8/27/2016T8/27/2016

PENGUKURAN SUSHU TERHADAP AKTIVITAS HEWAN POIKILOTHERMIS

/* kode iklan */
/* kode iklan */
PENGUKURAN SUSHU TERHADAP
AKTIVITAS HEWAN POIKILOTHERMIS

I. Tujuan praktikum
Dapat mengukur perubahan-perubahan keaktifan hewan poikilothermis sehubungan dengan perubahanpoikilothermis sehubungan dengan perubahan lingkungannya. Keaktifan diukur dengan cara  lingkungannya. Keaktifan diukur dengan cara menghitungmenghitungmenghitungmenghitung denyut jantung tiap men denyut jantung tiap menit. makinit. Makin tinggi  frekuensi tinggi  frekuensi  denyut  jantung, makin aktif hewan tadi.

II. Dasar Teori
Hewan berdarah dingin atau disebut juga Poikiloterm adalah hewan yang suhu tubuhnya kira-kira sama dengan suhu lingkungan sekitarnya. Poikiloterm suhu tubuhnya dipengaruhi oleh lingkungan. Suhu tubuh bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu tubuh luar. Yang termasuk dalam Poikiloterm adalah bangsa Ikan, Reptil, dan Amfibi.



Suhu yang tinggi menjelaskan mengapa banyak organisme berdarah dingin seperti ikan, ampibi, crustacea, dan kadal hidup lebih lama di daerah bergaris lintang besar daripada bergaris lintang kecil, menurut penelitian baru-baru ini diterbitkan dalam "Proceedings of the National Academy of sciences (PNAS) online". Asisten Profesor Dr Stephan Munch dan Ph.D. calon "Santiago Salinas", keduanya dari Universitas Stony Brook School of Atmospheric dan Ilmu Kelautan, ditemukan bahwa bermacam macam jarak suhu dari spesies untuk mengubah temperatur tubuhnya dengan temperatur lingkungannya, temperatur lingkungan adalah faktor dominan mengendalikan geografis variasi dalam jangka hidup spesies.

Melihat pada data jangka hidup dari lab dan pengamatan lapangan selama lebih dari 90 spesies dari bumi, air tawar, lingkungan laut. Mereka belajar organisme yang berbeda dengan rata-rata umurnya - dari Arcartia tonsa, yang memiliki jangka hidup dari rata-rata 11,6 hari, dengan mutiara remis Margaritifera margaritifera, yang memiliki rata-rata jangka hidup dari 74 tahun. Mereka menemukan bahwa dari berbagai jenis, suhu yang konsisten yang bereksponensial berkaitan dengan jangka hidupnya.

Hubungan antara suhu dan jangka hidup dari penelitian Munch dan Salinas, ditemukan melalui analisis data dengan cara yang serupa dengan hubungan yang memprediksi teori metabolis ekologi (MTE). Teori ini, yang merupakan kerangka pemodelan yang telah digunakan untuk menjelaskan cara pada sejarah kehidupan.

Jangka hidup  dari 87% makhluk hidup bebas dan spesies yang Munch Salinas pelajari bervariasi sebagai prediksi MTE. Namun setelah mengeluarkan efek suhu, masih terdapat banyak variasi di dalam jangka hidup spesies ini, menunjukkan bahwa lainnya, faktor lokal masih memainkan peran dalam menentukan jangka hidup

III. Metodologi

A. Bahan dan Alat
- Katak bufo melantosticus
- Bejana kaca berisi air
- Sejumlah es dan air panas
- Papan dan tali untuk mengikat katak
- Thermometer
- Counter

B. Cara Kerja
- Mengikat kaki depan dan belakang katak pada papan, sehingga katak terlentang dan tidak dapat bergerak.
- Memasukan ES kedalam air sedikit demi sedikit dan aduklah,, biarkan Es mencair dan aturlah suhunya sehingga mencapai 10°C. dalam waktu eberapa menit suhu ini tidak akan berubah banyak.
- Merabah bagian dada katak sehingga anda merasakan denyutan jantungnya. Kemudian memasukan katak yang terikat tadi kedalam air ES, dan hanya bagian ujung kepalannya yang tidak terendam supaya masi bisa bernafas. Tunggu beberapa menit sambil menjaga susu air tadi tetap 10°C. kalau suhunya nai, tambahkan sedikit ES.
- Menghitunglah denyutan jantung katak dalam satu menit, dengan meraba dada katak tadi. Lakukan 3 kali dan tentukan rata-ratanya.
- Mengeluarkan katak dari air Es, dan tambahkan sedikit demi sedikit air panas sambil di aduk.Hingga suhu mencapai 15°C, masukan kembali katak kedalam air dan hitung denyutn jantung setiap menit.
- melakukan perhitungan denyut jantung ini pada sush-suhu 10°C, 15°C,20°C,25°C, 30°C, 35°C. untuk menaikan suhu air, tambahkan air panas secukupnya.
- Mengamati adakan keteraturan hubungan antara kenaikan suhu dengan denyut jantung permenit.
- Dari hasil data buatlah garafik hubungan antara suhu dengan denyut jantung pada kertas grafik : absis= suhu, ordinat= denyut jantung tiap menit.

IV. HASIL PEMBAHASAN

A. Hasil
Dari kegiatan  praktikum maka kami dapat memperoleh hasil seperti
 tabel berikut.



SUHU MULUT PADA KATAK DIBAWAH 35 oC
SUHU KATAK AIR PANAS 40 oC (5 menit)dibawah 35 oC

B. Pembahasan
Pada percobaan kali ini kami bertujuan untuk dapat mengukur perubahan-perubahan keaktifan hewan poikilothermis sehubungan dengan perubahan lingkunganya yaitu dengan cara menghitung denyut jantung permenitnya. 
Poikiloterm merupakan hewan berdarah dingin dan  suhu tubuhnya dipengaruhi oleh lingkungan. Suhu tubuh bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu tubuh luar. Yang termasuk dalam Poikiloterm adalah bangsa Ikan, Reptil, dan Amfibi.
Dari hasil percobaan kami kami dapat mengukur perubahan keaktifan hewan poikilotherm dengan denyut jantungnya yaitu :
Ternyata pada saat suhu air 10°C denyutan jantung pada kata berbeda-beda pada setiap menitnya yaitu pada menit 1 denyut jantung katak di peroleh dengan jumlah yaitu 5 denyutan, menit ke 2 terdapat 5 denyutan, dan pada menit  3 terdapat 8 kali denyutan. Dan pada saat katak di dalam suhu air 15°C denyutan jantung pada katak semakin banyak dalam permenitnya yaitu, menit 1 tercatan 32 denyutan, menit ke 3 35 denyutan dan menit ke 3 terdapat 37 denyutan. Semakin naiknya suhu lingkungan maka semakin banyak puala denyut jantung pada katak, hal tersebut disebabkan karena metabolism pada katak sangat dipengaruhi oleh kenaikan suhu. Dan pada praktikum ini kami memperoh rata-rata hasilnya yaitu : pada suhu 10°C =6 , suhu 15°C=34.7, suhu  20°C=36, suhu 25°C=53,6, suhu 30°C=66,7 , suhu 35°C= 60,4 denyutan.

V. KESIMPULAN
1. Hewan pokilothermis adalah hewan yang suhu tubuhnya kira-kira sama dengan suhu lingkungan sekitarnya.
2. Poikiloterm adalah bangsa Ikan, Reptil, dan Amfibi.
3. Jangka hidup  dari 87% makhluk hidup bebas dan spesies yang Munch Salinas pelajari bervariasi sebagai prediksi MTE.
4. Semakin tinggi suhu lingkungan maka akan semakin tinggi denyutan yang dihasilkan oleh hewan poikilotherm hal itu terjadi karena aktivitas  metabolisme pada hewan tersebut semakin tinggi.
5. Pada suhu 10°C diperoleh hasil rata-rata 6 denyutan, 15°C = 34.7 denyutan, 20°C = 46 denyutan, 25°C = 53,6, 30°C=66,7 , 35°C=60,4. 

















DAFTAR PUSTAKA

Kimball. 1999. Biologi Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
N, syamsiar. 1988. Pengantar fisiologi Manusia. Jakarta : Depdikbud.
Soedjono. 1998. Pengantar Anatomi Fisiologi Hewan.Jakarta: LPTK.
Soewolo.2000. pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta: Depdiknas.
Potter A. Patrical. 1995 , fundamental keperawatan, Jakarta : EGC Tortora, J.T., Granbowskl, S.R (2000). Principles of anatomy and physiology. (9th ed.). Toronto :

/* kode iklan */

jangan lupa iklannya diklik ya, to "PENGUKURAN SUSHU TERHADAP AKTIVITAS HEWAN POIKILOTHERMIS"

Post a Comment