8/02/2016T8/02/2016

Sejarah Berdirinya Candi Borobudur

/* kode iklan */
/* kode iklan */
Sejarah Berdirinya Candi Borobudur
Pendahuluan

Di dataran tinggi sekitar bukit Menoreh, yang terletak 90 di sebelah barat laut Yogyakarta dan termasuk Propinsi Jawa Tengah, berdiri bangunan megah peninggalan agama Buddha. Bangunan tersebut merupakan saksi bahwa daerah itu pada abad kedelapan berperan penting dalam sejarah perkembangan agama Buddha Indonesia. Ma agama Buddha menyebabkan teradinya perubahan dalam susunan masyarakat maupun perilaku kehidupan pada zaman tersebut Sebelum agama Buddha berkembang penduduk masih percaya kepada hal-hal yang bersifat mistik. Mereka masih percaya kepada para leluhur, karena dianggap dapat mem- berikan perlindungan dan keselamatan. Namun, dengan berkembangnya agama Buddha secara bertahap masyarakat mulai mengikuti ajaran agama tersebut. Oleh karenanya, berkembang pula sistem budaya dan sistem sosial, seperti yang diajarkan oleh para penyiar agama Buddha. Selain sistem budaya dan sistem sosial, perkembangan tersebut di ikuti pula oleh adanya pusat-pusat pemerintahan.


Pada masa itu, kehidupan masyarakat mulai berubah karena pengaruh peradaban Buddha. Meskipun bisa dikata- kan kehidupan masyarakat sebagian besar telah mendapat pengaruh dari Buddha, masih ada sebagian yang masih mempertahankan kepercayaan aslinya. Mereka masih menjalankan tradisi-tradisi yang diwariskan oleh para leluhur. Mereka tidak begitu saja menerima agama baru dan segala ajarannya karena mempertimbangkan aspek bu- daya mereka. Hal itu sangat penting, karena merekakhawatir pihak-pihak yang tidak mau menerima agama baru akan meninggalkan daerahnya dan pergi ke tempat lain yang di- anggap aman dari pengaruhagamatersebut. 

Oleh karenanya, perkembangan agama Buddha pada masa itu juga berusaha memasukkan unsur-unsur tradisi masyarakat Dalam perkembangan agama Buddha, banyak candi yang didirikan sebagai pemujaan, antara lain candi Borobudur, Pawon, dan Mendut. Borobudur Pawon Mendut (dikutip dari Yazir M & Toeti Heraly. Borobudur, Jkt Djambatan, 1987, hlm vi Candi Borobudur, yang menjadi salah satu kebanggaan bangsa Indonesia sampai sekarang tahun berdirinya masih belum bisa dinyatakan dengan tegas. Ada yang berpendapat candi itu didirikan sekitar tahun  M. oleh Raja Sama rotungga. Di antara para ahli purbakala sendiri masih ada perbedaan pendapat mengenai kapan berdirinya candi tersebut, karena sampai sekarang belum berhasil diketemukan prasasti yang menyebutkan secara tegas kapan candi tersebut dibangun. 

Demikian pula mengenai candi Pawon dan candi Mendut, belum ada petunjuk yang jelas kapan candi itu di dirikan dan oleh siapa. Sementara ada yang mengatakan candi Mendut didirikan bersamaan dengan didirikannya candi Borobudur, yaitu sekitar 800 M Karena lapuk dimakan usia dan lama terkena sengatan sinar matahari dan curahan hujan, akibatnya bangunan ter- sebut menjadi rusak. Pada tahun 1948, di tengah gejolak revolusi fisik, pemerintah Indonesia mengundang dua arkeolog India untuk meneliti kerusakan candi Borobudur. Kemudian pada tahun 1955 pemerintah Indonesia mengajukan permintaan bantuan kepada UNESCO untuk menyelamatkan berbagai candi di Jawa dan Bali. Selanjutnya pada tahun 1960, pemerintah Indonesia mengumumkan Borobudur dalam keadaan darurat Banu pada tahun 1963. pemerintah Indonesia melakukan upaya awal untuk menyelamatkan candi Borobudur dari kerusakan. 

Dengan bantuan para ahli dari luar negeri, pada tahun 1973 pemugaran fisik candi Borobudur dimulai. Dalam pemugaran ini peralatan mo dern mulai digunakan, termasuk komputer Akhirnya, pada bulan Februari 1983 pemugaran candi Borobudur selesai dan diresmikan oleh Presiden Soeharto Candi Pawon diketemukan pada akhir abad ke-19 da lam keadaan rusak tertimbun semak semak belukar dan mulai diperbaiki pada tahun 1903. Candi Mendut juga mengalami pemugaran yang dilaksanakan sejak tahun 1897 sampai 1904. Kemudian dilanjutkan lagi oleh Van Erp pada tahun 1908. Metode yang dipakai dalam penulisan buku ini adalah studi kepustakaan, yang berkaitan dengan objek budaya yang akan diteliti. Selain itu, juga dengan studi lapangan, meliputi observasi langsung dan wawancara. Observasi di lakukan dengan peninjauan, pengamatan, dan pencatatan langsung; sedangkan hasil wawancara diperoleh dari tanya jawab dengan nara sumber tentang objek budaya yang di- teliti. Data yang terkumpul kemudian diolah dengan metode deskripsi analisis secara kualitatif

Candi Borobudur

1. Lokasi Situs dan Lingkungannya

Secara administratif candi Borobudur terletak di desa Borobudur, Kelurahan Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah. Berdasarkan astronomis, candi ini berada pada l 12'29,7 I" bujur timur 07 36 24,58" lintang selatan pada Meridian Jakarta, sedang ketinggiannya adalah 265 m dari permukaan laut. Di candi Borobudur dan kawasan sekitarnya, suhu rata-rata bulanan selalu di atas 20 C, yaitu rata-rata minimum bulanan 21.1 C dan maksimum 32,8 C Curah hujan rata-rata dalam setahun lebih dari 2000 mm Candi Borobudur yang dibangun di atas bukit, dan dikelilingi oleh gunung-gunung yang menjulang tinggi seperti Pegunungan Menoreh, bing. Sindoro, Merbabu dan gunung Merapi, dengan dilalui sungai Progo dan Elo oleh para nenek moyang diumpamakan sebagai kuil kunjarakliijadeça di India Selatan. Dari hasil penelitian tanah dasar candi Borobudur, oleh Departemen Geologi Institut Teknologi Bandung diketahui bahwa candi ini dibangun diatas bukit yang sebagianbesar lapisantanah- nya merupakan tanah urug, yang berupa lempung pasiran. pasirlepas dan pecahan-pecahan batuan desit yang bersudut. Sebelum tahun 1980, lingkungan candi Borobudur merupakan suatu kawasan yang padat dan tidak teratur sama sekali, dengan adanya pemukiman penduduk, pertokoan, pasar, perkantoran, sekolahan, hotel dlsb. Keadaan yang tidak teratur itu secara langsung maupun tidak langsung akan mengurangi keagungan dan keindahan candi Boro- budur. 

Dalam upaya pemeliharaan bangunan beserta lingkungannya, pemerintah membentuk suatu lembaga yang bernama PT Taman Wisata Candi Borobudur & Prambanan. Lembaga ini lahir berdasarkan suatu kesadaran budaya, yang menyangkut masalah penyelamatan, pengamanan, serta pelestarian peninggalan sejarah dan warisan budaya Selain itu, sebagai sumber inspirasi, unsur kebanggaan nasional dan pemanfaatan warisan budaya, antara lain supaya dikenal dan dikagumi para pengunjung. Untuk mewujudkan harapan itu, maka dibangunlah fasilitas-fasilitas pendukung seperti museum arkeologi. perkantoran, restoran, taman kios suvenir, pusat penerangan, pusat penelitian Borobudur, pusat konservasi batu dlsb Pola induk (Master Plan) candi Borobudur pada dasarnya dibagi 5 zone yaitu:

Zone 3 Daerah Pemukiman
Zone Daerah yang masih diawasi
Zone 5 Daerah yang dimungkinkan masih ada tinggalan arkeologi

Kawasan taman candi Borobudur terletak pada zone 2 dengan luas kurang lebih 87 hektar Di dalam zone 2 ini dibangun berbagai fasilitas yang menunjang kepariwisataan pemeliharaan bangunan dan penelitian arkeologi. Di dalam,kawasan zone 3 ditempati pemukiman penduduk, jalan-jalan, hotel, pertokoan dan perkantoran.

2. Penamaan Borobudur

Bangunan kuno yang berupa candi, dapat disebut dengan beberapa cara, antara lain atas dasar legenda masyarakat di sekitarnya, misalnya candi Loro Jonggrang di Prambanan. Candi dapat dinamakan sesuai dengan yang disebutkan dalam prasasti, misalnya candi Kalasan. Penamaan candi juga dapat didasarkan atas nama desa di mana candi itu berada, misalnya candi Sambisari. Kemungkinan terakhir, candi dinamakan berdasarkan kejadian pada waktu bangunan itu ditemukan, misalnya candi Batu Miring di Mlati, Sleman, karena sewaktu ditemukan batu-batu candinyadalam kondisi miring atau roboh candi Tikus di Jawa Timur sewaktu ditemukan dihuni oleh tikus dalam jumlah banyak, sehingga penduduk setempat menyebutnya candi Tikus. 

id.wikipedia.org

Suatu keanehan, bahwa penamaan candi Borobudur masih menjadi pertanyaan. Kata Borobudur yang dipakai untuk penyebutan bangunan kuno yang termasuk 8 keajaiban dunia itu dari mama asalnya? Masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar candi Borobudur menceritakan bahwa pada zaman dahulu di sekitar candi Borobudur tumbuh dengan suburnya pohon budur yang diartikan sebagai pohon bodhi atau pohon kehidupan. Bagi masyarakat desa, khususnya di sekitar candi Borobudur, istilah yang lazim dipakai adalah budur untuk penamaan bangunan suci tersebut. JL Moens dalam artikelnya yang berjudul Borobudur Menduren Pawonen hun onderlinge samen ll mengartikan istilah budur dengan kota Buddha. Dalam kitab Nagarakrtagama karya Empu Prapanca, 1365 M, disebutkan adanya bangunan suci agama Buddha dari aliran Wajradhara dengan sebutan budur. Sampai saat ini kata budur hanya dipakai oleh masyarakat pedesaan yang bertempat tinggal di wilayah Borobudur, seperti desa Bumisegoro, Mendut, Candirejo, Tingal, Muntilan, Mungkid, Barepan, Uligudan, Kelon, Kurahan, Ngaran, Cawang sari. Brojonalan, Gopalan, Sabrangrowo. Janan, Bogowati dan Tanjungsari. 

Oleh karena itu, kata budur yang disebut dalam kitab Nagarakrtagama diperkirakan adalah candi Borobudur. J.G de Casparis ahli prasasti yang antara lain mengupas prasasti Cri Kahulunan, 842 M, menemukan sepotong kalimat yang berbunyi Kamulan i Bhumisambhara. Kata kamulan berasal dari kata Sanskrta mula yang berarti akar, asal, tempat suci atau dapat pula diartikan sebagai kuil nenek moyang. Sedang katabhumisambharaberarti timbunan tanah, bukit atau tingkat tingkat bangunan yang diidentikkan dengan sebutan candi yang bernama Borobudur. Dengan demikian, kamulan i bhumi sambharamempunyai arti sebuah kuil nenek moyang dari dinasti Çailendra di Borobudur Lain lagi Poerbatjaraka, seorang putra bangs pendapat Indonesia yang dalam bahasa Jawa Kuno. Ia mengatakan bahwa borobudur berasal dari kata biara (tempat suci atau kuil) dan bidur yang berarti tempat tinggi. Maka arti kedua kata tersebut menjadi kuil yang berada di tempat yan tinggi.

3. Riwayat Penemuan
id.wikipedia.org
Dalam khazanah sejarah budaya bangsa Indonesia candi Borobudur merupakan salah satu bukti penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat canggih. Ba- ngunan besar, kokoh dan megah dari abad ke-8, dengan gaya arsitektur yang sangat rumit dan menakjubkan itu tentu saja menjadi primadona pada zamannya, sekaligus sebagai tanda kejayaan dan kemakmuran masyarakat Jawa Kuno pada masa itu. Namun demikian, berapa lama kebe- saran, kejayaan dan kemakmuran itu berlangsung, belum ada bukti-bukti yang dapat dijadikan petunjuk Dari data prasasti, candi-candi dan tinggalan arkeologi lainnya diperoleh berita bahwa pada pertengahan abad ke-7 sampai pertengahan abad ke-10, wilayah Jawa Tengah di bawah kekuasaan dua dinasti, yaitu dinasti Çailendra dan dinasti Sanjaya. Kedua dinasti tersebut membangun ber- puluh-puluh candi di wilayah Jawa Tengah, antara lain candi Dieng, candi Gedong Songo, candi Borobudur, candi Prambanan, candi Sewu, candi Plaosan, candi Kalasan dan Kraton Ratubaka. Selain itu, mereka juga mengeluarkan beberapa prasasti sebagai tanda peresmian sima (daerah perdikan), bangunan suci dan silsilah raja. Pada abad ke-10, kebesaran dan kemakmuran Jawa Tengah sudah tidak lagi terdengar gaungnya Demikian pula nasib candi Borobudur dan candi-candi lainnya, tidak diketahui lagi keberadaannya 450 tahun kemudian, secara akan adanya bangunan suci Buddha dari sekte Wajradharadengan sebutan bud agama Karena tidak ada budur lain, maka tontunya yang disebut dalam kitab Nagarakrtagama tersebut adalah candi Borobudur. 

Bagaimana keadaan dan fungsi candi Borobudur pada pertengahan abad ke-14 kita Nagarakragama tidak memberikan keterangan sedikit pun. Dalam Babad Tanah Jawi, pada tahun 1709 M diceritakan adanya seorang pemberontak terhadap kekuasaan raja Pakubuwono L dan tertangkap di Redi Borobudur. Pada bagian lain, Babad Tanah Jawi mengisahkan adanya seorang tokoh bernama  Mas Dana, menantu Ki Gede Pecukilan, yang mengadakan makar terhadap Raja Amangkurat lll yang berkedudukan di Kartasura. Dalam peperangan itu, Ki Mas Dana mengalami kekalahan dalam menghadapi pasukan Mataram yangdipimpin oleh Panglima Pringgoloyo. Karena kalah perang. Ki Mas Dana melarikan diri ke Bukit Borobudur, namun Panglima Pringgoloyo letap mengejar dan mengepung bukit Borobudur Akhirnya Ki Mas Dana tertangkap dan dibawa ke Kartasura untuk menjalani hukuman mati. Babad Mataram mengisahkan bahwa pada tahun 1757 Mputra mahkota kasultanan Yogyakarta, Pangeran Manca negara, mengunjungi candi Borobudur. Bagi keluarga ke rajaan berlaku pantangan unnuk melihat arca seribu. karena arca arcaitu menggambarkan seorang satriaterkurung dalam sangkar Pantangan itu diabaikan oleh sang Pangeran, bahkan ia ingin bertemu dengan satria yang terkunung itu Setelah pertemuan itu, sang Pangeran pulang ke istana Tidak lama berselang sang Pangeran jatuh salit dan akhimya meninggal dunia Sungguh suatu keanehan, bangunan yang didirikan pada abad ke-8 M itu tidak memberikan keterangan sodikit pun kepada generasi berikutnya. Sembilan abad lebih candi Borobudur diselimuti oleh masa kegelapan dan menimbul kan teka teki bagi para pengagumnya.

Baru pada tahun 1814 candi Borobudur muncul kembali dalam khazanah sejarah bangsa Indonesia Pada waktu itu Gubemur peme rintah jajahan Inggris di Indonesia, Sir Thomas Stanfor Rames yang sedang mengunjungi Semarang mendapat laporan tentang sejumlah besar temuan batu-batu berukirdi sebuah bukit yang termasuk dalam wilayahdesa Bumisegoro, Karesidenan Magelang Bukit yang banyak menyimpan batu berukir itu, oleh penduduk setempat, diyakini sebagai sisa-sisa bangunan candi yang disebut budur Setelah menerima laporan, Raffles kemudian memerintahkan asis tennya, Cornelius, untuk mengadakan penelitian. Cornelius adalah orang yang berpengalaman dalam menangani candi-candi di Indonesia. Tanpa membuang waktu sedikit pun, pada tahun 1814 Cornelius langsung mengunjungi dan mengadakan penelitian di candi Borobudur. Apa yang dilihat Cornelius pada waktu itu, adalah sebuah bukit yang ditumbuhi pohon-pohon rindang dan semak belukar yang lebat. Di sela-sela rerimbunan pohon itu, kelihatan batu-batu berukir, arca-arca lepas, bahkan ada batu-batu candi yang masih tersusun rapi, yang merupakan bagian dari sebuah bangunan. 

Pembersihan besar-besaran dilakukan oleh Cornelius denganmengerahkan tenaga kerja tidak kurang dari 200 orang. Pohon-pohon ditebang, semak belukar dibakar dan puing-puing batu dikumpulkan tersen- diri. Selama dua bulan pekerjaan pembersihan itu dikerjakan, mamun baru sebagian saja yang tampak Beberapa bagian dari bangunan yang telah tampak itu sudah runtuh sama se- kali, bahkan ada yang runtuhakibatpekerjaan pombersihan. Pekerjaan pembersihan seperti yang dilakukan oleh Cornelius dilaksanakan pula pada tahun 1817, 1825 dan Setelah itu candi Borobudur benar-benar tampak 1835 kembali secara keseluruhan Pekerjaan pembersihan menyeluruh itu atas inisiatif Hartman yang sejak tahun 1832 menjabat sebagai Residen Kedu dilakuka dalam ditemukannya candi Borobudu segera baik oleh pemerintah kolonial, pihak-pihak swasta dan para pengagum peninggalan purbakala. Pada masa itu upaya yang dilakukan masih terbatas pada pembuatan laporan, pemberitaan, pengambilan foto, penggambaran, penelitian dan penerbitan. Pada tahun 1845 didatangkan ahli foto dari Belanda yang bernama Schaefer, untuk mengabadikan relief-relief candi Borobudur, namun hasilnyabelummemuaskan. Empat tahun kemudian, tahun 1849, dikirim seorang ahli juru gambar bernama Wilsen, untuk membuat gambar-gambar relief dan struktur bangunan. Hasilnya, tidak kurang dari 476 gambar bagian bangunan dan relief dapat diselesaikan dengan baik. Berkat kerja keras dan ketekunan Wilsen, beberapa catatan dan uraian tentang candi Borobudur dapat diselesaikan. 

Demikian pula Brumund, yang ditugaskan membuat catatan tentang candi Borobudur, dapat selesai pada tahun 1856. Baru pada tahun 1873 monografi candi Borobudur karya Laemans dapat diterbitkan, berkat jasa Wilsen dan Brumund. Pada tahun ini pula diutus seorang juru foto ke- namaan, yang bemama Van Kinsbergen, dengan tugas khusus yaitu mengambil sejumlah foto yang harus menggambarkan nilai keindahan dan mutu senipada candi Borobudur, Hasil publikasi yang masih sederhana itu menjadikan candi Borobudur terkenal di seluruh dunia, khususnya di daratan Eropa. Kemasyhuran ini bukan saja hasil publikasi yang menggebu-gebu, akan tetapi berdasarkan kenyataan bahwa candi Borobudur merupakan hasil seni bangunan dan seni ukir yang mempunyai kualitas tinggi. Pada tahun 1882 ada yang mengusulkan supaya candi Borobudur dibongkar seluruhnya, kemudian batu-batu, re-lief relief dan arca-areanya disimpan di dalam museum. Sebagai tanggapan, dalam pelestariancandi Borobudur, ada yang mengajukan pendapat untuk membangun spa yung raksasa yang menaungi seluruh bangunan, supaya air hujan dan sengatan matahari dapat dihindari semaksima mungkin Sungguh sesuatu yang aib bagi candi Borobudur, di satu pihak berupaya bagaimana melestarikan bangunan dari bahaya kerusakan dan keruntuhan, sedang di pihak lain. khususnya pemerintah kolonial pada tahun 1896, me- mutuskan untuk menghadiahkan beberapa batu, relief dan arca-arca kepada raja Siam yang berkunjung ke Indonesia. Benda-benda yang dihadiahkan kepada Raja Siamituberupa 8 gerbong batu-batu candi Borobudur, 30 batu berelief, 5 arca Buddha, 2 patung singa dan beberapa batu kala, tangga dan gapura candi Borobudur Pada tahun 1900 dibentuklah suatu panitia yang bertugas mencari jalan untuk melestarikan candi Borobudur. Setelah bekerja selama 2 tahun, akhirnya panitia menyimpulkan bahwa ada tiga hal yang perlu segera ditangani dalam usaha menyelamatkan candi Borobudur, Pertama adalah mene- gakkan dinding-dinding yang sudah miring, memperkuat sudut-sudut bangunan yang sudah melesak, memperbaiki gapura, relung dan stupa. Pekerjaan tahap kedua adalah pemeliharaan, pengawasan dan pembenahan lantai lantai lorong serta pancurannya. Pekerjaan tahap ketiga adalah batu-batu lepas yang berserakan disingkirkan semua, pe-nampakan kaki candi dan melengkapi stupa induk. Baru pada tahun 1905 pemerintah Hindia Belanda menyetujui usul-usul panitia Borobudur dengan memberikan bantuan dana sebesar $1800, guna menanggulangi kerusakan dan keruntuhan candi Borobudur.

4. Riwayat Pemugaran
id.wikipedia.org
upaya melestarikan candi sejarah, pemerintah kemusnahan dan sebagai peninggalan  mengambil tindakan untuk memperbaiki dan memugarnya Pemugaran terhadap bangunan ini telah dilakukan dua kali, yang pertama dilakukan oleh Th. van Erp dari tahun 1907 sampai 1911. Pemugaran tahap kedua dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dengan bantuan UNESCO, dari tahun 1973 sampai 1983. Kedua tahap pemugaran itu mempunyai ciri-ciri khusus. Pemugaran pertama masih bersifat tradisional dengan menggunakan peralatan dan bahan yang sangat sederhana. Sedangkan pemugaran tahap kedua telah menerapkan teknologi modern, baik pemakaian peralatan, bahan maupun penerapannya Penerapan teknologi modern pada bangunan kuno baru pertama kali dilakukan pada candi Borobudur, sedang pemugaran untuk bangunan-bangunan kuno lain di Indonesia masih menerapkan sistem tradisional Pada bulan Agustus 1907. Th van Erp mulai melaksanakan pemugaran candi Borobudur, sesuai dengan tugas- tugas yang diberikan oleh Panitia Pemugaran Candi Borobudur saat itu. Selama tujuh bulan batu-batu lepas yan berserakan di sekitar halaman maupun di atas bangunan candi dikumpulkan dan dibersihkan. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat diperoleh gambaran struktur bangunan yang masih utuh sena bagian yang perlu dilengkapi dan diperbaiki Hasil pembenihan dan pengumpulan tersebut menambah keyakinan Th van Erp bahwa masih banyak pekeraan yang harus dilakukan, tidak hanya sekedar pengumpulan batu-batu lepas, namun juga penyusunan percobaan dan pemasangan kembali, Bam batu pagar langkan yang belum lengkap disempurnakan. Batu-batu relief yang sudah putus dipasang kembali ke tempat aslinya Saluran saluran air atau jaladwara dibersihkan dan diperbaiki Batu-batu gapura dipasang kembali dan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan pada bagian kaki, batur dan halaman candi. Pekerjaan pada bagian atas yang dilakukan antara lain: batu-batu batur bundar dan batu stupa yang runtuh di- bongkar, kemudian disusun kembali sampai kelihatan utuh.Batu-batu bagian stupa induk dilengkapi sampai bagian puncak demikian pula pagar langkan yang membatasi pelataran tingkat atas diganti dengan batu baru Untuk memperkuat stabilitas bangunan dikerjakan pula perkuatan lereng-lereng bukit, lantai keempat lorong bawah diberi beton, perbaikan saluran air yang menuju jaladwara sudut-sudut bangunan serta dinding yang melesak diberi penguat beton Pekerjaan Th. van Erp yang belum selesai adalah memperbaiki dinding dinding yang miring pada lorong lantai pertama, kedua dan beberapa stupa kecil di teras lingkar.

 Hal itu karena batu-batu belum ditemukan dan keterbatasan dana yang ada. Namun demikian, secara keseluruhan tugas-tugas Th van Erp telah berhasil dengan baik Selama kurang lebih 66 tahun candi Borobudur diawasi dan dipelihara secara saksama. Demikian pula masalah penelitian yang dilakukan oleh para ahli, dalam maupun luar negeri, dari berbagai disiplin ilmu semakin ditingkatkan. guna mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk penyelamatan dan pelestarian warisan budaya yang diakui dunia. Pada bulan Januari 1973 pemerintah Indonesia dan UNESCO menandatangani persetujuan untuk pemugara candi Borobudur secara keseluruhan Adapun rencana pemugaran itu meliputi Pembongkaran seluruh bagian ripadlatu, yaitu

1.       tingkat segi empat di atas kaki candi yang meliputi lebih dari satu juta potongan batu atau kurang lebih 29.000 m
2.       Pembersihan dan pengawetan batu-batu kulit yang sudah dibongkar sebanyak 170.000 potong atau kurang lebih 6.000 m

3.        Pemasangan pondasi beton bertulang pada masing-masing tingkat, termasuk pembuatan sistem saluran air pada konstruksi mencapai volume 4.000 m

4.        Pemasangan kembali batu-batu kulit yang sudah bersih dari kotoran dan jazad-jazad renik di tempat aslinya. Pada bulan Agustus 1973 secara resmi pemugaran candi Borobudur kedua dimulai. Pelaksanaan pemugaran dipercayakan kepada putra-putra terbaik bangsa Indonesia di bawah pimpinan Prof Dr R Soekmono. Dalam pemugaran kali ini segala faktor telah diperhitungkan secara masak, baik dari segi kekuatan konstruksi, ketahanan batu dalam menghadapi proses pelapukan dan segi arkeologis. Tahap pertama pemugaran diawali dengan pembongkaran batu-batu teras persegi secara serentak pada bagian utara dan selatan, dilanjutkan bagian timur dan barat Batu-batu hasil bongkaran diletakkan dalam palet dan diberi nomor, untuk kemudian diangkut ke ruang konservasi untuk di-bersihkan dari debu, kotoran dan jazad-jazad renik yang merusak batu, Pekerjaan tahap berikutnya adalah pembangunan kembali yang meliputi perataan dasar tingkat, pemasangan beton bertulang pada lantai, pembuatan sistem pembuangan air dan pemasangan kembali batu-batu candike tempat asal. nya. Akhirnya seluruh pekerjaan pemugaran candi Borobudur kedua selesai pada tanggal 23 Februari 1983. Ini berarti pekerjaan pemugaran berlangsung selama 10tahun. dan dapat menyelamatkan warisan budaya bangsa Indonesia yang mahabesar Arca-arca pada tingkat aripadharuditempatkan dalim stupa yang dindingnyaberlubang. Pada baturbundartingkat ke l terdapat 32 stupa, tingkatke 2 terdapat 24 stupa, yang semua dindingnya berlubang belah ketupat. Sedangkan pada tingkat ke-3 terdapat 16 stupa yang dindingnya berlubang segi empat. 

      Dengan demikian jumlah arca-arca yang ada dalam stupa berjumlah 72, sesuai dengan jumlah stupanya Dari 505 arca Buddha yang ada, lebih dari 300 arca dalam keadaan cacat. 50arcatanpa kepala, 13 area telah hilang dan 43 arca tinggal bagian kepala Sebagai manalazimnyapadabangunan-bangunancandi lainnya, relief maupun hiasan hiasan yang dipahatkan pada masing-masing tingkat candi Borobudur melambangkan kosmos, relief dan hiasan mewujudkan apa yang ada dialam semesta ini. Relief dan hiasan yang ada pada candi Borobudur menggambarkan kehidupan masyarakat sehari-hari, sehingga unsur-unsur khas Indonesia sangat menonjol, seperti adanya relief perahu bercadik, rumah panggung, bertani, peperangan, pertunjukan kesenian, mencari ikan, fauna dan flora. Pada candi Borobudur dipahatkan berbagai jenis hiasan yang dimulai dari bagian dasar sampai lorong keempat Gapura dihiasi dengan kala makara. Kala berupa kepalasinga terdapat dipuncak lengkung gapura, sedangkan makara (hewan mitologi berbadan gajah, bertandukkambing dan bertelinga sapi) terdapat di bagian bawah kedua sisi gapura Pada dinding da pagar langkan lorong-lorong terdapat relung dengan arca Buddha di dalamnya. Relung relung itu diberi mahkotastupa stupakecil, kecuali pada pagar langkan lorong pertama bermahkota rama (bangunan berbentuk permata dengan alas persegi), Hiasan hiasan yang bersifat dekoratif dipahatkan pula pada candi ini, yang meliputi: gelung, vas bunga, pohon kalpataru (pohon surga). hiasan antefik simbar. Selain itu terdapat relief yang menggam- khluk kayangan, seperti apsara dan Randama

 5.        Arsitektur dan Motif Hiasan 
id.wikipedia.org

Seperti candi candi lain pada umumnya, candi Borobudur melambangkan adanya alam semesta. Dalam kosmologi agama Buddha semesta ini dibagi menjadi tingkat. yakni kamadhatu (dunia keinginan). ruphadhatu (dunia berbentuk dan arupadhatu (dunia tidak berbentuk). Ketiga tingkat ini dibedakan dengan relief relief tertentu pada candi Borobudur. Padatingkatkamadhatudanrupadhatuterda. pat relief-relief yang melukiskan cerita-cerita dari naskah Karmawibhangga, Lalitavistara, Jalaka dan Gandaiyaha UPADHATU RUPADHATU KAMADHATU Denil i canili Borobudu Semua relief yang menceritakan kisah suci itu bila dibentangkan mencapai panjang 3 km. Adegan-adegan itu masing-masing dibin menjadi 1460 pigura, dengan diselingi oleh bidang-bidang pemisah yang menjadi bidang hias tersendiri dengan jumlah tidak kurang dari 1212 buah. 

Di atas deretan pigura itu terdapat semacam pelipit yang membujur, memanjang sejauh satu setengah kilometer dan dihias dengan rangkaian ukiran ceplok bunga teratai. Di atasnya lagi sepanjang pelipit, terdapat hiasan simbar yang berbentuk segi tiga sejumlah l 476 buah. Dari tingkat kama- dhatu sampai rupadharu terdapat 1472 stupa berdiri megah. dilengkapi dengan 432 arca Buddha yang mengitari seluruh penjuru mata angin. Pada tingkat terakhir terdapat 72 buah stupa yang melingkari stupa induk di puncak. Dalam pembangunan monumen yang mahabesar ini dibutuhkan potongan batu sebanyak dua juta, yang mencapai volume 55.000 m  stupa stupa pundak tingkat ampadihalu yang berlubang belah ketupatTingkat arupudiano (dunia tidak berbentuk alam atas) adalah tempat para dewa. 

Di candi Borobudur bagian ini digambarkan denganngaundak bulat, termasuk stupa induk tanpa pahatan relief sedikit pun. Bagian kanadiuatu yang sekarang tampak sebenamya bukan kaki candi yang sebenarnya (asli). Batu-batu polos yang banyaknya tidak kurang dari l 1.600m ,yang menutupi kaki asli bangunan candi Borobudur: adalah batu-batu tambahan yang menyangga tubuh candi ketika akan longsor sebelum pembangunannya selesai. Secara tidak sengaja, pada tahun 188 J. W Yzerman menemukan tembok bat bagian kaki bangunan yang asli. bagian ini terdapat 160 panel relief yang melukiskan cerita karmawiblangga (hukum karma). Dari pendapat para ahli teknik, diperkirakan candi Borobudur mulai longsor sebelum selesai dibangun, sehingga kaki aslinya harus segeraditutup dengan sejumlah potongan- potongan batu besar untuk mencegah terjadinyak elongsoran lebih lanjut Berkaitan dengan penutupan kaki candi Borobudur ini ada yang berpendapat karena alasan alasan keagamaan. Cerita pada relief Karmawibhangga melukiskan kehidupan di dunia dengan hukum sebab akibat, sehingga tidak sepantasnya dilihat para peziarah. Secara keseluruhan candi Borobudur adalah sebuah stupa. Stupa adalah salah satu bangunan tanda peringatan khusus agama Buddha Dalam bahasa Sanskrta, stupaberarti gundukan/timbunan tanah Menurut legenda, sebelum me- ninggal dunia sang Buddha ditanya oleh para muridnya, apakah yang dapat dilakukan terhadap tubuhnya setelah ia meninggal nanti. 

Dia menyuruh murid-muridnya untuk membakar tubuhnya, kemudian abunya dituup dengan stupa. Untuk menunjukkan bagaimana membangun stupa. sang Buddha melipat jubahnya, kemudian di atasnya diletakkan mangkuk terbalik yang berbentuk kerucul. Di atas mangkuk terbalik tersebut diletakkan tongkatnya secara tegak. Dengan demikian unsur-unsur dasar stupa meliputi dasar (prasadha), belahan bola (dagoh) dan puncak yati Secara keseluruhan candi Borobudur terdiri dari 10 tingkat yang semakin ke atas semakin kecil ukurannya. Tingkat ke-1 sampai ke-6 berdenah bujur sangkar, sedang tingkat ke-7 sampai landasan stupa induk berdenah bulat Candi ini seolah-olah berdiri di atas sebuah batur, yang ber denah bujur sangkar dengan ukuran 123 m x 123 m dan tinggi batur 4 m. Batur ini sebenarnya kaki tambahan yang menutupi kaki aslinya dengan ketebalan 7 sampai 8 m yang mengelilingi seluruh bangunan candi, sehingga lantainya menjadi selasar yang cukup luas. Pada tingkat tingkat berikutnya terdapat selasar lebar nya sekitar 2 m, sedangkan adanya tambahan pagar langkan pada sisi luarnya mengubah selasar menjadi lorong yang mengitari tubuh candi pada masing-masing tingkat Bagian aripadhatu berupa batur bulat bersusun tiga yang semakin ke atas semakin kecil ukurannya Perbedaan lebar lingkaran dari tingkat ke tingkat dijadikan tempat berdirinya stupa stupa yang masing-masing dinding berlubang segi empat dan belah ketupat. Pada puncak tiga batur bulat bersusun tersebut diletakkan stupa induk yang berukuran sangat besar, Stupa induk berdenah bulat, berdiameter 9,90 m, tinggi Bagi para pengunjung yang ingin menaiki candi Borobudur disediakan tangga batu, terletak pada bagian tengah dari keempat masing-masing sisi bangunan Tangganaikitu memotong lorong lorong pada setiap tingkat, sedangkan di tempat-tempat persilangan tersebut terdapat gapura yang diberi ornamen sangat indah Selain itu, pada tangga naik ini dilengkapi pula dengan 32 buah area singa, yang menjadi Salah satu arca singa pada kanan kin tangga naik di candi Borobudur arca penjaga pintu masuk di halaman maupun di pintu naik tangga Arca arca Buddha pada tingkat rupadhat terletak dalam relung yang terbuka bagian depannya. Arca tersebut digambarkan dalam posisiduduk bersila di atas dalam keadaan samadhi penuh Relung-relung pada tingkat ini disusun berjajar pada sisi luar pagar langkan. Sesuai dengan tingkat bangunan yang semakin tinggi letaknyadan semakin kecil ukurannya makapadalangkan tingkat pertama terdapat 10a relung, pada tingkat ke-2 terdapat 101 relun Jalad wara berbentuk singa pada candi Borobudur pada tingkat ke-3 terdapat 88 relung, pada tingkat ke-4 terdapat 72 buah, dan pada tingkat ke-5 terdapat 64 relung.

Dengan demikian jumlah relung ada 432 dan sebanyak itu pula jumlah arca di dalamnya. Sistem pembuangan air hujan pada candi ini sangat diperhatikan. Tidak kurang dari 100 pancuran. yang disebut jaladwara, ditempatkan pada masing-masing sudut mulai dari tingkat paling bawah sampai tingkat paling atas. Tiap ujung pancuran dihias indah sekali dengan pahatan-pahatan yang melukiskan kepala raksasa pada tingkat atas, dan makara pada tingkat paling bawah.

6, Pantheon-pantheon Utama
id.wikipedia.org

Latar belakang agama yang menjiwai candi Borohudur adalah Buddha Mahayana. Dalam agama Buddha Mahayana dikenal adanya beberapa tingkat kebuddhaan yang meliputt Dhyani Buddha, Dhyani Bodhisatava dan Manusi Bud. dha. Hubungan antara ketiganya dapat diuraikan sebagai berikut: Dhyani kan sebagai Buddha yang selalu dalam keadaan tafakur dan berada di langit Dengan daya emanasi (pancaran) Dhyani Buddha turunlah di dunia seorang Manusi Buddha yang bertugas
mengajarkandhama Tugas seorang Manusi Buddha berakhir setelah dia wafat Untuk memelihara ajaran Buddha di dunia, Dhyani Buddha kembali memancarkan lagi wakilnya yaitu yang disebut sebagai Dhyani Bodhisattva. Tugas Dhyani Bodhisattva baru berakhir setelah akhir zaman Dalam agama Buddha ada kepercayaan bahwa dunia ini tidak kekal, suatu ketika akan musnah dan kemudian muncullah zaman baru. Setiap zaman mempunyai rangkaian Dhyani Buddha Dhyani Bodhisattva Manusi Buddha sendiri Untuk zaman sekarang Dhyani Buddhanya Ami tabha, Dhyani Bodhisattvanya Avalokitesvara dan Manusia Buddhanya Çakyamuni. Dalam rangkaian dunia yang tidak terbatas jumlahnya lima dunia dan 5 tiga serangkai ini masing-masing dianggap menempati mata angin sendiri-sendiri

Arca arca Buddha yang terdapat pada candi Borobudur diletakkan pada relung-relung di atas pagar langkan, dalam stupa stupa berlubang dan tersembunyi di dalam stupa induk Arca-arca itu mempunyai posisi sendiri-sendiri. Arca Aksobhya terletak di tingkat l sampai4menghadap ke arah timur. Sikap tangannya bhumisparçamudra, yaitu telapak tangan kiri diletakkan di pangkuan menghadap ke atas dan telapak tangan kanan dengan jari-jari menunjuk ke bawah pada kaki yang bersila, menyentuh bumi, dan merupakan acuan kepada episode ketika Buddha meminta dewi bumi menjadi saksi atas ke- menangannya terhadap Mara yang berusaha menggagalkan usaha sang Buddha dalam menempuh jalan kebenaran Varan lidmi (Ibid blm Pada sisi selatan pagar langkan ungkat l sampai 4 ditempatkan arca Ratnasambhawa. Sikap tangannya varamudra, yaitu telapak tangan kanan menghadap ke atas diletakkan pada paha kanan jari-jari menunjuk ke bawah dan tangan kiri diletakkan di pangkuan, mengisyaratkan kedermawanan atau mengabulkan suatu permohonan Dhyanamudra Soinculhi ilii gururlan denemn silnp lingan ini, renka pardi risi barat Arca Amitabha menghadap arah barat, terletak pada pagar langkan tingkat sampai 4 Sikap tangannya dinya- namudra, yaitu kedua telapak tangan menghadap ke atas, diletakkan di atas pangkuan, mengisyaratkan ketika sang Buddha bermeditasi di bawah pohon bodhi. Dharmacakramudra Pemutaran Roda Dharma yang digambarkan dengan sikap angan ini melambangkan amanat pertama yang disampaikan Buddha buddha kelima menempati zenith.

Oleh karena itu, arca-arca Dhyani Buddha yang terdapat dalam relung pagar langkan tingkat 5 adalah Dhyani Buddha Wairocana, sikap tangan- nya vitarkamudra, yaitu meletakkan ibu jari kanan pada telunjuk, yang mengisyaratkan sikap berbincang-bincang atau memberi pengajaran. Vitarkamudra arah (Ibid blm 70) Sikaplangandharmacakramudra yang mengisyaratkan pergerakan roda dharma (ajaran), yaitu sikap tangan yang sedang menggerakkan sebuah rodadharma menggambarkan waktu sang Buddhapertama kali memberikan kotbah. Semua arca didalami stupa berlubang pada teras melingkar tingkat l sampai 10 mempunyai sikap dharmacakromudra Sedangkan sebuah area yang tersembunyi di dalain stupa berada dalam sikap bhumisparçamudra Karmawibhangga Relief Karmawibhangga secara tidak sengajaditemukan oleh Yzerman pada tahun tahun batu-batu kaki candi yang menutupi kaki yang asli sec bertahap dibongkar, dengan maksud untuk pendokumen tasian relief relief Karmawibhangga yang berjumlah 160 panel.

Baru pada tahun 1891 Kasijan Cephas, seorang ahli foto bangsa Indonesia, diserahi tugas untuk mengabadikan relief-relief Karmawibhangga. Hasil kerja Kasijan Cephas sangat baik dan jelas, meskipun mendapat kritikan dari NJ Krom yang mengatakan bahwa foto-foto hasil kerja Kasijan Cephas belum mempunyai nilai seni yang tinggi bila dibandingkan dengan pendahulunya. Relief Karmawibhangga terdapat pada teras kamadhatu atau lingkup nafsu yang semuanya ditutup oleh batur kaki candi yang sekarang, kecuali pada bagian sudut tenggara, masih ditampakkan beberapa panel sebagai bukti adanya relief Karmawibhangga. Karmawibhangga merupakan teks buddhis yang menggambarkan berlakunya hukum sebab akibat (karma) serta perbuatan-perbuatan yang baik dan buruk. Relief Kar mawibhangga panel 1 sampai l17 menggambarkan tingkah laku yang menyimpang dan mengarah ke satu tujuan. Relief Karmawibhangga panel l 18 sampai 160 menggambarkan berbagai akibat dari suatu perbuatan. Menurut ajaran Buddha. segala tindakan dan akibat yang menimpa ditentukan oleh karma Karma menentukan nasib keadaan manusia saat ini peristiwa peristiwa yang terjadi, yang secara keseluruhan merupakan rangkaian perbuatan manusia sendiri dan ling kungan hidup sebelumnya. Lalitavistara Lalitavistara adalah teksberbahasa Sanskrta yang mengatakan kehidupan sang Buddha Lalitavistara berartik sandiwara, karena hidup Buddha di dunia dianggap sebagai sandiwara yang dilakukanoleh Buddha yangagung,dialami dan sungguh-sungguh terjadi. Kehidupan sang Buddha di dunia diawali dengan kelahirannya sebagai Pangeran Siddharta, di hutan Lumbini dekat Kapilawastu, di daerah Nepal sekarang. Sesudah melahirkan Pangeran Siddharta tidak lama kemudian ibunya, yang bernama Maya, meninggal dunia. Sebelum kelahirannya ada yang meramalkan kepada ayahnya, yaitu Raja Suddhodana, bahwa putranya kelak akan menjadi seorang penguasa alam semesta atau seorang Buddha. Karena sang raja menghendaki anaknya menggantikan dirinya, maka ia berusaha mencegah anaknya berhubungan dengandunia luarsupayatidakmengenal penderitaan di dunia karena hal ini dapat mempengaruhi kehidupannya di kemudian hari.

 Meskipun sudah dicegah untuk berhubungan dengan dunia luar, Siddharta sempat tiga kali bertemu dengan kesengsaraan dunia dalam bentuk kesakitan, usia lanjut dan kematian Setelah pertemuannya yang keempat dengan seorang biarawan yang dikaguminya, ia memilih jalan menuju pembebasan akhir dari segala derita. Kemudian Siddharta menjalani hidup bertapa dengan bersungguh-sungguh, namun tidak memperoleh hasil seperti yang diharapkan oleh karena itu, ia menyimpulkan bahwa bertapa bukanlah jalan menuju kesempurnaan, dan ini hanya dapat dicapai melalui tafakur mistik. Ketika Siddharta sedang bersemedi di bawah pohon ara suci (pohon bodhi). ia diganggu oleh Mara si lahat dengan berbagai cara untuk membatalkan niatnya Gangguan, ancaman dan rayuan Mara beserta putri putrinya, tidak dihiraukan sedikit pun, maka dilanjutkan semedinya sampai mencapai empat tingkat tafakur. Dalam tafakumya Sid. dharta melihat seluruh alam semesta sebagai suatu sistem hukum, yang terdiri atas makhluk-makhluk yang giat yang bahagia, ada yang luhur ada yang  semuanya terus-menerus melalui satu bentuk eksistensi ke bentuk lain. Akhirnya Siddhartamencapai kearifantertinggi yang disebut Bodhi atau Pencerahan Siddharta telah menjadi Buddha yang menerima penjelasan, sebelumnya iamemakai nama Bodhisattva. Setelah sang Buddha memilih lima pengikutnya, mulailah ia menyampaikan kotbah yang pertamadi Taman Kijang Sarnath dekat Benares. Panel relief Lalitavistara pada candi Borobudur ber jumlah 120, terletak pada dinding utama lorong pertama deret atas. Dalam panel relief ini mewakili satu versi teks Buddhis, Lalitavistara, yang mengisahkan hidup Buddha di dunia. Adegannya diawali sejak Buddha di surga memutuskan untuk turun ke dunia dan berinkarnasi sebagai manusia biasa sampai ketika ia menyampaikan kotbah pertamanya. Jataka dan Awadana Deretan relief di bagian bawah dinding utama lorong pertama berjumlah 120 panel. di bagian atas balustrade (pagar langkan) teras pertama berjumlah 372 panel relief. dan bagian bawah balustrade berjumlah 128 panel, menggambarkan cerita kehidupan masa lampau sang Buddha (kisah Jataka), dan cerita tentang perbuatan kepahlawanan para orang-orang suci (Awadana) Kisah Jataka dan Awadana dua, berjumlah 100 panel. Pada awalnya kisah ini berasal dari cerita rakyat India, yang berisi tentang perbuatan-perbuatan baikyang dilakukan oleh orang-orang tidak dikenal maupun tentang cerita binatang. Cerita ini oleh para penganut ajaran Buddha kemu dian digubah sedemikian rupa, sehingga menjadi kisah yang sederhana, penuh teladan dan jenaka Pada masa berikutnya cerita Jataka dan Awadana berisi tentang perbuatan mulia, pengorbanan diri, kesalehan, sumber pengetahuan dan sebagai sumber inspirasi bagi para penganutnya. Untuk menggambarkan kisah Jataka dan Awadana, berikut ini akan dicuplikkan beberapa adegan relief dengan cerita sebagai berikut: Sudhana dan Manohara Pada dinding utama lorong deretan bawah, panel l sampai 20 merupakan cerita Awadana, yang mengisahkan tentang Pangeran Sudhana dan Peri Manohara. Diceritakan bahwa negara Pancala diperintah oleh dua raja, satu di utara dan satu di selatan. Kerajaan Pancala utara keadaannya sangat makmur karena diperintah oleh seorang raja yang bijaksana dan adil. Selain itu, ke- makmuran kerajaan Pancalautara, dikarenakan adanya Naga Janmacitraka yang hidup di sebuah telaga dekat ibu kota, yang memberi hujan secara teratur Sebaliknya. kerajaan Pancala selatan diperintah oleh seorang raja yang kejam dan angkara murka. Oleh karena itu, para dewa tidak berkenan memberi air.

Akibatnya penduduk menjadi menderita, meninggalkan kampung halaman- nya untuk pindah ke kerajaan Pancala utara. Pada suatu hari Raja Pancala selatan pergi berburu dengan pengawalnya la melihat desa-desa kosong tan- pa penghuni, candi-candi kotor tidak ada yang mengurus, maka sang rajabertanyakepada para pengawalnya apa sebabnya menjadi demikian. Setelah para pengawal minta maaf supaya tidak dihukum, maka diberitahulah sang raja apa sebabnya rakyat meninggalkan kerajaan Pancala selatan. Kemudian sang raja berjanji akan me- merintah dengan adil bijaksana dan akan mendatangkan  Naga Janmacitraka ke kerajaan selatan Upaya mendatangkan Naga Janmacitraka paling baik adalah dengan menggunakan sihir oleh karena itu, raja mengadakan sayembara, barang siapa dapat memindahkan Naga Janmacitraka ke selatan akan mendapatkan hadiah satu keranjang emas.

Sayembara tersebut didengar oleh seorang pawang ular dan di sanggupinya pekerjaan yang mahaberat itu. Setela sekitar telaga memindahkan Naga Janmacitraka dengan sihir dalam waktu tujuh hari Naga apa yang sedan terjadi, dan merasa tidak mampu melawan sihir. Oleh karena itu, ia meminta bantuan seorang pemburu bernama Halaka, yang daerah perburuannya di sekitar telaga. Disepakati bahwa si pemburu akan bersembunyi dan melepaskan panahnya ke arah penyihir, ketika memulai jampi-jampinya, dengan pertimbangan si pemburu tidak boleh membunuh, akan tetapi hanya menghancurkan jampi-jampinya saja. Sesudah penyihir dapat ditundukkan muncullah sang Naga dari telaga mengucapkan terimakasih dan mengundangnya untuk menemui orangtua sang Naga. Orangtua sang Naga merasa gembira, dan memberi hadiah pada sang pemburu Selanjutnya dikisahkan bahwa tidak jauhdaritelaga ada seorang petapa (rsi). Sang pemburu menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi. Sang petapa menasihati pemburu supaya tidak menerima permata, akan tetapi meminta laso yang dimiliki para naga. Atas nasihat sang petapa, berangkatlah sang pemburu. menemui sang naga untuk minta laso. Akhirnya sang pemburu diberi laso sesuai dengan permintaannya.

Pada bagian lain dikisahkan bahwa dalam melak sanakan tugas tersebut Halaka pergi ke sebuah kaki gunung di tepian sebuah telaga besar untuk menemui seorang petapa yang lain. Pada kesempatan ini Halaka diberitahu bahwa Manohara seorang putri rajakinnara. sering mandi di telaga besar itu bersama dayang-da- yangnya Benta baik ini oleh Halaka tentu saja diman- faatkan untuk menangkap sang putri, dengan meng- gunakan laso ajaibnya Tanpa kesulitan sang pemburu dapat menangkapnya sementara itu para dayang dayang berlan ketakutan. Untuk menyelamatkan nyawanya, sang putri menyerahkan permata yang ada di dahinya sebagai tanda tunduk dan taat pada sang pemburu Pada saat yang sama datanglah Pangeran Sudhana bersama rombongan berburunya Sang pemburu kemudian menyerahkan putri cantik hasil tangkapannya itu, Pangeran Sudhana merasa senang bertemu dengan putri itu, lalu dibawa ke Istana untuk dinikahinya. Sementara itu muncul dua pendeta Brahman di kota, salah satu menghambakepada raja dan diangkat sebagai punihita (pembimbing spiritual). sedang yang lain mengabdikan diri kepada putra mahkota Sang pendeta membujuk pangeran supaya beranga bahwa ia kelak akan diangkat sebagai puruhita apabila pangeran menduduki tahta Kata-kata ini didengar oleh kaum Brahiman lain, yang ingin mempertahankan kedudukannya oleh karena itu, timbul persekongkolan dari kaum Brahman untuk menyingkirkan sang Pangeran. Para Brahman membujuk raja supaya menugaskan pangeran untuk menumpas pemberontak yang tidak berhasil diatasi oleh tujuh ekspedisi Sudhanaimya berangkat menunaikan tugas sebelumnya, ia menemui ibunya untuk menyerahkan istrinya, Manohara, beserta permatanya Ketika Sudhana sedang duduk di bawah pohon dekal negara pemberontak, tanpa diduga ia menerima bula bantuan satu pasukan yaksa (roh sylvan), yang oleh Pancika.

Dengan bantuan pasukan yaksa dipimpin Pangeran Sudhana dapat mengalahkan para pemberontak Setelah itu bergegaslah ia pulang ke negaranya untuk menyampaikan berita kemenangan Pada malam sebelumnya sang Raja bermimpi buruk. Oleh karena itu, ia minta Brahman untuk menafsirkan makna impiannya Para puruhitatahu bahwa impian itu  bermakna kemenangan sang pangeran di medan laga, namun mereka mengatakan kepada raja bahwa impian nya berarti buruk dan dapat dicegah dengan pengorbanan seorang kinnari. Pada mulanya raja tidak bersedia mengorbankan Manohara, namun akhirnya merelakan juga Manohara mendengar nasib buruk yang akan menimpa dirinya, kemudian ia berlari ke tempat ibu menuanya memohon perlindungan dan belas kasihan Ibu permaisuri tidak dapat membantu dengan jalan apapun, kecuali mengembalikan permata milik Manohara yang dapat dipakai untuk terbang melarikan diri. Agar mudah ditemuka mula-mula Manohara pergi ke rsi yang tinggal di tempat ia ditangkap dulu, Di tempat ini Manohara menyerahkan sebuah cincin kepada sang untuk diberikan kepada Sudhana apabila sang suami mencarinya. Selain itu, ia meninggalkan pesan bagi mana jalan menuju ke negara kinnara, tempat tinggal gg Manohara  Pada bagian lain dikisahkan bahwa Sudhana sotelah pulang dari medan perang, langsung menyampaikan berita kepada sang raja disertai dengan penyerahan harta benda hasil rampasan perang. Setelah itu ia segera menuju ke istana tempat tinggal Mamohar yan dicintainya. Alangkah terkejutnya pangeran Sudhana karena istrinya sudah pergi. la menemui ibunya dan bertanya apa sebenarnya yang terjadi. 
id.wikipedia.org

Bagi sang Pangeran hidup ini tidak berarti lagi tanpa kekasihnya, oleh karena itu mulailah ia mencari Manohara Pada saat itu ia teringat untuk bertanya kepada Halaka, bagaimana dulu dia dapat bertemu dengan Manohara kemudian Halaka memberitahu supaya menghubungi seorang rsi yang tinggal ditepi telaga Dengan bantuan cincin dan sesuai petunjuk yang diberikan Manohara akhirnya Sudhana sampai pula di kerajaan kinnara, sesudah menempuh perjalanan jauh Sebelum masuk kota kerajaan, pangeran Sudhana melihat beberapa kinnari sedang mengambil air yang akan dipakai mandi putri raja. Untuk memberitahukan kedatangannya, ia melemparkan cincin ke dalam salah satu tempayan air yang dibawa kinnari. Peristiwa ini diketahui Manohara dalam permandiannya dan segera ia bertanya kepada para pelayannya, apakah melihat seorang laki-laki di luar kota. Pangeran Sudhana kemu-dian diselundupkan ke dalam istanadandapatberiumpa dengan kekasihnya, Manohara. Beberapa saat kemudian Manohara bertanya kepada ayahnya, raja Druma, untuk mengetahui apa yang akan beliau lakukan terhadap Sudhana. Pada mulanya aja mengancam akan mengikat Pangeran Sudhana, akantetapi niatnya kemudian berubah. 

Raja Druma menyambut kedatangan pangeran Sudhana dengan ramah namun sang raja tetap menuntut agar sang pangeran membuktikan kesaktiannya. Dengan cemerlang sang pangeran dan melepas mata panah. Disamping itu, sang pangeran masih diuji lagi dengan cara disuruh memilih istrinya dari antarasejumlah kiniari yang berwajah miripdengan Manohara Tentu saja ia dapat memilih Manohara yang asli. Namun setelah beberapa lama, sang pangeran merindukan negerinya sendiri setelah mendapat izi dari sang raja, berangkatlah ia Pancala. Di negara ancala kedatangannya disambut dengan sukaria Kemudian pangeran Sudhana langsung dinobatkan menjadi raja oleh ayahnya. 

Maitra kanyaka Kisah Maitrakanyakaadalah bagian darikisah Awadana pada dinding utama, lorong pertama deret bawah,  panel 106 sampai l 12. Maitrakanyaka adalah putra seorang pemimpin kafilah dan pedagang keliling Ayahnya meninggal dunia pada saat Mitrakanyaka masih kanak-kanak. Setelah dewasa, ia menanyakan pekerjaan orangtuanya dahulu, karena ia akan mengikuti jejak ayahnya Ibunya menjawab bahwa ayahnya dahulu adalah pemilik toko Hal ini dikatakan karena sang ibu khawatir anaknya menjadi kafilah dan pedagang seperti ayahnya, dan akan selalu bepergian dan jarang sekali di rumah Atas petunjuk ibunya, maka Maitrakanyaka memutuskan membuka sebuah toko. Usahanya berkembang pesat dan untungnyaberlipat ganda. 

Pada suatu hari datanglah seseorang yang memberi tahu tentang pekerjaan ayah nyayang sebenarnya, olehkaren itu, serta merta Maitrakanyaka memutuskan untuk men- jadi pemimpin kafilah seperti ayahnya dahulu. Ibunya sangat sedih atas keputusan anaknya. Bermacam-macam cara digunakan untuk membujuk agar anaknya teta tinggal di rumah. Keputusan Maitrakanyaka telah kukuh dan mantap, meskipun ibunya tetap memohon untuk mempertimbangkannya masak masak Karena itu pula Maitrakanyaka naik pitam ia menendang kepala ibunya. lalu pergi berlaya rsebagai pemimpin kafilah Perjalanan yang pertama ini gagal, karena kapal yang ditum- panginya kandas diserang kala laut. Maitrakanyaka berhasil menyelamatkan diri mencapai pantai di sebuah kota yang dihuni oleh para peri. 

Di tempat yang baru, ia tinggal selama bertahun- tahun tetapi ia tidak dapat mencegah keinginannya untuk berlayar lagi. Oleh karena itu, Maitrakanyaka minta izin dan berpamitan kepada para peri untuk melanjutkan perjalanannya. Dalam perjalanannya yang kedua, ia singgah di beberapa kota, dan berturut-turut selalu disambut oleh delapan, enam belas dan yang terakhir tiga puluh dua peri Negeri kelima dan yang terakhir ia kunjungi ternyata adalah neraka bagi anak- anak yang menendang ibunya. Di neraka ini hukuman yang harus dijalani Maitrakanyaka adalah membawa roda yang panas membara la merasakan kesakitan yang luar biasa Di samping itu, ia harus menunggu giliran hukuman berikutnya. Karena Maitrakanyaka bersedia menanggung beban membawa roda yang membara untuk selama-lamanya, baik untuk dirinya sendiri maupun para hukuman yang lain, maka ia segera dibebaskan dari hukuman. Pada saat itu pula Maitrakanyaka meninggal dan dilahirkan kembali sebagai dewa di surga Kisah Macan Betina Kisah macan betina adalah sebuah kisah Jataka, pada deret alas pagar langkan lorong pertama panel l sampai 4. Dikisahkan bahwa pada saat itu Bodhisattva dilahirkan dalam keluarga terkemuka, la menjadi besar dan memiliki keahlian di bidang seni dan ilmu pengetahuan la tidak memikirkan kesenangan duniawi dan kedudukan kemudian pergi ke sebuah pegunungan untuk menjadi rsi. 


Pada saat itu pula sang Bodhisattva segera menjatuhkan diri dari batu karang untuk dimakan macan betina. Ketika muridnya datang, ia melihat apa yang sudah terjadi, sang guru telah disantap oleh macan betina dengan lahapnya. Kesedihan, rasa hormat  dan kekaguman yang begitu besar kepada sang guru untuk semua makhluk hidup merupakan teladan yang baik, dan akhimya me pakan pelipur lara bagi murid-murid Ganda wyuha dan Bluadracari Relief Gandawyuha dan Bhadracari dipahatkan pada dinding utama lorong kedua, ketiga, keempat, dan pagar langkan (balustrade) lorong ketiga dan keempat, sejumlah  12g panel Ganda iyaha adalah kisah Buddhis yang berasal dan indian kisah ini muncul pada awa diperkirakan abad Maschi Gandawyuha merupakan suatu conta yang mengisahkan seorang pangeran muda yang bemannasudhana dalam mencari kearifan tertinggi 

Dalam mencari kearifan tertinggi dibutuhkan bantuan seorang guru mak mulailah peralatan ziarah pangeran Sudhana untuk mengunjungi lima puluh tiga orang terke. muka sesuai perintah yang diberikan Bodhisatuva Mafijusti Pada awalnya pangeran Sudhana mengunjungi para rahib wati, tabib, dewi-dewi dan beberapa orang suci Dari kunjungannya yang pertama kedua dan seterusnya diperoleh petuah petuah sihat nasihat dan wejangan-wejangan yang intinya harus dikirim pada seorang guru yang benar-benar mumpuni. Pada guru yang terakhir ini, pangeran Sudhana benar-benar mencapai kebenaran yang hakiki. 

Cerita Bha- dracari dipahatkan pada dinding utama teras keempat, dan merupakan n kisah tambahan dari kisah Ganda- wyuha, adakalanya didapati dalam kisah-kisah yang bebas Bhadracari merupakan kisah penutup Gandawyuha dengan menampilkan umpah Sudhanauntuk mengikuti Bodhisattva Samanthabhadra Di dalam sumpahnya ia mengungkapkan keinginannya untuk mengikuti teladan agung Bodhisauva menjadi pembumbung spiritual bagi orang yang berinan dalam penalanannya mencapai kearifan lettinggi

8. Cerita Rakyat

Di kawasan candi Borobudur, khususnya bagi masya rakat yang bertempat tinggal di pedesaan, terdapat cerita rakyat yang berkaitan dengan candi Borobudu Kisak Gunadharma Cerita rakyat tontang Gunadharma mengisahkan bahwa pada zaman seorang arsite yang terkenal di kawasan Kedu dan sekitamya. Arsitek dan perencana bangunan itu Gunadharma, berasal dan bernama India. Pada masa itu sang raja memerintahkan Gunadharma untuk membangun sebuah candi yang sangat besar dan megah. Dengan segala kemampuan yang ada, Gunadharma melaksanakan perintah itu dengan rasa gembira. Bertahun- tahun ia membangun candi Borobudur, akhirnya selesai juga tugas berat yang diembannya itu. Setelah selesai mem- bangun candi Borobudur, Gunadharma merasa lelah Ke mudian ia pergi menuju arah selatan, ke Bukit Menoreh yang jaraknya kurang lebih 2 km dari candi Borobudur. Di atas bukit Menoreh. Gunadharma memilih lokasi yang paling tinggi sebagai tempat untuk istirahat (tidur). Selain itu ia ingin melihat keindahan dan kemegahan candi Borobudur dari atas bukit Masyarakat di sekitar candi Borobudur yakin bahwa tempat peristirahatan Gunadhanna adalah di atas bukit Menoreh, yang digambarkan dengan posisi tubuh yang sodang tidur membujur dari arah timur kebarat 

Dari kejauhan postur tubuh Gunadharma dalam posisi tidur itu dapat di- lihat pada gundukan tanah di atas bukit bagian timur yang menyerupai kepala dengan bagian-bagian yang terdiridan lekukan mata, batang hidung, lekukan mulut dan lekukan dagu. Selanjutnya diikuti lekukan kecil yang merupakan leher, sedangkan gundukan tanah besar memanjang ke arah barat digambarkan sebagai tubuh Gunadharma Wisatawan yang ingin melihat apa yang digambarkan dalam cerita rakyat tersebut dapat melihatnya dari atascandi Borobudur atau simpang tiga bulatan Salaman, bila cuaca cera Kisah Braytit Diceritakan bahwa pada zaman dahulu ada seorang  yang perkasadan sangat serakah Ketika sedang mengendarai kereta kencana untuk memeriksa daerah kekuasaannya, ua melihat seorang putri yang cantik jelita Atas titah sang raja, putri cantik jelita itu diboyong ke istana untuk dijadikan istri Ternyata putri yang dijadikan istri mudanya itu adalah anaknya sendiri. Ia mendapat kutukan para dewa dan brahmana. 

Sang raja harus menebus dosa-dosanya yang sangat berat dengan mempersembahkan sebuah bangunan candi. Candi yang dibangun itu harus dilengkapi dengan seribu arcadewi, dan harus selesai dikeriakandalam waktusepuluh hari Pada batas waktu yang telah ditetapkan,ternyata masih ada tiga buah arca yang belum selesai. Sebagai akibatnya, sang raja, sang permaisuri dan anaknya yang lahir dari hasil perkawinan mereka, dikutuk oleh para dewa dan brahmana menjadi tiga buah arca sebagai pelengkap seribu arca Versi lain kisah Brayutini adalah sebagai berikut: pada oman dahulu hiduplah seorang raksasaperempuanfraseksi) yang gemar membunuh dan memakan daging anak-anak. Hal ini membuat masyarakat menjadi ketakutan. 

Dalam keadaan kacau tersebut datanglah sang Buddha menemui sang kaseksi untuk memberi wejangan dan ajaran-ajarannya. Berkat a dan wejangan sang Buddha, sang Raseksi dan luluh hatinya. watak dan pe- pemakan anak-anak kecil menjadi penyayang  cinta anak-anak Bahkan pada masa berikutnya sang Raseksi malah mempunyai banyak anak oleh masyarakat sekitar candi Borobudur, kisahini dikaitkan dengan beberapa panel relief pada candi Borobudur dan candi Mendut Panel relief yang dikaitkan dengan kisah Brayut pada candi Borobudur dapat dilihat, bila kita naik dari pintu selatan di sudut sebelah kiri pada lorong di antai tingkat pagar angkan bagian alas Kisah Bruyut ini, menunui orang-orang tua yang bertempat tinggal disckitar candi Borobudur disamakan dengan cerita Dewi Kesuburan yang mempunyai banyak anak 

Oleh karena itu panel relief tersebut banyak didatangi orang-orang dengan membawa kembang dan kemenyan untuk melakukan sesaji di tempat ini dengan maksud agar segera mempunyai keturunan Kisah Bray utini selain lerdapat padacandi Borobudur, terdapat juga disekitar candi Mendut yang letaknya kurang lebih 2 km di sebelah timur candi Borobudur Panel relief yang dihubungkan dengan kisah Brayut pada candi Mendut terdapat pada dinding gerbang terakhirbagiankanansebelum masuk bilik utama dan hanya terdiri dan satu relief Kisah hunto Bimo Menurut cerita rakyat. Kimto Bimo terdiri dari dua kata, yaitu Kunto dan Bimo Kunto berart pengento ento (Bhs Jawa) dan Bimo disamakan dengan salah satu tokoh penegak Pandawa yang bemanna Werk ulom. Kunto Bimo yang dimaksud dalam cerita rakyat tersebut adalah sebuah arca Buddha yang lerletak pada tingkat anipadbatu di sisu timur sebelah kanan tangga mak Mlasyarakal di sekilar candi Borobudur percaya bahwa urca Bimo len ebul dapat memberikan tuah bagi siapa saja yang membutuhkan Cara mendapatkan tuah adalah berdoa disertai dengan membakar kemenyan, dupa dan membawa kembang solaman. 

Cara lain yang lazim dilakukan apabilaorang mengunjungi candi Borobudur adalah mengulurkan tangan dan berusaha memegang arca Bimo. Barang siapa dapat memegang arca Bimo, segala cita-cita dan keinginannya akan terkabul Akan tetapi sebaliknya, bila orang tidak berhasil memegang arca Bimo, itu sebagai peranda bahwa ia akan menemui kegagalan. Dalam cerita pewayangan, Bimo adalah anak kedua dari lima bersaudara pandawa Bimo lahir ke dunia dalam keadaan terbungkus oleh cand dan tidak dapat dibuka oleh siapapun. Oleh karena itu, sejak lahiriadianggap mempunyai kesaktian yang luar biasa, Kemudian sang Bimo dalam ke- adaan terbungkus cauldibuang ketengahhutan Gandamayit 

Di tengah hutan itulah sang Bimo ditemukan oleh seekor gajah yang menupakan utusan dari Kayangan bemama Sena. Berkat jasa dan kesaktian gajah Sena, akhirnya caul yang menyelimuti sang Bimo dapat dirobek, dan keluarlah tokoh sang Bimo dalam keadaan selamat dan perkasa. Tokoh Bimo atau sering juga disebut Werkudoro dalam kisah pewayangan digambarkan bertubuh kekar, perkasa, mata melotot dan kedua tangannya mempunyai kuku yang disebut pancanaka. Dikisahkan pulabahwaksatria penegak Pandawa itu berbudi luhur, cinta kebenaran dan setia kepada keutamaan, bagi negara dan bangsanya Terutama bagi keluarga- nya. Bimo merupakan benteng pertahanan. Selain mem punyai kekuatan yang dapat diandalkan dan kecerdasan berpikir, ia juga mempunyai beberapa ilmu kesaktian antara lain: aji Bandung Bondowoso Wingkalbener dan Babak Pengantelan. Semua ilmu kesaktian itu dapat membentengi keselamatan hidup di dunia. 
/* kode iklan */

1 Response to "Sejarah Berdirinya Candi Borobudur"

  1. Payung Anugrah Sejahtera Perusahaan Genteng Nglayur memproduksi berbagai macam jenis genteng terutama Genteng Nglayur Gelombang dengan harga murah dan berkwalitas. Genteng nglayur terbuat tanah liat dan kaulin yang diolah menggunakan mesin dan cetakan press bertekanan tinggi, sehingga menghasilkan genteng yang kuat, kokoh dan berkwalitas.

    Supported By Jual Genteng Nglayur

    ReplyDelete