8/11/2016T8/11/2016

Materi Sejarah Kehidupan Awal Masyarakat Indonesia

/* kode iklan */
/* kode iklan */
Perkembangan Masyarakat Indonesia pada Masa Awal

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana kehidupan manusia purba pada jutaan tahun yang lampau? Ya, kehidupan mereka terlampau sederhana, karena ada keterbatasan dengan volume otaknya. Menurut para ahli, volume otak mereka memang masih terlampau kecil sehingga mengalami keterbatasan di dalam menemukan cara untuk mengatasi kesulitan hidupnya. Dari waktu ke waktu, volume otak itu mengalami perubahan dan perkembangan, sehingga mereka semakin terampil dalam menggunakan dan membuat beragam peralatan. Kehidupan manusia diperkirakan dalam kelompok-kelompok kecil. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka berburu binatang di sepanjang lembah-lembah sungai yang subur. Kehidupan semacam ini diperkirakan berlangsung selama satu juta tahun. Dalam perkembangannya, mereka mulai menggunakan peralatan batu yang
masih sederhana. Dari bukti yang berhasil ditemukan, sisa artefak yang berupa alat-alat kapak batu di Pacitan diperkirakan barasal dari masa 800.000 tahun yang lalu. Apa yang bisa kita katakan dari penemuan peralatan prasejarah ini? Manusia prasejarah itu mulai mengenal atau membuat kebudayaan meskipun dalam pengertian yang teramat sederhana. Beragam peralatan batu itu diperkirakan pernah digunakan untuk menguliti dan memotong daging.
 
Permasalahan yang menarik untuk diteliti, bagaimana cara manusia purba itu bisa bertahan sedemikian lama? Sementara para ahli berpendapat bahwa manusia purba itu telah berkelompok untuk mengatasi kesulitan hidupnya. Artinya, mereka telah membentuk masyarakat sendiri. Bagaimana cara mereka membentuk masyarakat? Salah satu kasus yang digunakan oloh para ahli adalah saat mereka harus menangkap binatang buruan. Untuk menangkap seekor binatang, tentu diparlukan adanya kerja sama di antara anggota kelompok. Kita tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi seandainya mereka tidak saling bekerja sama satu dengan lain saat berburu binatang. Saat mereka mau menangkap binatang buruan, tentu ada yang mengejar, melempardengan batu, memanah dengan mata tombak, dan lain-lain. Setelah binatang buruan tertangkap, pekerjaan belum selesai. Mereka secara bersamasama harus membawa binatang itu ke gua yang dijadikan tempat tinggal. Selanjutnya mereka menggunakan peralatan dari batu itu untuk menguliti dan membaginya. Tidak mengherankan apabila di dalam gua-gua yang diduga pernah digunakan sebagai tempat tinggal manusia prasejarah itu bisa ditemukan tulang belulang binatang. Apakah hal iniberkaitan dengan pola makan mereka.


INFORMASI

Perkampungan "Pygmi" di Flores
Di Kabupaten Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timu
ditemukan sebuah perkampungan masyarakat pygmi atau katai. Apa keistimewaan perkampungan ini? Menurut para ahli arkeologi, perkampungan ini menyimpan sejumlah misteri. Saat tahun 2004 para ahli memublikasikan temuannya tentang fosil manusia kerdil yang diberi namaHomo floresiensis, perkampungan ini luput dari perhatian mereka. Penelitian mereka hanya terfokus pada fosil dan beragam bentuk peninggalan yang ada di dalam gua Liang Bua Menurut Prof. Dr. Teuku Jacob, keberadaan masyarakat pygmi sangat menarik dan mengejutkan. Karena, selama bertahun-tahun para ahli hanya berkutat dengan jejak manusia purba melalui fosil. tapi tidak pernah terbayangkan bahwa di sekitar kawasan itu terdapat sebuah komunitas masyarakatkatai yang hingga kini masih hidup dan bertahan Mengapa mereka bisa hidup selama ribuan tahun tanpa pernah berpindah-pindah? Kawasan Nusa Tenggara Timur memang telah menjadi objek penelitian para antropolog Belanda. Mereka berpendapat bahwa penduduk setempat mempunyai ukuran tinggi badan yang agak pendek. Menurut penelitian Biljmer tahun 1929. lebih dari 50 persen penduduk setempat memiliki ukuran tinggi badan sekitar 155 sampai dengan 163 cm. Bahkan menurut warga setempat, ada orang-orang bertubuh pendek dengan warna kulit kehitam-hitaman (Negrito) yang tinggal di perbukitan dan bersembunyi di gua-gua. Menurut Jacob, tinggi orang Negrito itu berkisar 155 sampai dengan 163 cm maka sebutannya adalah Dygmo Tetapi, masyarakat di Rampasasa itu adalah pygmi atau katai, karena tinggi badan mereka di bawah 145 cm untuk laki-laki dewasa dan wanita dewasanya malah hanya sekitar 135 cm, Berat badan pria maksimal 40 kg dan wanitanya rata-rata 30kg Perlu diketahui bahwa katai memang berbeda dengan kerdil. Istilah kerdil menunjukkan ukuran badan mengecil dengan proporsi rusak atau tidak beraturan, sementara itu kata ukurannya kecil secara proporsional.

Pada akhir tahun 2004, Prof. Dr. R, P. Soejono dan Dr. M.J. Monwood melakukan penggalian di Liang Bua, Flores. Mereka menemukan tengkorak manusia dengan tinggi badan sekitar 130 cm dengan besar otaknya sepertiga manusia sekarang. Spesies inilah yang kemudian dikenal dengan Homoforesiensis atau Manusia Flores Lalu, apa yang menyebabkan punahnya Homo erectus itu? Ada ahli yang berpendapat bahwa hal itu disebabkan keterbatasan mereka dalam menggunakan strategi hidup. Tidak banyak ditemukannya peralatan batu di sekitar penemuan fosil mereka menunjukkan bahwa kehidupan mereka masih teramat primitif. Ada dugaan bahwa mereka memakan daging dari binatang yang telah mati (scavenger) Sementara itu menurut beberapa ahli, penduduk asli pertama Pulau Jawa atau yang dikenal dengan Homo sapiens mungkin mirip dengan suku Aborigin di Australia yang berasal dari Indonesia sekitar 40.000 tahun yang lalu. Mereka ini disebut dengan Australoid yang kemudian tersingkir oleh pendatang dari Asia Tenggara yang telah memiliki kebudayaan lebih maju dan mampu beradaptasi lebih baik sebagai pemburu. Keturunan manusia jenis ini sudah tidak ditemukan di Jawa, tetapi saat ini bisa ditemukan sebagai suku Anak Dalam atau Kubu di Sumatra bagian tengah dan Indonesia bagian timur. Dalam perkembangan selanjutnya, sekitar 3.000 sampai dengan 5.000 tahun lalu, datanglah arus pendatang yang dikenal dengan Proto Malays ke Pulau Keturunan mereka masih bisa ditemukan di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, Tengger di Jawa Timur, Dayak di Kalimantan, dan Sasak di Lombok.

Gelombang berikutnya berasal dari Austronesia atau Malays yang berasal dari Taiwan dan Cina Selatan. Mereka datang melalui laut ke Pulau Jawa. sampai sekarang masih sekitar 1.000 sampai dengan 3.000 tahun lalu. Keturunannya bisa ditemukan di Indonesia bagian barat dengan keahlian bercocok tanam padi pengairan, membuat barang tembikar atau barang pecah belah dan kerajinan dari batu Melalui pembelajaran sebelumnya, kamu telah mengetahui dari mana asal usul manusia Indonesia dan bagaimana terbentuknya masyarakat pada masa awal. Maasing masing tahap harus dilalui dalam waktu yang sangat lama, bahkan hingga jutaan tahun lamanya perkembangan manusia purba berdasarkan peralatan Setidaknya ada empat tahap
yang mereka pakai. Berikut deskripsinya.

1. Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat sederhana

Tahap food gathering and hunting adalah kehidupan manusia prasejarah yang mempunyai corak berburu dan meramu. Berburu adalah kegiatan manusia purba untuk memperoleh bahan makanan dengan cara memburu binatang. memasang perangkap, dan menjeratnya. Sedangkan meramu adalah kegiatan untuk mendapatkan bahan makanan dengan cara mengumpulkan tumbuh-tumbuhan secara langsung dari alam.

a. Corak Kehidupan Masyarakat

Tahap berburu dan meramu tingkat awal berlangsung sejak 2 juta sampai 10.000 tahun yang lalu. Tahap ini berlangsung pada zaman pleistosen. Manusia yang hidup pada zaman itu adalah Homo erectus dan Homo sapiens. Untuk mendapatkan makanan, pada masa itu manusia purba hanya tinggal mengambilnya dari alam. Caranya dengan berburu dan mengumpulkan bahan tumbuhan. Oleh karena itu, biasanya mereka memilih makanan dari tumbuh-tumbuhan kawasan yang berupa padang rumput dengan semak belukar dan hutan kecil di sekitarnya atau dekat dengan sumber air, sungai, danau, dan rawa Pada tahap berburu dan meramu tingkat awal ini, Homo erectus dan Homo wajakensis biasanya tinggal didalam gua-gua.

Mereka biasa berburu gajah purba, banteng purba, dan binatang-binatang hutan lainnya Gua adalah tempat yang relatif aman dan sudah dalam kondisi siap pakai Gua-gua itu biasanya mereka gunakan sebagai tempat istirahat sementara saat harus mencari makan dan berpindah dari satu tempat ke tempat yang menetap dan setengah lain. Artinya, mereka mereka hidup secara setengah sedangkan gua yang mereka pilih adalah gua alam atau cave dan gua payung bukit karang atau rocklabris sous roche. Letak gua ini biasanya didekat sebuah sumber air dan makanan

Kehidupan manusia purba dalam gua-gua itu biasanya membentuk kelompok-kelompok kecil. Anggota setiap kelompok sekitar 20-30 orang Pembentukan kelompok-kelompok kecil ini ternyata mempunyai beberapa keunggulan, terutama untuk:

1) menghadapi serangan musuh bersama

2) melaksanakan kegiatan berburu dan meramu

3) menghadapi datangnya serangan binatang liar, dan

4) mempermudah pengembaraan

Dengan membentuk kelompok-kelompok kecil itu, sebetulnya manusia prasejarah telah mengenal pembagian tugas atau kerja. Misalnya saat harus binatang buruan. Untuk mengejar seekor binatang dibutuhkan beberapa laki-laki yang mempunyai ketangkasan dan kecepatan dalam berlari. Tentu pekerjaan ini tidak sesuai dengan karakter wanita. Mereka mungkin bisa membantu saat harus meramu atau menguliti binatang buruan. Tugas lain yang biasa disandang oleh wanita adalah menjaga gua dan merawat anak.

b. Peralatan Hidup Manusia Purba

Untuk mendukung kehidupannya, manusia purba menggunakan dan membuat beragam peralatan. Peralatan yang biasa digunakan untuk berburu dan meramu itu berasal dari bahan batu, kayu, tanduk, dan tulang ikan. Artefak dan fosilnya kebanyakan masih bisa ditemukan, kecuali peralatan yang terbuat dari bahan kayu Teknik pembuatan alat masih sederhana sehingga menghasilkan alat-alat yang kasar karena tidak dihaluskan. Jenis alat zaman berburu dan meramu tingkat awal sebagai berikut:

1) alat Budaya Pacitan

Alat budaya Pacitan yang berasal dari batu ada dua, yaitu

a) Tradisi Batu Inti

(1) Kapak perimbas (chopper) untuk merimbas kayu, pemecah tulang. dan sebagai senjata.
(2) Kapak genggam (hand adze) untuk menggali, memotong, dan nguliti
Alat-alat ini ditemukan di Punung, Pacitan Jawa Timur) dan dibeberapa tempat lain. Alat-alat budaya Pacitan kecuali ditemukan di Desa Punung dan Tabuhan, Pacitan juga ditemukan di Jampang Kulon (Sukabumi, Jawa Barat): Gombong (Kebumen Jawa Tengah): Ngadirojo dan Sambung macan (Sragen, Jawa Tengah), Tanjungkarang (Lampung) Awang Bangkal (Kalimantan Selatan): Cabbenge (Sulawesi Tenggara) Sembiran dan Trunyan (Bali): Batutring (Sumbawa), Wangka Mengeruda, Alabula, Maumere (Flores) serta Atambua, dan Kefamenanu(timor)

b) Thradisi Batu Serpih atau Flakes

(1) Gurdi untuk membuat lubang
(2) Pisau untuk memotong
(3) Tombak untuk menombak.

 Alat budaya serpih bilah berupa penggaruk, serut, gurdi, penusuk, maupun pisau ditemukan di Punung Pacitan, Sangiran Gombong, Lahat, Cabbenge, Maumere Mengeruda, dan Atambua (NTT)

2) Alat Budaya Ngandong

Alat budaya Ngandong dibuat dari tanduk, tulang, dan duri ikan. Alat budaya ini terdiri atas sudip kebudayaan Toala. mata tombak, dan belati/penusuk. Alat-alat ini ditemukan di Ngandong, Blora Jawa Tengah)

2. Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Lanjut

Seperti pada masa sebelumnya, corak hidup masyarakat pada masa berburu dan meramu tingkat lanjut juga didominasi oleh corak hidup berburu dan meramu. Setelah ribuan tahun berburu dan meramu (dari 1.900.000-4.500 tahun yang lalu) manusia mulai memiliki kepandaian dalam mengolah tanah dengan menanam keladi Jika masa berburu meramu tingkat awal didukung oleh Homo erectus dan Homo wajakensis, budaya pada masa tingkat lanjut ini didukung oleh manusia Australomelanesid (dan sedikit jenis Mongoloid yang khusus menempati wilayah Sulawesi Selatan). Kemampuannya dalam berburu juga telah meningkat. Alat-alat yang dipergunakan antara lain perangkap, jerat, mata panah, dan busur

a. Corak Masyarakat Manusia purba yang hidup pada tingkat berburu dan meramu tingkat lanjut tetap memilih tinggal di gua-gua alam serta gua payung (abris sous roche) letaknya tidak jauh dari sumber air, danau, atau sungai yang kaya akan ikan, siput, dan kerang Mereka yang tinggal di tepi pantai muara sungai membangun permukiman berupa rumah panggung. Dugaan bahwa merekatinggal di rumah ini dapat disimpulkan dari temuan bukit remis (kyokkenmodinger) di kawasan Nanggroe Aceh Darussalam dan
Sumatra Utara. Mereka sudah mulai mengenal kepercayaan tentang hidup sesudah mati dan kesenian. Hal itu terlihat dalam beberapa aktivitas sebagai berikut


1) Mengubur Mayat
Pada umumnya mayat dikubur denganposisi jongkok, tangan terlipat di bawah dagu Pada umumnya mayat dikubur dengan perhiasan kuli bawah dagu di depan perut, disertai bekal kubur berupa kerang. Bahkan ada beberapa tulang kerangka diberi hematit (bahan pewarna dari oker) yang dikenal pula sebagai penguburan mayat sekunder (dua kali) Tempat Tinggalnya

2) Membuat Lukisan pada Dinding Gua Mereka melukis dinding gua tempat tinggalnya dengan cara menggores dan mengecat (hitam, merah, putih) serta cap tangan yang sebelumnya sudah ditaburi cat oker. Pada Gua Pattae di Sulawesi Selatan ditemukan lukisan cap tangan (berkaitan dengan perkabungan) dan lukisan babi rusa
(keberhasilan perburuan). Pada Gua Leang di Sulawesi Selatan terdapat gambar berwarna seekor babi hutan yang sedang Maros berlari dan lukisan cap tangan. Selain itu di Gua Jarie dan Gua burung juga ditemukan lukisan cap tangan Pada dinding gua-gua di Seram dilukiskan perahu (lambang alat transpor ke dunia roh) dan jug bertopeng (melindungi dari gangguan jahat). Lukisan serupa ditemukan di Pulau Muna (Sulawesi Selatan)

b. Alat
Alat bantu untuk berburu dan meramu tingkat lanjut menggunakan masih bahan batu, kayu, dan tulang. Teknik pembuatannya sudah dikerjakan lebih lanjut, yaitu sedikit diperhalus. Jenis alat yang dipakai sebagai berikut.

1) Alat Budaya Kyokkenmodinger (dari Batu)

Alat budaya dari batu yang ditemukan di dalam Kyokkenmodinger antara lain:
memotong
menggali, dan
a) kapak Sumatra pebble digunakan untuk menguliti,memotong
menggali,
 serta

b) batu pipisan/batu giling digunakan untuk menggiling obat-obatan atau menggiling zat pewarna untuk hematit

Alat-alat ini ditemukan di
timbunan bukit remis Besuki, Jawa Sumatra Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam serta gua-gua di  Jawa Timur. kyokken yang berarti dapur dankyokkenmodinger berasal darikata (terutama kulit modding yang berarti sampah. Artinya segala sisa makanan prasejarah" di kerang, siput, dan remis) yang dibuang. Pada "garis pantai membentang kawasan timur Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatra Utara pantai dari Lhokseumawe sampai Medan (sekitar 40-50 km dari garis sekarang), ditemukan timbunan/bukit remis yang diduga sebagai timbunan yang tinggal di rumah sisa makanan dari manusia  panggung dari garis pantai timur Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatra Utara yang landai. Pada timbunan kulit kerang ini ditemukan fosil kapak sumatra, dan batu pipisan

2) Alat-Alat Budaya Abris Sous Roche
Alat-alat budaya yang ditemukan dalam abris sous ini banyak ditemukan roche sebagai berikut.
 a) Serpih berupa pisau dan gurdi dari batu. Alat ini ditemukan di Sulawesi Selatan, Flores, dan Timor gua-gua sulawesi selatan,flores, dan timor
b) Alat-alat tulang berupa belati, sudip, mata kail, dan penusuk. Alat ini ditemukan di Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi Selatan.

3. Masa Bercocok Tanam

Masa pleistosen berakhir, berganti dengan masa holosen. Hal itu ditandai dengan naiknya permukaan laut sehingga daratan menyempit dan iklim menjadi lebih panas (kering) Seiring dengan pertambahan manusia purba di bumi wilayah perburuannya pun bertambah sempitBerburu sudah tidak dapat lagi digunakan sebagai matapencarian pokok. Oleh karena itu, mereka berusaha untuk pencahar menghasilkan bahan makanan sendiri. Usahanya yaitudengan membudidayakan tanaman dan beternak. Pada masa ini berarti manusia purba sudah mengalami peningkatan yaitu dari pengumpul makanan food gatherer) menjadi penghasil makanan food producer)

a. Corak Kehidupan Masyarakat


Memasuk 1500 SM, Kepulauan Nusantara menerima kedatangan migrasi jenis manusia Malayan Mongoloid disebut juga Melayu austronesia berasal dari kawasan Yunan (cina Selatan). Mereka dominan wilayah bagian barat Indonesia, sedangkan Australomelanesid tergeser ke arah timur Disusul kemudian dengan pembauran antara kedua jenis manusia tersebu Mereka memasuki Indonesia melalui dua alur sebagai berikut

1) Jalur Selatan
Yunan-Thailand-Semenanjung Malaka (Malaysia)-Sumatra-Jawa-Bali lombok flores sulawesi Selatan

2)Jalur Timur
Yunan-Vietnam-Taiwan-Maluku-Sulawesi Utara/PapuaBangsa Melayu austronesia datang dengan membawa kepandaian bercocok tanam di ladang. Tanaman-tanamannya terbagi dalam dua macam
1) Tanaman usia seperti keladi, labu air, ubi rambat, dan padi gaga
ladang)

2) Tanaman usia panjang, seperti sukun, pisang. dan kelapa. Sebagai sumber
makanan tambahan, mereka tetap meramu sagu

Sebagai petani dan peternak, mereka memerlukan kebersamaan yang tinggi untuk menebang hutan, membakar semak, menaburlmenanam benih, memetik hasil ladang, mendirikan rumah, dan menyelenggarakan upacara. Gotong royong semakin nyata dalam kehidupan bercocok tanam. Untuk mengatur kehidupan bersama, mulai terlihat peran para pemimpin primus interpares yang utama dari sesamanya), yaitu Ketua SukuwRatu/Datuk.

1) Ratu Datuk

Gelar primus interpares di Nusantara adalah Ratu atau Datulky. Hatu atau Datulky, berasal dari kata rada yang artinya terhormat, dan tu yang artinya orang. adi, arti kata Ratu atau Datutk) orang yang patut dihormati karena kepemimpinannya, kecakapannya kesetiaannya, dan pengalamannya. Mereka juga sudah terampil membuat gerabah, anyaman, pakaian, dan babkan perahu.

2) Gerabah

Gerabah dibuat dari bahan tanah liat dicampur pasir. Teknologinya masih sederhana, dengan tekrik tangan dikombinasi teknik tatap sehingga hasilnya masih kasar dan tebal. Hasil-hasil gerabahnya berupa periuk, cawan, piring, dan pedupaan Gerabah-gerabah ini berfungsi sebagai wadah makanan, minuman maupun alat keperluan upacara. Gerabah zaman ini banyak ditemukan di Kendeng lembu, Banyuwangi Jawa Timur. Kalumpang dan Minanga, Sippaka Tengah), Danau Poso (Sulawesi Tengah), serta Minahasa (Sulawesi Utara)

3) Anyam-anyaman

Bahan untuk anyaman dibuat dari bambu, rumput,  dan rotan. Teknologinya dengan teknik anyam dan pola geometrik. Fungsinya sebagai wadah barang barang rumah tangga
4) Pakaian

Berdasarkan temuan alat pemukul kulit kayu di Ampah, Kalimantan Selatan  Sippaka (Poso, Sulawesi diduga di Minan dikenal pakaian yang dibuat dari tenunan serat kulit kayu. Bahan lain yang serat abaka (sejenis pisang) dan rumput doyo

5) Perahu/Teknik Membuat Perahu

Teknik pembuatan perahu masih sederhana Pembuatan perahu menggunakan bahan sebatang pohon. Namun, tidak semua jenis pohon dipergunakan sebagai perahu. Contoh pohon yang dapat digunakan sebagai perahu yaitu benda meranti, lanang, dan kedondong. Pohon yang telah dipilih sebagai bahan pembuatan perahu, pene- bangannya harus didahului upacara. Pembuatan perahu dimulai dari sisi luar. Sesudah
isi luar, sisi dalam dikeruk dengan memerhati kan ujung pasak yang dipakukan dari sisi luar agar cadi ketebalan dinding perahu sama tebal. Jika luas perahu ingin dikembangkan, caranya sebagai berikut.

a) Perahu diisi air
b) Bagian bawahdipanasi dengan api sehingga dinding perahumengembang


c) yang sudah mengembang tidak kembali dinding perahu semula, perahu tersebut diganjal dengan potongan papan kayu melintang Agar perahu tidak terbalik pada sisi perahu dipasang Cadikkatiksebagai penyeimbang. Untuk menggerakkan perahu dapat dipasang layar. Biasanya. yang digunakan sudu bahasa Jawa
Pada saat itu sudah dikenal perdagangan dengan sistem barter atau menukar Besar kecilnya nilai barang pengganti ditentukan dan disepakat berupa bersama. Kuat dugaan bahwa pada saat itu sudah dikenal alat penukaran kulit kerang yang indah. Bahan-bahan yang ditukar antara lain:

a) ramuan hasil hutan

b) hasil pertanian/peternakan

C) gerabah, beliung, perhiasan, dan perahu serta

d) garam ikan laut.
b. Kepercayaan

Bangsa Melayu austronesia mengenal kepercayaan dan upacara pemujaan kepada arwah nenek moyang atau para leluhur. Para leluhur yang meninggal dikuburkan dengan upacara penguburan. Ada dua macam cara sebagai berikut.

1) Penguburan Langsung

Mayat hanya dikuburkan sekali, yaitu langsung dikubur di dalam tanah atau diletakkan dalam sebuah wadah kemudian dikuburkan di dalam tanah dengan upacara. Cara meletakkan mayat ada dua cara, yaitu

a) membujur, dan

b) terlipat meringkuk.

Penempatan mayat pada tiap-tiap posisi selalu dibaringkan mengarah ke tempat roh atau arwah para leluhur (misalkan dipuncak gunungl. Sebagai bekal dalam perjalanan ke dunia roh, disertakan bekal kubur yang terdiri atas seekor anjing, unggas, dan manik-manik. Semuanya itu ditempatkan pada periuk atau pinggan dan lain-lain. Contoh penguburan seperti ini adalah penguburan di Anyer Jawa Barat) dan di wangan, Rembang Jawa Tengah)

2) Penguburan Tidak Langsung

Penguburan tidak langsung biasa dilakukan di Melolo (Sumba) Gilimanuk (Bali), Lesung Batu (Sumatra Selatan), dan Lomblen Flores (NTT) dikubur Cara penguburan tidak langsung, yaitu mula-mula madi dalam tanah tanpa upacara. Setelah diperkirakan sudah menjadi kerangka tersebut dicuci mayat yang sudah dikubur tersebut digali lagi kadang-kadang diberi hematit pada bagian persendian. Kemudian, kerangka tersebut diletakkan dalam wadah tempayan atau sarkofagus. Namun, kadang kadang kerangka tersebut tidak diberi wadah. Setelah itu, kerangka tersebut dikubur lagi disertai upacara penguburan Ada kepercayaan bahwa seseorang yang telah mati itu jiwanya berada di dunia roh. Dalam dunia roh tersebut, tiap orang mempunyai tempat yang berbeda. Perbedaan tempatnya tersebut berdasarkan pada

a) perbuatan selama masih hidup, dan

b) besarnya upacara kematian atau penguburan yang diselenggarakan. Puncak upacara adalah untuk melapangkan jalan bagi si mati ke dunia roh, yang ditandai dengan mendirikan bangunan batu besar (megalith)

c. Bangunan-Bangunan Megalith

Kata megalith berasal dari bahasa Yunani, Mega artinya besar dan lithos artinya batu. Maksudnya, bangunan yang dibuat dari batu besar. Bangunan mega lith dibuat dan digunakan untuk penghormatan dan pemujaan roh para leluhur. galith dibangun atas dasar konsep-konsep sebagai berikut.

1) Kepercayaan hubungan antara yang masih hidup dengan yang sudah m

2) Pengaruh yang kuat dari yang sudah mati terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanah.

Bangunan megalith ini mulai dibangun pada masa tanam dan berlanjut sampai dengan masa bangunan sebagai berikut.

1) Punden Berundak

Punden dak adalah bangunan pemujaan para leluhur berupa bangunan a bertingkat dengan bahan dari batu. Di atas bangunan tersebut biasa didirikan menhir. Bangunan ini banyak dijumpai di Kosala dan Domas Cisolok (Sukabumi), serta Pugungharjo (Lampung).

2) Menhir

Menhir (men batu; hir berdiri) adalah bangunan berupa batu panjang yang didirikan tegak menjulang sebagai media atau sarana penghormatan, sebagai tempat roh, sekaligus lambang dari si mati. Menhirbanyak ditemukan di Sumatra Selatan, Jawa Barat, dan Sulawesi Tengah. Dalam upacara pemujaan menhir juga berfungsi sebagai tempat untuk menambatkan hewan kurban. Tempat-tempat penemuan menhir di Indonesia, yaitu Pasemah (Sumatra Selatan), Pugungharjo (Lampung), Kosala, Leba Sibedug, Leles, Karang Muara, Cisolok (Banten, Jawa Barat), Pekauman Bondowoso (Jawa Timur), Trunyan dan Sembiran (Bali), Ngada (Flores), Belu ITimor), Bada-Besoha dan Tana Toraja (Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan)

3) Dolmen

batu) adalah batu besar dengan permukaan Dolmen (dolmen rata sebagai tempat meletakkan sesaji, sebagai pelinggih roh, dan menjadi tempat duduk ketua suku agar mendapat berkat magis dari leluhurnya. ini dapat ditemukan di Pulau Samosir (Sumatra Utara), Pasemah (Sumatra Selatan), Leles (Jawa Barat), serta Pekauman dan Pakian diBondowoso Jawa Timur)

4) Sarkofagus

Sarkofagus adalah peti mati, dengan posisi mayat berbaring meringkuk yang terbuat dari satu batu utuh, terdiri atas wadah dan tutup. Sarkofagus banyak ditemukan di Indonesia terutama di Bondowoso Jawa Timur) dan Bali. Guna melindungi roh si mati dari gangguan gaib, pada sarkofagus sering dipahatkan motif kedok topeng dalam berbagai ekspresi. Sarkofagus adalah "perahu roh" untuk membawa roh berlayar ke dunia roh

5) Kubur Batu

Seperti sarkofagus tetapi dibuat dari papan-papan batu. Banyak ditemukan di Pasemah (Sumatra Selatan) dan Kajar, Gunung Kidul (DIY)

6) Arca Batu

Beberapa arca sederhana yang menggambarkan para leluhur binatang gajah kerbau, monyet). Arca batu ditemukan di Sumatra Selatan, Jawa Barat, dan Sulawesi, Arca batu di Pasemah (Sumatra Selatan), oleh masyarakat di sekitarnya dikaitkan dengan legenda tentang Si Pahit Lidah. Temuan arca batu tersebut berasal dari Batu Raja dan Pager Dewa (Lampung), Kosala, Lebak Sibedug, dan Cisolok (Jawa Barat), Pekauman Bondowoso jawa Timur), serta Bada-Besoha (Sulawesi Tengah)

7) Waruga

Waruga berpenampilan dan berfungsi seperti sarkofagus, tetapi dengan posisi mayat jongkok terlipat. Waruga hanya ditemukan di Minahasa. Selain sudah mengenal upacara perkabungan sehubungan dengan kematian, bang Melayu austronesia sudah mengenal tradisi pengayuan, fetisisme, dan mutilisi (asah gigi, tindik telinga, potong rambut, cabut gigi, dan sunat

d. Alat

Pada masa bercocok tanam dan beternak, alat-alat dipergunakan untuk membantu bercocok tanam. Alat-alatnya masih menggunakan bahan batu dan kayu. Namun, kemudian juga dikenal bahan dari tanah liat Teknik pembuatannya sudah dikerjakan dengan baik. Alat-alat dihaluskandengan diasah atau diupam dan teknik penggunaannya sudah memakai tangkai Pengasahan alat-alat dari batu ini tidak dilakukan atas seluruh permukaan, tetapi bagian yang tertutup oleh tangkai dibiarkan sedikit agak kasar agar memiliki daya kait yang lebih kuat Jenis alat yang dipergunakan pada masa bercocok tanam dan beternak sebagai berikut

1) Kapak Persegi

Disebut kapak persegi karena kapak ini dibuat dalam penampang persegi. Macam- macam kapak persegi, yaitu beliung, cangkul dan tatah. Bagian yang tajam dari kapak persegi diasah miring (ingat cara mengasah pahat). Kapak diberi tangkai dengan teknik mengikat. Cara memakainya seperti jika kita memakai cangkul atau kapak perajin kayu sekarang

Fungsi kapak persegi sebagai berikut.

a) Sebagai beliung, digunakan untuk memotong kayu (membuat perahu misalnya)

b) Sebagai cangkul, digunakan untuk mengolah tanah

c) Sebagai tatah, digunakan untuk memotong kayu

Kapak persegi ini ditemukan tersebar di bagian barat Indonesia dari Sumatra (Bengkulu, Sumatra Selatan, dan Lampung), Jawa Barat, Bali, NTT (Solor, Adonara), Sulawesi Tengah, serta Ternate. Kecuali kapak persegi yang sudah diasah, ditemukan pula kapak persegi yang belum diasah. Kapak ini diduga sebagai barang dagangan. Sentra pembuatan kapak persegi setengah jadi antara lain di Bunga Mas (Sumatra Selatan); Pasir Kuda, Bogor dan Karangnunggal, Tasikmalaya Jawa Barat, Karangbolong, Kebumen Jawa Tengah) serta Punung, Pacitan dan Kendeng lembu, Banyuwangi Jawa Timur)

2) Lonjong

Disebut kapak lonjong karena dibuat dalam penampang lonjong. Jenis kapak ini banyak ditemukan di kawasan timur Indonesia antara lain Sulawesi Sangihe Talaud; Flores, Maluku, Leti, Tanimbar, dan terutama di Papua Bagian yang tajam diasah dari dua sisi dan diberi tangkai dengan posisi seperti kapak penebang kayu sekarang.

3) Mata Panah

Alat ini banyak ditemukan di Maros dan Kalumpang (Sulawesi Selatan) Gua Sampung dan Gua Lawa di daerah Tuban, Bojonegoro, serta Punung Jawa Timur)

4) Gurdi dan Pisau

Gurdi dan pisau neolitik banyak ditemukan di kawasan tepi danau. Misalnya di Danau Kerinci (Jambi): Danau Bandung, Cangkuang, Leles, Danau euwiliang Jawa Barat): Danau Tondano. Minahasa (Sulawesi Utara), dan sebuah danau di Flores Barat.

5)Perhiasan

Perhiasan neolitik ini dibuat dari batu mulia, berupa gelang, banyak ditemukan di Jawa Barat (Tasikmalaya, Cirebon, dan Bandung)

6) Gerabah

Gerabah adalah alat-alat atau barang-barang yang dibuat dari tanah lia


4.  Masa Perundagian

Pada masa perundagian (undagi tukang), manusia purba sudah mengenal bijih logam. Mereka sudah lebih berpengalaman sehingga dapat mengenali bijih bijih logam yang dijumpai meleleh di permukaan tanah. Bijih logam yang ditemuka terutama berasal dari tembaga. Kemudian mereka membuat alat-alat yang dari bahan bijih logam yang ditemukan. Teknologi logam kuno yang terdapat di Indonesia dipengaruhi oleh Vietnam. Hasil teknologi ini dikenal dengan Budaya Dong Son. Selain itu, Thailand juga merupakan negara asal teknologi logam kuno

a.  Corak Kehidupan Masyarakat

pada saat berlangsungnya proses pembauran antara pendatang Melayuaustronesia dari Yunan Selatan dengan Australomelanesid pada sekitar tahu 300 SM, tibalah gelombang II emigran Melayir austronesia yang berasal dari Dong Son vietnam sekarang. Kebudayaan bangsa Melayu austronesia gelombangII ini setingkat lebih maju daripada emigran bangsa Melayu austronesia gelombang i. Mereka telah menguasai teknologi sebagai berikut.

1) Teknologi pertanian basah, yaitu bersawah

2) Teknologi metalurgi pengecoran logam.

Teknologi pertanian basah dikembangkan bersama dengan teknologi pengairan. Mereka belum mengenal usaha untuk mempertahankan kesuburan tanah dengan cara pemupukan, tetapi dilakukan melalui upacara magis fertility cult. Teknolog metalurgi setidak-tidaknya mencakup dua teknik pokok, yaitu teknik pengambilan logam dan teknik pengolahan barang logam.

Permukiman atau desa yang mereka bangun menyebar di segala tempat. Permukiman itu bar mulai dari tepi pantai sampai ke pedalaman di gunung-gunung. Pembangunannya lebih teratur, dipagar dengan tempat penguburan di luar per- mukiman.

Selain pengerjaan tanah dan pengerjaan logam, pada masa perundagian mereka juga sudah mengenal hal-hal berikut: permainan gamelan (alat musik), astronomi, metrik (ukuran), tata pemerintahan, teknik membatik, dan pelayaran

b. Alat

Pada masa perundagian telah dikenal bahan untuk membuat barang berupa logam. Logam untuk membuat barang-barang tersebut adalah perunggu dan besi Logam perunggu dihasilkan dari campuran tembaga dan timah Ada beberapa teknologi untuk membuat barang dari logam yaitu teknik tempa, acire perduelcetak lilin, dan bivalve setangkuplcetak ulang. Dalam teknik pengecoran logam, ada dua macam cara pengerjaan yaitu teknik tempa dan teknik tuang cetak. Teknik ini ada dua cara yaitu teknik cetak lilin (a cire perdue) hanya dapat digunakan satu kali dan teknik cetak setangkup (bivalve) dapat digunakan berkali-kali

C. Jenis Barang/Alat Peninggalannya

Jenis-jenis barang atau alat yang menjadi peninggalan dari masa perundagian terbuat dari perunggu, besi, dan tanah liat.
1) Bahan Perunggu

Barang-barang peninggalan yang terbuat dari bahan perunggu sebagai berikut

a) Nekara

Nekara adalah genderang perunggu. dengan membran satu. Berdasarkan hiasan yang terdapat dalam beberapa nekara, benda ini diduga digunakan untuk memanggil roh para leluhur untuk turun ke dunia dan memberi berkah dan memanggil hujan. Nekara ini ditemukan di Pejeng dan Bebitra (Bali), Sumatra, NTT, Weleri (Jawa Tengah), serta Banten

b) Kapak Corong

Disebut kapak corong karena kapak dari perunggu ini bentuknya seperti corong. Kapak ini disebut juga kapak sepatu (karena berbentuk seperti sepatu). Fungsinya tetap sama seperti kapak sebelumnya, yaitu untuk memotong kayu. Kapak ini banyak ditemukan di Sumatra Selatan, Jawa, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan di Papua

c) Arca Perunggu

Arca-arca berupa manusia dan binatang ditemukan di Bangkinang (Riau), Palembang, Bogor, dan Lumajang Jawa Timur)

d) Bejana Perunggu

Bejana perunggu berbentuk seperti kepis (wadah ikan pada pemancing) dengan pola hias pilin berganda pada sisi luar. Barang ini telah ditemukan di Kerinci Jambi dan Asemjaran, Sampang, Madura (Jawa Timur

e) Perhiasan

Perhiasan dari perunggu berupa gelang, gelang kaki, anting-anting kalung, cincin, dan mainan kalung

f) Senjata

Beberapa mata tombak dan belati perunggu ditemukan di Prajekan Uawa Timur) dan Bajawa (Flores)

2) Bahan Besi

Bahan besi seharusnya berjumlah lebih banyak. Namun, karena sifatnya mudah dimakan karat, maka barang-barang tersehut justru hanya ditemukan sedikit. Barang-barang tersebut berupa mata alat tenun, pisau sabit tembilang, pedang, dan tombak.

3) Bahan Tanah Liat

Pada zaman perundagian, teknik pembuatan barang-barang dari tanah liat gerabah) telah lebih maju jika dibandingkan dengan pembuatan gerabah pada zaman bercocok tanam. Pekerjaannya lebih halus lebih tipis. Selain menggunakan tatap, mereka juga sudah menggunakan pelarikan/roda berputar. Pusat pembuatan gerabah terdapat di Gilimanuk (Bali) dan Melolo (Sumba)


Sistem Kepercayaan Awal Masyarakat Indonesia

1.Kepercayaan Terhadap Roh Nenek Moyang Perkembangan sistem kepercayaan pada masyarakat Indonesia berawal dari kehidupan masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan. Pada umunya
mereka hidup berpindah-pindah. Namun, dalam perkembangannya mereka mulai menetap, menetap di goa-goa yang di tepi pantai atau di pedalaman. Orang mulai memiliki pandangan bahwa hidup tidak berhenti setelah orang meninggal. Orang yang meninggal dianggap pergi ke suatu tempat yang lebih
baik. Inti kepercayaan terhadap roh nenek moyang terus berkembang dari zaman-zaman.

2. Kepercayaan Bersifat Animisme
Animisme merupakan kepercayaan masyarakat terhadap benda yang dianggap memiliki roh atau jiwa.
Awal munculnya kepercayaan ini didasari dari berbagai pengalaman masyarakat yang bersangkutan. Di samping itu muncul kepercayaan terhadap benda-benda pusaka yang dipandang memiliki roh yang dianggap dapat memberi petunjuk tentang berbagai hal yang berkembang dalam masyarakat. Contohnya sebilah keris yang dianggap pusaka. Kepercayaan seperti ini masih berkembang hingga sekarang.

3. Kepercayaan Bersifat Dinamisme
Dinamisme adalah kepercayaan bahwa setiap benda memilki kekuatan gaib. Contohnya batu cincin dipandang mempuyai kekuatan untuk melemahkan lawan.

4. Kepercayaan Bersifat Monoisme
Monoisme adalah kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Kepercayaan ini muncul berdasarkan pengalaman-pengalaman dari masyarakat.


/* kode iklan */

jangan lupa iklannya diklik ya, to "Materi Sejarah Kehidupan Awal Masyarakat Indonesia"

Post a Comment