8/12/2016T8/12/2016

Materi Sejarah Perkembangan Kebudayaan Hindu Buddha di Indonesia

/* kode iklan */
/* kode iklan */
B. Perkembangan Kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia 

  Pengaruh agama dan kebudayaan Hindu-Buddha dari India di Indonesia sangat kuat. Hal ini dapat dilihat dari hasil akulturasi yang ada di berbagai bidang. Istilah yang tepat untuk menyebut pengaruh agama dan budaya Hindu-Buddha pada budaya Indonesia menurut Prof Dr. FD.K. Bosch disebut fecundation (penyuburan) yaitu penyuburan budaya Indonesia oleh budaya Hindu-Buddha. Kenyataan menunjukkan bahwa budaya Hindu-Buddha tidak menghilangkan budaya asli Indonesia. Oleh rang Indonesia, budaya Hindu-Buddha dimodifikasi sesuai dengan keadaan masyarakat Hasil interaksi antara para pendatang dari India dengan penduduk Nusantara menghasilkan sesuatu hal yang baru bagi masyarakat Indonesia. Beberapa di antaranya sebagai berikut




1. Bidang Bahasa dan Aksara

Sebelum masuknya pengaruh budaya India, penduduk Nusantara telah menggunakan bahasa daerah/lokal seperti bahasa Jawa Kuno dan Melayu  Bahasa Melayu Kuno (disebut juga bahasa Melayu Austronesia) sebagai bahasa pergaulan (lingua franca) oleh sebagian besar penduduk Indonesia Dengan datangnya pengaruh budaya India, maka dipergunakan bahasa dari India, terutama bahasa Sanskerta dan bahasa Pali. Walaupun demikian, tidak berarti bahwa Nusantara menjadi tersisih dan punah. Bahasa Jawa Kuno dan bahasa Melayu Kuno tetap dipakai, bahkan nantinya diperkaya dengan istilah-istilah dari bahasa Sanskerta Dalam bidang aksara, penduduk Nusantara mulai melek aksara dengan dikenalnya aksara Pallawa dan aksara Nagari atau disebut juga Si perkembangannya, para empu Nusantara menciptakan aksara baru yang disebut aksara Kawi ada juga yang menyebutnya aksara Jawa Kuno)

2 Bidang Teknologi Bangunan 

Sebelum datangnya pengaruh budaya India, masyarakat Nusantara membangun monumen punden berundak sebagai sarana untuk pemujaan kepada roh nenek moyang. Pemujaan kepada de di Nusantara digunakan teknologi pembuatan bangunan suci yang disebut candi, petirtaan, dan stupa Mula-mula bangunan candi sebagai tempat pemujaan kepada dewa dibangun sesuai dengan aturan dalam Kitab Silpasastra, bangunan utama berada di tengah-tenga percandian. Tetapi ketika pemujaan kepada leluhur kembali dalam tampil kepercayaan, bentuk candi pun menyesuaikan diri, kembali ke bangunan punden berundak, bangunan utama berada di bagian belakang dan bangunan candi terlihat bertingkat-tingkat. Hal ini terlihat pada bangunan candi di Jawa Timur. Bangunan candi mengalami persesuaian dengan bangunan punden ber Bidang Agama Sebelum mendapat pengaruh agama-agama dari India, penduduk Nusantara totemisme  telah memiliki kepercayaan animisme, dinamisme, fetisisme. Dengan masuknya budaya India, penduduk Nusantara secara berangsur-sur memeluk agama Hindu dan Buddha, diawali oleh lapisan elite dan keluarganya. Walaupun demikian, lapisan bawah terutama di pedesaan masih banyak yang tetap menganut kepercayaan asli berupa pemujaan kepada Dalam perkembangannya, agama Hindu dan agama Buddha barpadu menjadi agama Siwa Buddha. Bahkan agama campuran ini masih diwarnai denga kepercayaan-kepercayaan asii Nusantara. Bukti pendukung tentang akulturasi  ini dapat dilihat pada hal-hal sebagai berikut. dewa Hindu Dimasukkannya dewa dewi asli Nusantara dalam susunan para  yaitu Sang Hyang Tungga dan Sang Hyang Wenang, justru sebagai moyang para Dalam sastra Sunda abad Ix-xv Masehi pada Kitab Sang Hyang Siksakandang Karesian tertulis: Man bhakti di Ratu, Ratu bhakti di Dewata, Dewata bhakti di Hyang" (Perdana Menteri patuh kepada Raja, Raja patuh kepada Dewa, dan Dewa patuh kepada Hyang (nenek moyang).

3. Pengaruh agama Hindu-Buddha juga terjadi di bidang seni. 

Bidang Seni Misalnya dalam seni arca, relief, sastra, musik, dan wayang. Berikut beberapa contoh pengaruh dalam seni.

a. Arca

penduduk Nusantara sebelum mendapat pengaruh budaya dari India, sudah membuat arca perwujudan nenek moyang. Banyak arca leluhur yang ditemukan di Lebak Sibedug (Jawa Barat), serta arca Tadulako (nenek  di Sulawesi Tengah. Arca ini dibuat secara kasar dan tidak terlalu mementingkan anatomi. Nusantara Indonesia belajar membuat arca dewa dari budaya India. Ar yang sederhana dikembangk menjadi seni arca yang secara kualitas lebih baik, tetapi arca yang tampil adalah arca dewa/perwujudan raja yang hidup. Pembuatan arca yang dinamis ini berlangsung sampai dengan zaman Tumapel- Singasari. Sejak zaman Tumapel-Singasari sampai zaman Majapahit, arca Nusantara sudah tampil beda, kaku seperti mayat. Tahapan ini menandai tampilnya kembali seni arca prasejarah berkaitan dengán pemujaan para leluhur. Terjadilah akulturasi seni arca, arca dari para dewa tetapi dengan penampilan kaku seperti mayat karena sekaligus menggambarkan leluhur yang sudah di alam surga.

b. Relief

Dengan datangnya pengaruh seni relief dari India, relief yang terpahat pada candi-candi tampil sebagai relief tinggi yang khas Nusantara, menggambarkansuasana Nusantara (bukan gambaran versi India). Sejak Singasari tampil gaya yang berbeda yaitu lebih menampilkan seni relief Nusantara asli yaitu relief wayang yang dipahat sebagai relief rendah Informasi Sastra Nusantara Sebelum masuknya pengaruh India, sastra Nusantara berupa sastra lisan.

1. Perkembangan Seni Sastra

Dengan masuknya pengaruh sastra dari India terjadi perkembangan sebagai berikut.

a. Sejak zaman Mataram sampai dengan zaman Majapahit awal dikenal sastra tembang yang disebut         kakawin (ka-kawi-an)
b. Memasuki zaman Majapahit pertengahan irama kakawin digeser oleh irama kidung.

2. Karya Sastra Pengaruh Budaya India

a. karya sastra Nusantara akibat pengaruh budaya India sebagai berikut.

a. Zaman Mataram Kuno

1) Kakawin (abad lx Masehi)
2) Bagian-bagian Mahabharata (abad X Masehi): karya Wyasa

b. Zaman Kediri

1) Arjunawiwaha Kakawin karya Mpu
2) Kresnayana Kakawin, karya Mpu Triguna.
3) Sumanasontaka Kakawin, karya Mpu Monaguna.
4) Smaradhahana Kakawin, karya Mpu Dharmaja.
5) Bharatayudha Kakawin, karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh.\
6) Gatotkacasraya Kakawin, karya Mpu Panuluh.
7) Wrtasancaya Kakawin, karya Mpu Tanakung.

c. Zaman Majapahit Bagian I(Majapahit Awal)

1) Negarakertagama, karya Mpu Prapanca.
2) Sutasoma, karya Mpu Tantular.

d. Zaman Majapahit Akhir

1). Tamtu Panggelaran.
2) Calon Arang.
3) Bubuksah.
4) Pararaton.
5) Ranggalawe.
6) Sorandaka, dan lain-lain.

c. Musik

Sebelum kedatangan pengaruh India bangsa Indonesia sudah memiliki tradisi

musik yang tinggi. Pada saat itu, alat musik yang berkembang antara lain nekara, kendang, kecer, dan kemanak. Masuknya pengaruh India menyebabkan penam- bahan beberapa alat musik, di antaranya: vina (gitar bersenar tiga) dan harpa.

d. Wayang

   Budaya India juga berpengaruh pada wayang. Wayang dan musiknya (gamelan) merupakan kebudayaan asli dari Nusantara berkaitan dengan pemujaan kepada roh para leluhur. Namun, budaya India memperkaya wayang dengan menyumbangkan beragam cerita, yaitu dari epos Mahabharata dan Ramayana. Jadi, wayang dan gamelannya merupakan asli Nusantara sedangkan cerita yang di-mainkannya berasal dari India. Dalam wayang terdapat pula aspek politik yaitu penyampaian kritik-kritik sosial. Wayang dapat juga digunakan sebagai wadah penyampaian hal-hal baru yang tidak dapat diberikan secara langsung.

6. Bidang Penanggalan atau Kalender

Sebelum datangnya pengaruh budaya dari India, Nusantara sudah mengenal kalender dengan perhitungan satu pekan terdiri atas 5 dan 7 hari dipakai bersama, setahun dibagi atas 10 bulan serta perhitungan pawukon. Dengan datangnya kalender versi India, kedua kalender ini dipadukan, menjadi kalender Saka yang dilengkapi dengan hari pasaran (Pon, Wage, Kliwon, Legi, da Pahing), serta muku dan paringgelan.

/* kode iklan */

jangan lupa iklannya diklik ya, to "Materi Sejarah Perkembangan Kebudayaan Hindu Buddha di Indonesia "

Post a Comment