8/08/2016T8/08/2016

Contoh Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Dasar

/* kode iklan */
/* kode iklan */
Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Dasar
BAB I

PENGAMANAN LABORATORIUM

MIKROBIOLOGI

Bahaya yang berkaitan dengan penanganan bahan
yang mengandung mikroorganisme patogen di laboratorium dapat dibagi dalam 2 golongan, yaitu:
1.       Ditimbulkan dari pelaksanaan suatu teknik laboratorium. Setiap langkah kegiatan laboratorium mikrobiologik klinik, selalu mengandung resiko bahaya penularan mikroorganisme patogen.
2.       Merupakan akibat kecelakan laboratorik, misalnya pecahnya tabung atau pctri yang mengandung mikroorganisme, gigitan hewan percobaan, tumpahan, dsb. Penyebab timbulnya infeksi
laboratorium, secara umum dibagi dan digolongan, sbb:
1.       1. aerosol
2.       2. bahan akibat pecahan atau tumpahan
3.       3. inokulasi sendiri (tanpa sengaja/tanpa sadar) atau terjadi luka Infeksi lewat udara merupakan hal yang paling sering terjadi.


Acrosol, yang tidak terdeteksi dapat terbentuk selama kegiatan lab, dengan cara:
1.       semprotan uap dari cairan, dari mulut botol, ujung pipet (pipette tips, kawat ose, dan pecahnya botol berisi cairan berbahaya.
2.       bercampumya gas dan cairan (pengocokkan mekanik, pemberian aerasi pada kultur, hembusan pipet)
3.       getaran (tangkai ose, arum hit ultrasonikator.
4.       benda jatuh atau tumpah, menimbulkan penyebaran di udara.
5.       membuka sesuatu alat (membuka tutup botol atau kontainer, menarik jarum dari botol vaksin, membuka tutup petri dish).
6.       kekuatan sentrifugal (centrifugal force)
7.       desis (pada saat membakar ose dan alat inokulasi lain yang disteril dengan pemijaran).
8.       gaya tolak elektrostatik electrostatic repulsion (mis: penyebaran spora jamur), atau gaya tarik (mis: plastik).
9.       adanya benda jatuh atau tercebur dalam cairan berbahaya.

Infeksi lewat udara dapat discbabkan 3 tipe bahan, yaitu:

1.        inti droplet, berasal dari droplet yang kering di udara.
2.       bahan kering (kultur liofilisasi, kerak tutup karet, spora jamur)
3.       pembawa debu (serpih karpet, sisik kulit, bulu binatang, katun, wol, kotoran kandang, dsb).
Ketiga kategori tersebut berbahaya karena merupakan pantike (terlalu besar bagi alveolus paru). Tingkat bahaya dari bahan atau suatu prosedur tergantung pada tipe kandungan mikroorganisme. M
diklasifikasi menurut tingkatan bahaya, sbb:
1.       telah ditetapkan sebagai patogen manusia.
2.       strain avirulen dari suatu patogen.
3.       patogen bagi hewan (terutama virus)
4.       patogen bagi tanaman (mis: Ervinia)
5.       fakultatif patogen (Klebsiella, Aerobacter, Paracolobacter, Escherichia dan Pseudomonas).

STERILISASI

Hampir semua tindakan yang dilakukan dalam diagnosis mikrobiologi, sterilitas sangat diutamakan baik alat-alat yang dipakai maupun medianya. Bila pada penanaman spesimen dalam media, petri, ose maupun media yang digunakan tidak steril, maka sangat tidak mungkin untuk membedakan apakah kuman yang berhasil diisolasi tersebut berasal dari penderita atau merupakan hasil kontaminasi dari alat-alat atau media yang digunakan. Suatu alat atau bahan dikatakan steril bila alat/bahan tersebut bebas dari mikroba baik dalam bentuk vegetatif maupun spora. Tindakan
Untuk membebaskan alat atau media dari jasad renik disebut sterilisasi. Dikenal ada beberapa cara sterilisasi, dan pemilihannya tergantung dari bahan/alat yang akan disterilkan. Secara garis besar sterilisasi dapat dibagi sebagai berikut:
a.       pemanasan
b.       filtrasi
c.       penyinaran dengan sinar gelombang pendek (radiasi)
d.        kimia (khemis)

A. Sterilisasi dengan Pemanasan

1. Dengan pemanasan kering Pembakaran Alat yang digunakan adalah lampu spiritusbunsen. Pembakaran dapat dilakukan dengan cara Memijarkan Pembakaran dengan cara ini hanya cocok untuk alat-alat logam (ose, pinset, dll), yang dibiarkan sampai memijar. Dengan cara ini seluruh mikroorganisme, termasuk spora, dapat dibasmi. Menyalakan Dapat diartikan suatu pclintasan alat gelas (ujung pipet, bibir tabung, mulut erlenmeyer, dll) melalui nyala api. Cara ini merupakan hal darurat dan tidak memberikan jaminan bahwa mikroorganisme yang melekat pada alat dengan pasti terbunuh. Cara mensterilkan ose: ose disterilkan dengan cara dibakar pada nyala api lampu spiritus atau lampu gas. Pada waktu memanaskan ose, dimulai dari pangkal kawat dan setelah terlihat merah berpijar secara pelan-pelan pemanasan dilanjutkan ke ujung ose. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terloncatnya kuman akibat pemanasan langsung dan terlalu cepat pada mata ose, Nyala api pada sterilisator mempunyai perbedaan dalam derajat panas ABCD (diarsir) merupakan ruang oksidasi merupakan ruang reduksi ABD dasar api ruang oksidasi atas ruang oksidasi bawah nuang reduksi atas ruang reduksi bawah bagian yang paling tidak panas. Tempat yang paling panas adalah ruang oksidasi bawah yang letaknya kira-kira sepertiga bawah dari tingginya nyala api. Yang perlu diperhatikan: Jangan memegang mata ose dengan tangan sebelum ose disterilkan. Jangan meletakkan ose di atas meja, tetapi letakkan pada tempat yang disediakan setelah disterilkan. Dengan udara panas (hot air oven) Cara ini menggunakan udara yang dipanaskan dan kering, serta berlangsung dalam sterilisator udara panas (oven). Pemanasan dengan udara panas digunakan untuk sterilisasi alat-alat laboratorium dari gelas misalnya: petri, tabung gelas, botol pipet dll, juga untuk bahan-bahan minyak dan powder misalnya talk. Bahan dari karet, kain, kapas dan kasa tidak dapat disterilkan dengan cara ini. Setelah dicuci alat-alat yang akan disterilkan dikeringkan dan dibungkus dengan kertas tahan panas, kemudian dimasukkan dalam oven dan dipanaskan pada temperatur antara 150 170°C, selama kurang lebih 90-120 menit. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa di antara bahan yang disterilisasi harus terdapat jarak yang cukup, untuk menjamin agar pergerakan udara tidak terhambat.


2. Dengan pemanasan basah

Dengan merebu

Digunakan untuk mensterilkan alat-alat seperti gunting, pinset, skalpel, jarum, spuit injeksi dan sebagainya dengan cara direbus dalam suasana mendidih selama 30-60 menit.

Dengan uap air panas

Digunakan terutama untuk mensterilkan media-media yang akan mengalami kerusakan bila dikerjakan dengan sterilisasi uap air panas dengan tekanan (autoklav) ataupun untuk alat-alat tertentu. Cara ini dijalankan dengan pemanasan 100°C selama 1 jam. Perlu diingat bahwa dengan cara ini spora belum dimatikan, dan ada beberapa media yang tidak tahan pada panas tersebut (misalnya media Loewenstein, Urea Broth). Media tersebut disterilkan dengan cara sterilisasi bertingkat ataupun filtrasi. Alat yang digunakan adalah sterilisator, autoklav, dimana tekanan dalam autoklav dijaga tetap 1 atmosfer. (klep pengatur tekanan dalam keaadaan terbuka).

Dengan uap air bertekanan (Autoklan)

Dengan cara pengatur tekanan dalam autoklav, maka dapat dicapai panas yang diinginkan. Cara ini dipakai untuk sterilisasi media yang tahan terhadap pemanasan tinggi. Sterilisasi biasanya dijalankan dengan menggunakan panas 120°C selama 10-70 menit tergantung kebutuhan. Hal yang perlu diperhatikan bila mengerjakan sterilisasi dengan menggunakan autoklav harus ditunggu selama bekerja. hati-hati bila mengurangi tekanan dalam autoklav (perubahan temperatur dan tekanan secara mendadak dapat menyebabkan cairan yang disterilkan meletus dan gelas-gelas dapat pecah). Pada sterilisasi dengan pemanasan kering, bakteri akan mengalami proses oksidasi putih telur, sedang dengan sterilisasi panas basah, akan mengakibatkan terjadinya koagulasi putih telur bakteri. Dalam keadaan lembab jauh lebih cepat menerima panas daripada keadaan kering schingga sterilisasi basah lebih cepat bila dibandingkan dengan sterilisasi kering asi putih telur lebih cepat dibanding oksidasi). Pasteurisasi Digunakan untuk mensterilkan susu dan minuman beralkohol. Panas yang digunakan 61,7 C selama 30 menit. Antiseptik adalah suatu bahan atau zat yang dapat mencegah, melawan maupun membunuh pertumbuhan dan kegiatan jasat renik. Biasanya digunakan untuk tubuh. Prosesnya disebut antiseptis. Biosidal suatu zat yang aksinya dipakai untuk membunuh mikroorganisme, misal: bakterisid, virosid, sporosid adalah zat yang aksinya untuk mencegah/menghambat pertumbuhan organisme, misal: bakteriostatik, fu

Ada beberapa zat yang bersifat anti mikroba.

1.       Fenol dan derivatnya zat kimia ini bekerja dengan cara mempresipiasikan
2.       protein secara aktif atau merusak selaput sel dengan penurunan tegangan permukaan. Fenol cepat sebagai desinfektan maupun antiseptik tergantung konsentrasinya. Daya antimikroba fenol berkurang pada suasana suhu rendah, dan adanya sabun.
3.       Alkohol Alkohol beraksi dengan mendenaturasi protein dengan jalan dehidrasi dan melarutkan lemak sehingga membran sel rusak dan enzim-enzim akan diinaktifkan oleh alkohol. Etil alkohol (etanol) 50-70% mempunyai sifat bakte untuk bentuk beracun Metanol daya bakterisidnya erisid terhadap mata. kurang dibandingkan etanol, dan
4.       Halogen beserta gugusannya. cara Halogen beserta gugusannya ini mematikan mikroorganisme dengan mengoksidasi protein sehingga merusak membran dan menginaktifka Yodium dipakai untuk mendesinfeksi kulit sebelum dilakukan pembedah Hipoklorit digunakan untuk sanitasi alat-alat rumah tangga. Yang umum
5.       dipakai adalah kalsium hipoklorit dan sodium hipoklorit.
6.       Logam berat dan gugusannya Logam berat dapat mempresipitasikan enzim-enzim atau protein esensial lain dalam sel sehingga dapat berfungsi sebagai anti mikroba.





PEMERIKSAAN MIKROSKOPIK

Kemajuan di bidang mikrobiologi tidak lepas dari peran mikroskop mengingat hampir semua mikroorganisme tidak dapat diamati dengan mata telanjang. Pemeriksaan mikroskopik bertujuan untuk memperbesar bayangan agar didapatkan gambaran yang jelas sehingga dapat dibedakan mikroorganisme, unsur-unsur seluler dan latar belakangnya. Untuk mencapai tujuan tersebut berbagai tipe mikroskop telah dikembangkan. Dikenal ada 5 jenis mikroskop, yaitu mikroskop medan terang, mikroskop medan gelap, mikroskop fluoresens, mikroskop fase kontras dan mikroskop elektron.

A. Mikroskop Medan Terang

Mikroskop medan terang adalah suatu bentuk mikroskop di mana medan yang mengelilingi spesimen kelihatan terang (berwarma cerah) sumbemya ya tampak gelap. Hal ini disebabkan karena cahaya dari berbentuk lewat melalui sistem lensa tanpa mengalami perubahan sehingga  medan yang terang. Mikroskop ini menggunakan dua sistem lensa, yaitu lensa obyektif dan lensa okuler, sehingga dikenal sebagai mikroskop majemuk. Perbesaran yang diperoleh adalah hasil keria antara dua sistem lensa, lensa obyektif yang terdekat dengan spesimen dan lensa okuler yang terletak pada ujung atas mikroskop (terdekat dengan mata). Sistem lensa obyektif memberikan perbesaran awal dan menghasikan bayangan nyata, yang kemudian diproyeksikan ke atas ke lensa okuler. Bayangan nyata ini kemudian diperbesar oleh lensa okuler untuk menghasilkan bayangan maya yang kita lihat. Walaupun perbesaran sangat penting, namun penilaian terhadap mikroskop didasarkan atas daya pisahnya. Daya pisah dua titik adalah kemampuan sistem lensa mikroskop untuk memisahkan dua titik yang berdekatan. Daya pisah ini dipengaruhi oleh gelombang cahaya yang digunakan dan apertura numerik (A).


Mengatur fokus

·         Dengan perbesaran lemah (6 mm) turunkan kondensor serendah-rendahnya. Turunkan lensa obyektif hingga jarak dari gelas obyek 7 mm sambil dilihat dari samping periksa ke dalam mikroskopsambil menggerakkan sekrup kasar atau halus dan letak preparat schingga diperoleh gambaran preparat yang jelas.
·         Dengan perbesaran kuat (4 mm) preparat ditutup dengan gelas penutup kondensor dinaikkan hingga lensa kondensor hampir menyentuh gelas obyek (preparat) diafragma dibuka selebar-lebamya turunkan lensa obyektif hingga hampir menyentuh gelas penutup preparat naikkan lensa obyektif perlahan-lahan dengan memutar sekrup kasar dan halus schingga didapat gambar yang jelas, bila perlu diafragma ditutup sedikit agar lebih jelas.
·         Dengan lensa obyektif (1,8 mm) atau dengan minyak immerse letakkan preparat pada meja benda, lakukan seperti pada pemeriksaan dengan perbesaan lemah, cari daerah yang paling tipis teteskan minyak imersi pada preparat naikkan kondensor setinggi mungkin buka diafragma selebar-lebamya turunkan lensa obyektif hingga menyentuh minyak immersi pada preparat lensa obyektif dinaikkan ke atas sedikit demi sedikit dengan menggunakan sekrup kasar dan halus hingga diperoleh gambar yang Bila sudah selesai menggunakan mikroskop, bersihkan lensa obyektifnya
·         dengan menggunakan xylo Untuk pemeriksaan mikrobiologi biasanya digunakan perbesaran antara 600-1.000 kali (okuler dengan perbesaran 6 atau 10, obyektif 100 kali.

Untuk cara ini dibutuhkan minyak immerse obyektif terendam dalam minyak immersi
kondensor dinaikkan maksimal diafragma dibuka selebar-lebarnya Kadang-kadang digunakan perbesaran 60 450 kali, misalnya untuk mengamati bentuk koloni dan pergerakan bakteri.

Mikroskop Medan Gelap

Jenis mikroskop ini merupakan variasi mikroskop medan terang yang menggunakan kondensor medan gelap khusus. Tujuan mikroskop medan gelap adalah meningkatkan daya pisah mikroskop hingga di bawah 0,2 pm. Obyck pada spesimen akan tampak berpendar. Dengan mikroskop medan gelap sel-sel spirochaeta yang mempunyai diameter 0,1 0,15 um terlihat sebagai lingkaran yang terang (halo) dengan latar belakang yang gelap.

Mikroskop Fase Kontras

Mikroskop ini merupakan modifikasi mikroskop medan terang. Sistem ini mengambil manfaat dari adanya perubahan atau penghambatan gelombang cahaya yang melewati struktur-struktur biologik dengan berbagai densitas yang berbeda. Mikroskop ini dilengkapi dengan kondensor yang mempunyai diafragma berbentuk cincin,

Mikroskop Fluoresens

Mikroskop Fluoresens menggunakan lampu uap merkuri (Mercury Vapor Lamp) untuk menghasilkan panjang gelombang cahaya yang lebih pendek dari sinar biasa. Mikroskop ini mengggunakan filter untuk menghasilkan sinar monokhromatik untuk absorbansi dan memaksimalkan sinar monokhromatik untuk emisi.

Mikroskop Elektron

Mikroskop elektron digunakan untuk mengamati virus. Dikenal ada dua macam mikroskop elektron yaitu tranmisi dan skaning. Mikroskop elektron transmisi menggunakan sinar elektron yang bergerak secara langsung melewati spesimen dan akan menghasilkan gambaran dua dimensi. Mikroskop elektron skaning menggunakan modifikasi sinar clcktron untuk menghasilkan bayangan
tiga dimensi.

PEMBUATAN PREPARAT DAN
PENGECATAN

Pemeriksaan mikroskopik terhadap bakteri dapat dilakukan dalam keadaan hidup maupun mati. Pemeriksaan bakteri dalam keadaan hidup dapat dikerjakan dengan membuat preparat tetesan gantung atau dengan melihat bakteri dalan mikroskop medan gelap. Dalam keadaan mati ,bakteri dapat dibuat preparat dicat.

A. Pembuatan Preparat

Untuk mendapatkan hasil preparat yang dapat dilihat dengan yang baik, diperlukan tidak terlalu baik yaitu, tidak terlalu tebal dan tipis. Pengecatan preparat secara benar. Pembuatan preparat dari bahan berasal langsung dari penderita. Bahan dapat berupa sputum, pus, discharge telinga, discharge hidung, urin (perlu disentrifuge terlebih dahulu, endapannya dibuat preparat) Cara Bahan diambil dengan ose steril atau kapas lidi steril dan pada obyek gelas setipis mungkin. Panaskan obyek gelas di atas nyala api spiritus sambil digoncangkan Garak preparat sampai api spiritus, kira-kira 20 cm) sampai preparat tersebut kering. Setelah kering tetesi formalin 1% tunggu 5 menit dan keringkan sekali lagi preparat siap dicat. dan Pembuatan preparat dari biakan cair Cara Ambil obyek gelas yang bersih dan steril, bebaskan dari lemak dengan memanaskan di atas nyala api spiritus. Ambil kuman dari cair lyang sebelumnya telah diaduk secara steril) dengan menggunakan ose steril, diratakan pada obyek gelas sehingga membentuk diameter kira-kira 1-2 cm. Ose yang sudah dipakai mengambil kuman harus disterilkan kembali dengan membakar ose di atas nyala api spiritus. Jika akan dipakai lagi, harus disterilkan dengan cara yang sama. Preparat yang sudah dibuat kemudian dikeringkan dan ditetesi formalin dengan cara seperti pcmbuatan preparat langsung  Perhatian Jangan memegang mata ose dengan menggunakan tangan Jangan meletakkan ose di atas meja, letakkan ose pada tempat yang telah disediakan. Jangan lupa mensterilkan ose pada saat akan dipakai dan sesudah pemakaian Pembuatan preparat dari media pertumbuhan padat.

1. Jenis-jenis cat

A. Mordan

Mordan adalah bahan kimia atau proses fisik yang memfiksasi cat primer yang diserap mikroorganisme target. Contoh: kompleks yodiang digunakan untuk pengecatan Gram, campuran asam dan alkohol untuk pengecatan tahan steril, diratakan pada obyek gelas sehingga membentuk diameter kira kira 1-2 cm. Ose yang sudah dipakai mengambil kuman harus disterilkan kembali dengan membakar ose di atas nyala api spiritus. Jika akan dipakai lagi, harus disterilkan dengan cara yang sama. Preparat yang sudah dibuat kemudian dikeringkan dan ditetesi formalin dengan cara seperti pembuatan preparat langsung. Perhatian Jangan memegang mata ose dengan menggunakan tangan.Jangan meletakkan ose di atas meja, letakkan ose pada tempat yang telah disediakan Jangan lupa mensterilkan ose pada saat akan dipakai dan sesudah pemakaian. Pembuatan preparat dari media pertumbuhan padat. Teteskan satu ose kaldu pada obyek gelas yang sudah dibersihkan dan dibebaskan dari lemak. Dengan ose steril ambil sedikit dari satu koloni kuman, campur dengan kaldu tersebut, buatlah menjadi homogen kemudian tipiskan. Preparat dikeringkan di atas nyala api spiritus dan selanjutnya dikeriakan sebagaimana membuat preparat dengan bahan berasal dari material langsung.

B. Pengecatan
Pada umumnya pemeriksaan langsung kurang memberikan hasil yang memuaskan karena kontras antara scl bakteri dengan latar belakangnya kurang jelas. Untuk meningkatkan kontras biasanya dilakukan.

Ada beberapa teori tentang dasar perbedaan kedua golongan tersebut

1. Teori Salton

   Teori ini berdasarkan kadar lipid yang tinggi (20%) di dalam dinding sei bakteri Gram negatip. Zat lipid ini larut selama pencucian dengan alkohol. Pori pori pada dinding sel membesar, sehingga zat warna yang sudah diserap mudah dilepaskan dan bakteri menjadi tidak berwama. Bakteri Gram positip mengalami denaturasi protein pada dinding selnya oleh pencucian dengan alkohol. Protein menjadi keras dan beku, pori-pori mengecil sehingga komplek kristal um yang berwarna ungu dipertahankan dan bakteri tetap berwarna ungu.

2. Teori permeabilitas dinding sel

   Teori ini berdasarkan tebal-tipisnya lapisan peptidoglikan dalam dinding sel Bakteri Gram positip mempunyai susunan dinding yang kompak dengan lapisan peptidoglikan yang terdiri dari 30 lapisan. Permeabilitas dinding sel kurang, dan komplek kristal yodium tidak dapat keluar Bakteri Gram negatip mempunyai lapisan peptidoglikan yang tipis, hanya l-2 lapisan dan susunan dinding sel tidak kompak. Permeabilitas dinding sel lebih besar sehingga masih memungkinkan terlepasnya kompleks kristal yodium. Komposisi cat gram
·         Cat Gram A Kristal Violet (wanna ungu) Etil alkohol 95% Amonium Oksalat 1% 0,8 gr
·         Cat Gram B 80 Yodium (warna coklat) Kalium Yodida Akuades
·         Cat Gram C 50 (tak berwarna) Etil alkohol 95 50
·         Cat Gram D Safranin 0,25 gr (warna merah) Etil alkohol 95% 10 Akuades 90

Cara pengecatan Gram

Preparat yang telah siap dicat digenangi dengan cat Gram A selama l-3 menit. Di sini semua kuman akan berwama ungu sesuaiwanna cat Gram A. Setelah 1-3 menit, cat dibuang, tanpa dicuci dengan air Preparat kemudian digenangi dengan cat G B selama 1/2-1 menit. Akibat rian ram lebih gram B maka pengikatan warna oleh bakteri menjadi baik. Setelah itu cat dibuang dan preparat dicuci dengan air (leding) Preparat kemudian ditetesi cat Gram C sampai warna cat tepat dilunturkan Setelah pemberian cat Gram C maka akan teriadi Bakteri : tahan terhadap alkohol (ikatan antara cat dengaram bakteri tidak dilunturkan oleh alkohol sehingga bakteri akan tetap berwarna ungu. Gram negatip: tidak tahan terhadap alkohol sehiungu dari cat d unturkan dan bakteri menjadi tidak berwama lagi ingga warna Preparat digenangi dengan cat G D selama 1-2 warna ram kontras. Akibat dari pemberian Gram D maka menit, Gram D  sebagai warna kontras. Akibat dari pemberian gram D maka:  Gram positip telah jenuh mengikat cat Gram A sehingga bakteri tidak mampu lagi untuk mengikat Gram D sehingga tetap berwama ungu. Bakteri Gram negatip akan mengikat warna cat Gram D (berwama merah) karena warna sebelumnya telah dilunturkan oleh cat gram C Preparat dicuci dan dikeringkan dalam udara kamar (posisi miring). itu diperiksa di bawah mikroskop dengan menggunakan pembesaran kuat.
Contoh bakteri Gram positip:

·         Bentuk coccus Streptococcus,
·         Staphylococcus, Pneumococcus.
·         Peptococcus, Peptostreptococcus

Bentuk batang Corynebacterium diphtheria Mycobacteria, Bacillus, Clostridia.

·         Contoh bakteri Gram negatip
·         Bentuk coccus
·         Nisseria, Veillonella

Bentuk batang E coli Shigella, Salmonella, Klebsiella, Hemophillus Pasteurella, Bacteroides Fusobacterium, Brucella. Pengecatan Ziehl Nelsen (ZN)  ini sering disebut dengan pengecatan acid fast atau tahan asam (BTA). Dengan pengecatan ZN, bakteri terbagi menjadi 2 golongan yaitu bakteri tahan asam dan bakteri yang tidak tahan asam. Bakteri tahan asam setelah diberi cat pertama akan tahan terhadap pencucian dengan asam dan alkohol sehingga tidak mengikat cat kedua dan tampak berwarna merah. Sedangkan bakteri yang tidak tahan asam akan tampak berwarna biru karena cat pertama dilunturkan oleh asam dan alkohol, dan kemudian mengikat cat kedua. Sifat tahan asam ini disebabkan karena terdapatnya asam mikolat terikat pada dinding sel. Dinding sel bakteri yang tahan asam dan alkohol terdiri dari peptidoglikan, arabinogalaktan dan lipid. Lima puluh persen dari lipid ini adalah asam mikolat. Komposisi catzN:
·         Ziehl Nelsen A:
·         basic fuchsin
·         (warna merah)
·         alkohol 95%
·         0,3 gr fenol
·         10 ml akuades..................... 5 ml
·         Ziehl Nelsen B
·         asam khlorida pekat.
·         (tak berwarna) etil alkohol 95%.
·         95 ml 3 ml 97 ml
·         Ziehl Nelsen C
·         metilen biru
·         (warna biru) akuades
·         0.3 gr

Cara pengecatan Ziehl Nelsen:

100ml Preparat digenangi dengan ZN-A, kemudian dipanasi dengan lampu spiritus sampai menguap, tetapi tidak mendidih. Baik bakteri yang tahan asam dan alkohol maupun yang tidak, keduanya akan berwarna merah Tunggu selama 5 menit, setelah itu cuci air, ditetesi dengan cat ZN-B sampai warna cat tepat dilunturkan Bakteri yang tahan asam dan alkohol, warna cat ZN-A tidak dilunturkan sehingga tetap berwama merah. Sedang bakteri yang tidak tahan terhadap asam dan alkohol, wanna cat ZN-A akan dilunturkan sehingga bakteri menjadi tidak berwarna. Setelah itu preparat segera diangkat dan dicuci dengan air. Preparat digenangi dengan cat ZN-C selama 2 menit. Bakteri yang tahan asam dan alkohol, tidak mampu lagi mengikat wama ZN-C rena sudah jenuh, sehingga bakteri tetap berwarna merah. Bakteri yang tidak tahan asam dan alkohol, warna cat ZN-A akan dilunturkan, sehingga bakteri akan mengikat warna cat (ZN-C) sehingga berwama biru. Preparat dicuci dengan air dan dikeringkan dalam temperatur kamar.
·         Contoh bakteri ZN
·         positip
·         Mycobacterium tubercolosis
·         Mycobacterium lepra
·         Mycobacterium yang saprofit.

MEDIA

Dalam pemeriksaan mikrobiologik penggunaan media sangat penting baik isolasi, identifikasi maupun diferensiasi. Media juga digunakan untuk  material dari rumah sakit atau tempat lain ke laboratorium agar  dalam material tersebut tetap hidup sesampainya di laboratorium. Media  kumpulan zat-zat organik maupun anorganik yang digunakan untuk bakteri dengan syarat-syarat tertentu, dalam rangka isolasi, dan pengujian sifat fisiologik mendapatkan suatu lingkungan kehidupan yang cocok bagi  bakteri
maka syarat-syarat media, pembuatan media harus dalam hal

1.        Susunan
2.       Tekanan osmose
3.       derajat keasaman (pH)
4.       temperatur
5.       5. sterilitas

1. Susunan Makanan  yang digunakan untuk pertumbuhan harus mengandung air

a.       sumber karbon
b.       sumber nitrogen
c.       mineral
d.       Vitamin
e.       Gas
f.        Air

Air digunakan untuk pertumbuhan bakteri, menjaga kelembaban dan untuk zat (metabolisme). Pada umumnya bakteri peka terhadap kekeringan, jenisjenis tertentu dan yang mampu membentuk spora

Temperatur

Untuk mendapatkan pertumbuhan optimal, bakteri membutuhkan tertentu. Umumnya bakteri patogen membutuhkan temperatur sekitar 37 C, sesuai dengan suhu tubuh. Namun ada bakteri patogen yang membutuhkan sekitar 42°C, yakni Campylobacter.

Sterilitas

Sterilitas media merupakan syarat yang sangat penting. Tidak mungkin kita  melakukan pemeriksaan mikrobiologik apabila media yang digunakan steril, karena tidak dapat dibedakan dengan pasti apakah bakteri tersebut dari material yang diperiksa atau hanya merupakan kontaminan. Untuk media yang steril maka setiap tindakan (pengambilan media. media dll) serta alat-alat yang digunakan (tabung, petri, dll) harus dan dikerjakan secara aseptik. Media

1. Secara garis besar dikenal ada dua jenis media:

a. Media hidup

Media hidup terutama digunakan untuk menanam mengisolasi. virus hanya dapat ditanam pada bagian tertentu dari binatang ginjal kera, embrio ayam dan lain-lain. Di samping itu media sering digunakan untuk mengetahui jenis Escherichia coli yang dengan memakai tikus putih yang berumur 3-7 hari.

b. Media buatan

Media buatan adalah media yang dibuat dari kumpulan zat-zat tertentu(organik dan anorganik), Masing-masing bakteri membutuhkan susunan yang berbeda.

2. Menurut konsistensinya:

a.       Media padat Media padat dapat berbentuk sebagai media padat datar, padat miring padat tegak.
b.       Media setengah padat (semi solid) Misalnya: SSS (Semi Solid Sucrose medium), MIO (Motility Indol), Carry and Blair medium, Fletcher's medium.
c.       Media cair Misalnya: media gula, media kaldu, kaldu pepton, kaldu darah, dan lain nya.

3. Menurut isi media

a. Media basal digunakan sebagai bahan dasar untuk membuat media lain
yang lebih kompleks:

1. media basal padat kaldu
agar, TSA (Tryptone Soya Agar)
b. 2. media basal cair: air pepton, kaldu pepton.
Media campuran adalah media selain media basal ditambahkan macam zat baik organik maupun anorganik, sesuai dengan
kebutuhan bakteri.

4. Menurut tingkatannya dibedakan

a. Media sederhana Media sederhana hanya mengandung zat-zat kimia yang sederhana,
b. misalnya: media larutan alkali pepton, media gula-gula. Media kaya mengandung zat-zat kimia biasanya juga mengandung zat organik tingkat tinggi seperti serum, darah, telur dan lain-lain.

5. Menurut penggunaannya:

a. Media kaya

Media kaya digunakan untuk mendapatkan pertumbuhan bakteri yang tidak dapat tumbuh dalam sederhana misalnya: Gonococcus, Bacteroides, Fusobacterium, dan lain-lain. Bakteri tersebut membutuhkan penambahan zat-zat organik yang berasal dari makhluk hidup, misalnya darah, telur dan lain lain. Contohnya: media agar darah, Brucella agar darah, agar coklat, kaldu darah dan lain-lain.

b. Media eksklusif

Media ini dibuat sedemikian rupa sehingga hanya bakteri tertentu yang dapat hidup. Hal ini dapat dilakukan dengan pH sangat alkalis. Misalnya: media cair alkali pepton dan TCBS yangdigunakan untuk vibrio. antibiotik tertentu Sabourrauc Misalnya: dengan menambahkan Chloramphenicol pada untuk pemeriksaan jamur, Kanamycin pada Brucella agar darah untuk pemeriksaan bakteri anacrob tertentu.

c Media selektif

Media ini mempunyai susunan sedemikian rupa, sehingga  yang dicari akan tumbuh dengan koloni yang khas sedang bakteri lain kurangkhas. Contoh Media Endo, Mc Conkey Agar, DCLS Agar, yang digunakan untuk isolasi kuman-kuman perut Di sini kuman perut (enterobacter) yang tidak memecah laktosa (non-lactose fermented) misalnya Salmonella, Shigella, Proteus dan lain-lain akan terlihat jemih transparan, sedang yang memecah laktosa akan berwarna merah. Media Tellurit yang digunakan untuk isolasi Corynebacterium

d. Media Pembiakan

Media ini digunakan apabila dalam suatu material kuman yang dicari jumlahnya sangat sedikit atau disamping jumlah kuman yang dicari sangat sedikit juga terdapat kuman-kuman lain dalam jumlah yang besar. Dalam hal ini material perlu dimasukkan dalam media pembiakan. dicari akan tumbuh dengan subur, sedang kuman yang lain akan terhambat pertumbuhannya. Misalnya: Media sc (Selenite cystein) Broth yang digunakan sebagai media penyubur untuk Salmonella dan media alkali pepton cair yang digunakan sebagai media penyubur untuk Vibrio.

e. Media yang digunakan untuk mempelajari sifat-sifat biokimiawi bakteri terhadap berbagai macam zat.

Contoh

1. Media gula-gula: glukosa, maltosa, laktosa, sakarosa, man xylosa dan lain-lain. Dalam media gula-gula dapat diamati: kemampuan bakteri tersebut memccah gula-gula menjadi asam dan gak hanya menghasilka kemampuan bakteri tersebut memecah gula-gula asam tanpa gas. apakah bakteri tersebut tidak memecah gula-gula.
2. Media darah. Dalam media ini dipelajari sifat-sifat bakteri
terhadap darah: apakah bakteri tersebut darah (misalnya beta streptococcus) (misalnya alpha apakah bakteri tersebut hemodigesti terhadap darah  streptococcus) (gamma apakah bakteri tersebut tidak berpengaruh terhadap darah  streptococcus)
3. Disamping itu untuk kemudahan, sering digunakan satu macam media yang dapat sekaligus mempelajari berbagai sifat bakteri.

Contoh:

a.       KIA (Kligler Iron Agar) Dalam media ini (bentuknya miring) di samping mempelajari reaksi bakteri terhadap komponen penyusun media juga diperhatikan adanya produksi asam (ditandai perubahan warna dari merah menjadi kuning), baik pada daerah yang miring (slant ataupun pada tusukan (but reaksi bakteri terhadap gula-gula Dengan media KIA dapat dipelajari (laktosa dan dekstrosa) apakah bakteri tersebut menghasilkan asam. dan gas, atau menghasilkan asam tanpa gas, atau tidak memecah kedua gula tersebut, apakah mempunyai kemampuan membentuk Has yang akan diikat sebagai ferri sulfida dan akan terlihat berwama hitam.
b.       TSI Prinsip media ini hampir sama dengan KI-Agar. Perbedaan pokok adalah dalam media TSI mengandung tiga macam gula yakni dekstrosa, laktosa dan sukrosa.
c.       SSS (Semi Solid Sucrose) Agar Dalam media ini dapat dipelajari motilitas (pergerakan bakteri.reaksi bakteri terhadap sukrosa. Di samping itu bila sukrosa diganti dengan gula yang lain (yang diperlukan) maka dapat diketahui kelakuan bakteri terhadap gula tersebut.
d.       LIA Lysine iron agar Dalam media ini dapat dilihat kelakuan bakteri terhadap lysine dan kemampuan membentuk H2S.
e.       Leptospira: Fletcher's medium
f.        Jamur:

Sabouraud dan Sabouraud dengan chloramphenicol Enterobacteriaceae

1. DCLS
2. TCBS
3. Mc Conkey Agar

C. Enriched media (media penyubur):

1. Selenit Cystein Broth
2. Larutan alkali pepton
3. Kaldu darah
4. Thioglycolat
5. Gal kultur

D. Media untuk sensitivitas test
1. Mueller Hinton agar
2. DST agar
3. Supristol agar
4. BHI
5. Agar base

E. Media untuk identifikasi:

a. Kultur
umum:

1. Media gula-gula
2. Deret media komplek untuk identifikasi kuman perut batang Gram
negatip

b. Enterobacteriaceae:

1. KLATSI Agari (Kligler Iron Agar Triple Sugar Iron Agar)
2. SSS (Semi Solid Sucrose medium)
3. LIA (Lysine Iron Agar)
4. MIO (Motility Indol Ornithine Medium)
5. ACA (Acetat Agar)
6. Urea Broth
7. MR (Methyl Red)
8. VP IVoges Proskauer)



/* kode iklan */

jangan lupa iklannya diklik ya, to " Contoh Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Dasar"

Post a Comment