai. Di atas daun dan tangkai bunga teratai tersebut kemudian muncullah Dewi Tara, yang menolong manusia dari kesengsaraan di dunia Relief yang menghadap ke timur pada tubuh candi Mendut yaitu relief Bodhisattva. Pada relief tersebut Bodhisaltva digambarkan berdiri di atas tempat yang ditinggikan dengan memakai busana bangsawan, di belakang kepala nya terdapat prabha atau sinar kedewaan dan bertangan empat. Tangan kiri sebelah belakang digambarkan memegang kitab, tangan kanan sebelah belakang memegang tasbih, kemudian di depan sebelah kiri terdapat tangkai bunga lotus yang keluar dari dalam kendi air (kamandalu) Pada tangan sebelah depan menggambarkan sikap vara Pada tubuh candi di sisi utara dipahatkan relief tentang Dewi Tara atau Cunda. Pada relief ini Dewi Tara digambarkan sedang duduk di atas tempat yang ditinggikan. disebelah kanan kirinya digambarkan dua figur laki-laki. Dewi Tara atau Cunda digambarkan dengan atribut sebagai berikut:

mempunyai 8 tangan: 4 tangan sebelah kiri memegang ranka, wajra, cakra, dan tasbih, 4 tangan sebelah kanan memegang sebuah mangkok, kapakang kusa (tongkat pawang gajah), dan kitab Mempunyai prabha atau sinar kedewaan di bagian belakang kepalanya. Busana yang dikenakan menunjukkan ciri seorang bangsawan. Dua figur laki-laki yang mengapitnya berbusana bangsawan Disebelah kanan pintu masuk candi Mendut dipahatkan relief Sarvanivaranaviskhambi. Pada relief tersebut  Sarvanivaranaviskhambi digambarkan dengan posisi berdiri di bawah sebuah payung Busana yang dipakainya adalah busana bangsawan, di bagian belakang kepalanya Tentang atap candiMendut bagian-bagian yang nuntuh banyak yang hilang dan belum ditemukan kembali. Atap candi itu terdiri dari tiga tingkat yang ditutup dengandagab yang besar. Bagian-bagian yang kelihatan nasib baik dan terletak pada posisinya serta belum berubah

3. Arca dalam Bilik Candi


wikipedia.org
Apabila memasuki ruangan atau bilik candi Mendut, kita akan melihat 3 buah area yang masing-masing mempunyai ukuran berbeda Arca itu masih kelihatan baik dan belum rusak Area yang menghadapke arah baraladalaharca Buddha Çaky amuni, Posisi arca Buddhaçakyamunitersebutduduk. kedua kaki menjulurke bawah dan sikap tangannya diam acakramudra yang melambangkan sedang memutar roda undang-undang. Dalam hal ini sang Buddha dilukiskan sebagai cak yamuni yang sedang mengajar Untuk memberikan tekanan akan maksud itu, pada sang Buddha dilukiskan roda ajaran di tengah kijang-kijang dari readawa di Benares, tempat sang Buddha memberikan ajaran duniawi yang pertama pada waktu matahari mencapai tempatnya yang tertinggi di angkasa. 

Çakyamuni dalam alaman hidupnya disamakan dengan mitos cakrawarin, dengan mahapurusa, dengan Brahma Narajana, dengan Wisnu kuning keemasan yang amat subur, pemegang roda matahari. Dalam legenda Buddha roda ajaran,rodapenitisan atau roda reinkamasi Buddha Çakyamuni dinyatakan pula sebagai Manjusri, Buddha Suci, yang dianggap Tuhan. Di sebelah kanan arca Buddha, terdapat arca yang masih utuh sedang duduk di atas lotus menghadap ke selatan, yang dinamakan arca Bodhisattva Avalokitesvara. Arca Bodhisattva Avalokitesvara mempunyai ciri-ciri bersikap duduk, kaki kanan menjulur ke bawah dan ditempatkan pada bantalan lotus kecil, lonjong, kaki kirinya dilipat kedalam, telapak tangan menyentuh bagian paha kanan Cara duduk arca ini berbeda dengan sang Buddha, yang kedua kakinya menjulur ke bawah. 

Leher arca ini dihias dengan kalung mutiara rangkap, dihiasi selempang yang menggelantung dari bahu kanan ke bawah dan disimpulkan di dada serta diikat ke belakang. Selain itu dilengkapi dengan hiasan lainnya, yaitu kelat bahu bermutiara, gelang serta hinggel yang mempunyai arti tersendiri atau mungkin untuk menambah keindahan Kain penutup paha diikat dengan ikat pinggang berceplok di tengah Tangan kanan terbuka diletakkan di paha dalam sikap varamudra, tangan kiri Arca yang menghadap ke arah utara atau di sebelah kiri Sang Buddha adalah arca Bodhisattva Vajrapani. Posisi tangan arca Bodhisaltva Vajrapani ini adalah simhakarna-muddra, yaitu semacam vitarkurmudra denganjari-jari tertutup. tangan kiri dalam sikap luwes dan tidak menunjukkan ketegangan Area ini memakai kirita makuta. Hiasan lainnya seperti kalung, kelat bahu, gelang, binggel sama indahnya seperti hiasan pada Avalokitesvara. Pada bahu kiri melilit upawita ke bawah. Duduknya seperti Avalokitesvara, kaki kirinya dijulurkan ke bawah dan diletakkan di atas bantalan lotus kecil lonjong Kaki kanan dilipat dengan telapak kaki menyentuh paha. Arca yang berada dalam bilikcandi semuanya memakaiprabha.

Di samping itu di bagian bawah sebelah kanan kiri tempat duduk terdapat hiasan makara, yang disangga oleh singa jantan berdiri tegak. Di situ terlihat juga gajah sedang menderum. Singa dan gajah merupakan perlambang dunia kebuddhaan. Penutup Daerah sekitar candi Borobudur Pawon dan Meodut dahulu merupakan kawasan kerajaan kuno yang sangat besar. Ternyata pada zaman itu telah dikenal teknologi tinggi dan boleh dischutsudah mengalami suatu peradaban yang tinggi. Adanya bukti berupa peninggalan bangunan yang besar lagimegah pada abad ke-8 dengan gayaarsitektur yang indah, memberi kesan bahwa para leluhur tolnh memiliki teknologi canggih dalam seni bangunan.
wikipedia.org

Hal ini sekaligus menandai kejayaan serta kemakmuran masyarakat Jawa Kuno pada umumnya Sayang sekali saatini kitahanya dapat melihat sebagian hasil karya para leluhur yang tersisa, namun masih ada kesan seolah-olah bangunamitu tidak akan runtuh sepanjang masa. Ada pula yang tinggal sisa-sisa atat fondasi dari bangunan, baik yang dibuat dari batu andesit maupun batu merah Sedangkan peninggalan yang terbuat dari bahan selain batu, yang mempunyai nilai seni tinggi ielah lenyap. entah dimakan usia atau dirampas orang-orang yang tidak bertanggung jawab demi kepentingan pribadi. Bilamana puing-puing yang tersisa masih kita miliki dalam keadaan lengkap dan utuh maka setidak-tidaknya akan diperoleh gambaran tentang model tata kota kuno, kehidupan sosial budaya dan kehidupan ekonomi serta teknologi pada zaman tersebut.

Dari sejumlah peninggalan kuno berupa candi yang tersebar di daerah Borobudur, dapat diketahui bahwa dahulu warga masyarakat setempat telah berhasil mengembangkan dan menerapkan teknologi canggih untuk membangun candi besar dengan gaya arsitektur tinggi. Keindahan relief yang dipahatkan, baik pada kaki, tubuh maupun atap candi mempunyai makna. Hal ini menandakan bahwa masyarakat pada waktu itu sudah mempunyai kemampuan serta pengetahuan tinggi sehingga dapat mengekspresikan dalam bentuk relief yang indah. Bangunan yang berdiri sarat dengan makna yang telah tertimbun tanah berabad-abad lamanya seperti candi Borobudur, Pawon dan Mendut sampai sekarang belum dapat dipastikan kapan didirikan dan siapa pendirinya. Sementara sumber-sumber atau prasasti yang dipakai sebagai dasar untuk menentukan kapan, di mana, untuk siapa dan raja yang memerintah belum mampu memberikan keterangan secara lengkap. Itulah salahsatu keunikan dari sekian permasalahan dalam mengungkap sejarah kuno.
/* kode iklan */

jangan lupa iklannya diklik ya, to "Sejarah Berdirinya Candi Mendut"

Post a Comment