8/30/2016T8/30/2016

Bentuk-Bentuk Konflik Berdasarkan Hubungannya dan Menurut Para Ahli Materi Sosiologi

/* kode iklan */
/* kode iklan */

Bentuk-Bentuk Konflik Berdasarkan Hubungannya dan Menurut Para Ahli Materi Sosiologi-Berdasarkan sejumlah kriteria, konflik sosial dapat dibedakan atas beberapa bentuk. Berikut bentuk-bentuk konflik sosial

a. Berdasarkan Hubungannya dengan Tujuan Organisasi

1) Konflik fungsional adalah konflik yang mendukung tujuan organisasi. Konflik ini bersifat konstruktif

Contoh: konflik antaranggota suatu organisasi politik tentang pencalonan bupati dan wakil bupati.

2) Konflik disfungsional adalah konflik yang menghambat tercapainya tujuan organisasi dan sifatnya destruktif.

b. Berdasarkan Hubungannya dengan Posisi Pelaku Konflik

1) Konflik vertikal adalah konflik antartingkatan kelas atau antara atasan dan bawahan.
Contoh: konflik antara buruh dan manajer dalam suatu perusahaan

2) Konflik horizontal adalah konflik yang terjadi antarindividu atau kelompok yang sekelas atau sederajat.
Contoh: konflik antarumat beragama yang terjadi di Poso.

3) Konflik diagonal adalah konflik yang terjadi karena ketidakadilan alokasi sumber daya ke seluruh organisasi yang menimbulkan pertentangan secara ekstrem dari bagian bagian yang membutuhkan sumber daya tersebut.
Contoh: konflik antara sebuah PTbersama segenap jajarannya dan pemerintah daerah yang didukung rakyat.

c. Berdasarkan Hubungannya dengan Struktur Organisasi

1) Konflik hierarki adalah konflik dari berbagai tingkatan (posisi) yang ada dalam suatu organisas Contoh: konflik antara presiden direkturdan dewan komisaris dalam suatu perusahaan

2) Konflik lini staf adalah konflik antara lini dan staf yang ada dalam organisasi. Hal tersebut terjadi karena pegawai staf yang secara formal tidak lagi mempunyai kekuasaan atas pegawai lini karena tidak dalam satu garis komando, sementara pegawai staf merasa posisinya lebih baik daripada pegawai lini.
Contoh: konflik antara petugas tata usaha sekolah dan pesuruh sekolah

3) Konflik formal informal adalah konflik antara kelompok formal dalam suatu organisasi dan kelompok informal yang berkaitan dengan organisasi tersebut.

d. Berdasarkan Hubungannya dengan Konsentrasi Aktivitas Manusia dalam Masyarakat

1) Konflik ekonomi adalah konflik yang disebabkan oleh adanya perebutan sumber daya ekonomi dari pihak yang berkonf

Contoh: konflik antarperusahaan rokok yang berusaha merebut pasar dengan iklan-iklan yang gencar.

2) Konflik politik adalah konflik yang dipicu oleh adanya kepentingan politik dari pihak pihak yang berkonflik

Contoh: konflik antarparpol berebut massa dalam berkampanye.

3) Konflik budaya adalah konflik yang disebabkan oleh adanya perbedaan kepentingan budaya dari pihak yang berkonflik.

Contoh: konflik antarsuku mengenai sistem kekerabatan

4) Konflik pertahanan adalah konflik yang dipicu oleh adanya perebutan hegemoni pihak-pihak yang berkonflik

Contoh: konflik antara lsrael Palestina serta konflik antara Korea Utara-Korea Selatan

5) Konflik antarumat beragama adalah konflik yang dipicu oleh adanya sentimen agama.

Contoh: konflik di Ambon atau konflik Perang Salib

e. Berdasarkan Hubungannya dengan Pelaku

1) Konflik intrapribadi (konflik di dalam diri sendiri) adalah konflik yang terjadi dalam diri seseorang sebagai akibat perbedaan atau kesenjangan antara kemauan dan kemampuannya untuk melakukan keinginannya. Konflik ini dibagi menjadi dua, yaitu konflik afektif, yang menyangkut emosional seperti stres, menurunnya produktivitas atau menurunnya rasa kepuasan; dan konflik kognitif, yang menyangkut intelektual di mana seseorang yang secara intelektual mampu namun berbenturan dengan keterbatasan waktu, biaya, dan tenaga sehingga harus menerima kegagalan.

2) Konflik antarpribadi adalah apabila terjadi pertentangan antara dua individu yang disebabkan perbedaan persepsi, orientasi, atau kedudukan. Konflik ini biasanya menimbulkan like and dislike (rasa suka dan tidak suka) dalam hubungan antarindividu

3) Konflik dalam kelompok adalah konflik yang terjadi dalam suatu kelompok karena keputusan kelompok bertentangan dengan keinginan satu atau dua individu dalam kelompok tersebut.

4) Konflik di dalam organisasi adalah konflik yang dapat diindikasikan konflik telah mengarah ke dalam seluruh fungsi di dalam organisasi tersebut.
Contoh: konflik antara manajer dan stafnya (bersifat vertikal) atau konflik antarpegawai dalam organisasi itu (bersifat horizontal).

5) Konflik antarorganisasi adalah konflik antarkelompok yang mempunyai badan hukum yang biasanya berhubungan dengan masalah bisnis dan politik.

Contoh: konflik antarbadan usaha atau konflik antarparpol

f. Berdasarkan Kecepatan Reaksi

Berdasarkan kecepatan reaksi (speed of reaction) yang diberikan para pihak atas ketidaksepahaman yang terbentuk, konflik terdiri dari sebagai berikut.

1) Gerakan sosial damai (peaceful collective action), berupa aksi pertentangan, yang dapat berlangsung dalam bentuk aksi korektif (berupaya menyampaikan tuntutan tertulis, petisi)
pemogokan (mogok makan, mogok bekerja), atau aksi lainnya (aksi teatrikat atau aksi tutup mulut). Bila tidak mendapat tanggapan yang memuaskan, maka aksi damai dapat dimungkinkan berkembang menjadi aksi membuat gangguan umum (strikes and civil disorders) berwujud demonstrasi ataupun huru-hara.

2) Demonstrasi (demonstrations) atau protes bersama (protest gatherings), adalah kegiatan yang mengekspresikan ketidaksepahaman suatu kelompok atas isu-isu tertentu. Demonstrasi biasanya masih bersifat lokal dan sporadis, meski tidak tertutup kemungkinan dapat meluas.

3) Kerusuhan dan huru-hara (riots), yaitu peningkatan derajat kekerasan (degree of violance) dari sekadar demonstrasi. Kerusuhan berlangsung sebagai aksi massal atas suatu keresahan umum. Oleh karena disertai dengan aksi massa yang tidak terkendali, maka huru-hara sering menimbulkan kerusakan maupun korban luka (bahkan kematian)

4) Pemberontakan (rebellions), adalah konflik sosial berkepanjangan yang biasanya digagas dan direncanakan lebih konstruktif serta terorganisasikan dengan baik Pemberontakan bisa menyangkut perjuangan dan kedaulatan atas suatu wilayah ataupun mempertahankan teritorial (termasuk eksistensi ideologi tertentu).

5) Aksi radikalisme-revolusione (revolutions): adalah gerakan pertentangan yang menginginkan perubahan sosial secara cepat atas suatu keadaan tertentu dalam masyarakat.

6) Perang adalah bentuk konflik bersenjata antamegara yang sangat tidak dikehendaki oleh masyarakat internasional karena dampaknya sangat luas, bahkan tak jarang mengakibatkan tragedi kemanusiaan.

g. Berdasarkan lsu-isu yang Diusung

Berikut bentuk-bentuk konflik sosial berdasarkan isu-isu yang diusung.

1) Konflik antarkelas sosial (social class conflic), sebagaimana terjadi antara kelas buruh melawan kelas majikan dalam konflik hubungan industrial atau kelas tuan tanah melawan kelas buruh tani dalam konflik pertanahan.

2) Konflik moda produksi dalam perekonomian (modes of production conflic), yang berlangsung antara kelompok pelaku ekonomi berskala kecil melawan pengusaha bermodal besar, misalnya antara pedagang tradisional dan pengusaha perbelanjaan modern

3) Konflik sumber daya alam dan lingkungan (natural resources conflict, adalah konflik sosial yang berpusat pada sengketa penguasaan sumber daya alam (tanah atau air) Misalnya, kelompok masyarakat adat memperjuangkan hak-hak penguasaan tanah adat melawan perusahaan swasta atau kelompok sosial lain yang juga mengaku sebagai pemiliknya.

4) Konflik ras (ethnics and racial conflic), yang mengusung perbedaan warna kulit dan atribut rasial lainnya.

5) Konflik antarpemeluk agama (religious conflict), yang berlangsung karena masing masing pihak tidak mampu mengembangkan sikap toleran dan saling menghargai keyakinan satu sama lain

6) Konflik sektarian (sectarian conflict adalah konflik yang dipicu oleh perbedaan pandangan atau ideologi yang dianut antarpihak. Konflik akan semakin mempertajam perbedaan pandangan antarmazhabaliran (sering terjadi pada ideologi yang sama)

7) Konflik politik (political conflict, yang berlangsung dalam dinamika olah kekuasaan (power exercise). Konflik politik sering terjadi karena upaya merebut dan mempertahankan kekuasaan

8) Konflik gender (gender conflic), adalah konflik yang berlangsung antara dua penganut pandangan berbeda dengan basis perbedaan jenis kelamin. Para pihak mengusung kepentingan-kepentingan (politik, kekuasaan, ekonomi, dan peran sosial) yang berbeda dan saling berbenturan antara dua kelompok jenis kelamin. Misalnya konflik antara pihak yang menginginkan perempuan lebih banyak berkiprah dalam perpolitikanperekonomian dan pihak yang menganggap perempuan seharusnya tetap mempertahankan peran tradisional sebagai pengurus rumah tangga.

9) Konflik antarkomunis (communal conflict, yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti eksistensi identitas budaya komunitas maupun faktor sumber daya kehidupan (sources of sustenance). Konflik komunal sering bisa berkembang menjadi konflik teritorial jika pada identitas kelompok melekat juga identitas kawasan

10) Konflik teritorial (termtorial confict, adalah konflik sosial yang dilancarkan oleh komunitas atau masyarakat lokal untuk mempertahankan kawasan tempat mereka membina kehidupan selama ini. Konflik teritorial sering dijumpai di kawasan-kawasan hak pengusahaan hutan (HPH), di mana komunitas adat/lokal merasa terancam sumber kehidupan dan identitas sosiobudayanya manakala pengusaha pemilik HPH menebang pepohonan dan hutan tempat mereka selama ini bernaung dan membina kehidupan

11) Konflik dua negara (interstate conflict, adalah konflik yang berlangsung antara dua negara dengan kepentingan, ideologi, dan sistem ekonomi yang berbeda dan saling berbenturan. Dalam kecenderungan global, interstate conflict bisa berkembang menjadi regional conflict atau konflik antarkawasan maupun negara-negara yang bersekutu sebagaimana terjadi pada era Perang Dingin (Blok Uni Soviet dengan Blok Amerika Serikat).

Selain bentuk-bentuk konflik tersebut, para ahli juga mengemukakan beberapa bentuk konflik. Berikut bentuk-bentuk konflik menurut para ahli.

a.Kurt Lewin
Berikut tiga macam konflik yang dialami oleh manusia menurut Kurt Lewin.

1) Konflik Positif-Positif

Konflik positif positif terjadi apabila seorang individu menghadapi dua keinginan atau tujuan yang sama-sama menarik tetapi harus dipilih satu di antaranya. Misalnya, dalam waktu yang sama seorang individu mendapat tawaran pekerjaan yang sama-sama menarik, maka ia harus menentukan satu pilihan setelah mempertimbangkan dari beberapa aspek. Bagan konflik positif positif seperti terlihat pada gambar berikut.

2) Konflik Negatif-Negatif

Konflik negatif-negatif terjadi apabila pada saat yang bersamaan seseorang dihadapkan pada dua alternatif yang sama-sama tidak menarik atau sama-sama tidak diinginkan. Ketika menghadapi situasi semacam inindividu mendapat dorongan yang kuat untuk lari dari masalah dengan cara melakukan hal lain. Misalnya, Tino sebagai siswa lulusan SMA disuruh ayahnya untuk memilih bekerja atau melanjutkan ke perguruan tinggi. Padahal Tino tidak menyukai dua pilihan tersebut. Apabila Tino dipaksa untuk bekerja kemungkinan ia akan menjadi pekerja yang suka membolos atau bekerja dengan seenaknya, sedangkan kalau dipaksa kuliah mungkin Tino akan sering membolos juga. Bagan konflik negatif-negatif seperti terlihat pada gambar berkut

3) Konflik Positif-Negatif

Konflik positif-negatif terjadi apabila pada saat yang sama individu dihadapkan pada pilihan yang bertolak belakang antara pilihan yang menarik/menyenangkan dan pilihan yang menyusahkan/menyedihkan. Misalnya, Pak Wawan suka minuman manis, tetapi ia mempunyai penyakit diabetes. Namun, konflik tersebut dapat diatasi dengan cara Pak Wawan mengonsumsi gula rendah kalori sehingga tidak perlu khawatir dengan gula darahnya dan tetap bisa merasakan manis. Bagan konflik positif-negatif seperti terlihat pada gambar berikut.

Baca juga:
  1. Definisi Konflik Sosial Menurut Para Ahli Sosiologi
  2. Materi Sosiologi Karakteristik Konflik Sosial - New !!
  3. Materi Sosiologi Penyebab Konflik - New !!
  4. Sifat-sifat Konflik, Gejala Konflik, dan Proses Terjadinya Konflik Materi Sosiologi - New !!
  5. Teori Konflik Menurut Para Ahli Materi Sosiologi - New !!
b. Lewis A. Coser

Menurut Lewis A. Coser terdapat dua bentuk konflik sosial, yaitu sebagai berikut.

1) Konflik Realistis

Konflik ini berasal dari kekecewaan individu atau kelompok terhadap sistem dan tuntutan-tuntutan yang terdapat dalam hubungan sosial. Contohnya, para buruh melakukan pemogokan kerja melawan manajemen perusahaan

2) Konflik Nonrealistis

Konflik ini bukan berasal dari tujuan-tujuan persaingan yang antagonistis, melainkan dari kebutuhan pihak-pihak tertentu untuk meredakan ketegangan. Coniohnya, upaya mencari kambing hitam.

c. George Simmel

George Simmel membedakan konflik atas konflik yang terjadi dalam hubungan intim dengan konflik yang terjadi dalam hubungan daat. Menurut Simmel, konflik dengan seseorang yang telah sekian lama dikenal dekat akan jauh lebih tinggi intensitasnya dan membekas dibanding konflik dengan orang yang baru saja dikenal.

d. Mayor Polak

Berikut empat bentuk konflik sosial menurut Mayor Polak.

1) Konflik Antarkelompok

Konflik antarkelompok melibatkan kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan berbeda.

2) Konflik Intern dalam Kelompok

Konflik intern melibatkan anggota-anggota dalam satu kelompok, lazimnya diakibatkan oleh perebutan pengaruh atau kekuasaan, perbedaan cara dalam mencapai tujuan, atau ketidaksamaan pendapat mengenai beragam isu terkait keberadaan kelompok.

3) Konflik Antarindividu

Konflik antarindividu melibatkan individu-individu yang memiliki latar belakang (ras, suku, agama, status), kebutuhan, ataupun kepentingan berbeda. Konflik dapat juga terjadi karena upaya mempertahankan hak dan kekayaan.

4) Konflik Intern Individu

Konflik intern individu berwujud pergulatan batin dalam diri individu mengenai cita-cita. Konflik ini dapat terjadi ketika individu dihadapkan pada kenyataan bahwa cita-citanya ternyata ditentang oleh orang tua atau keluarga terdekat. Atau, saat individu menyadari kenyataan bahwa keadaan tidak memungkinkannya mencapai cita-cita yang diinginkan.

e. James A. F. Stoner dan Charles Wankel

Berikut tiga bentuk konflik sosial menurut James A.F. Stoner dan Charles Wankel.

1) Konflik intrapersonal

Konflik intrapersonal adalah konflik seseorang dengan dirinya sendiri. Konflik teriadi bila pada waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus. Berikut tiga bentuk konflik intrapersonal.

a) Konflik pendekatan-pendekatan (approach to approach conflic), yaitu bila seorang individu menghadapi dua keinginan atau tujuan yang sama-sama menarik, tetapi harus dipilih satu di antaranya. Contoh: seorang lulusan SMA harus memilih salah satu antara dua perguruan tinggi negeri yang diminatinya dan berkualitas setara


b) Konflik pendekatan-penghindaran (approach to avoidance conflict, yaitu konflik yang terjadi jika individu memiliki perasaan positif dan negatif terhadap satu objek. Contoh: Irwan berniat berkunjung ke rumah Sitha. Namun, ia khawatir Sitha akan menolak, sehingga akhirnya lrvan mengurungkan niat.

c) Konflik penghindaran-penghindaran (avoidance to avoidance conflict, timbul bila pada saat bersamaan seseorang dihadapkan pada dua alternatif yang sama-sama tidak diinginkannya. Contoh: Andika harus memilih apakah hendak menjual mobil kesayangannya untuk mendaftarkan diri ke sekolah pilot, atau mempertahankan mobilnya tetapi tidak dapat membiayai pendaftaran sekolah pilot

2) Konflik interpersonal

Konflik interpersonal adalah pertentangan antara seseorang dan orang lain akibat perbedaan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara dua orang yang berbeda status, peranan, bidang kerja, dan lain-lain.

3) Konflik Antarindividu dan Kelompok

Hal ini sering berhubungan dengan cara individu menghadapi tekanan-tekanan untuk mencapai konformitas, yang ditekankan kepada mereka oleh kelompok sosial atau masyarakatnya

f. Simon Fisher

Berikut empat bentuk konflik sosial menurut Simon Fisher.

1) Tanpa Konflik

Tanpa konflik menggambarkan situasi yang relatif stabil, hubungan-hubungan antarkelompok bisa saling memenuhi dan berlangsung damai. Dalam hal ini, bukan berarti bahwa konflik sama sekali tidak terjadi, melainkanada beberapa kemungkinan yang mendukung situasi tanpa konflik, di antaranya sebagai berikut.
a Masyarakat mampu menciptakan struktur sosial yang bersifat mencegah ter- jadinya konflik dan kekerasan.

b) Sifat budaya yang memungkinkan anggota masyarakat menjauhi permusuhan dan kekerasan.

2) Konflik Laten

Konflik laten adalah suatu keadaan yang di dalamnya terdapat banyak persoalan sifat tersembunyi, dan perlu diangkat ke permukaan agar bisa ditangani. Kehidupan masyarakat yang tampak stabil dan harmonis bukan merupakan jaminan bahwa di dalam masyarakat tidak terdapat permusuhan atau pertentangan. Bisa jadi, di balik stabilitas, keharmonisan, serta perdamaian, justru konflik laten yang tinggal menunggu waktu saja untuk pecah menjadi konflik terbuka.

3) Konflik Terbuka

Konflik terbuka merupakan situasi ketika konflik sosial telah muncul ke permukaan, berakar dalam (deep rooted), dan sangat nyata, sehingga diperlukan berbagai tindakan untuk mengatasi akar penyebab dan berbagai dampaknya. Pada situasi konflik terbuka, biasanya akan bermunculan keterlibatan sejumlah besar pihak dan tuntutan-tuntutan yang tersebar luas dengan cepat.

4) Konflik di Permukaan

Konflik di permukaan umumnya tidak berakar dalam dan muncul hanya karena kesalahpahaman mengenai hal-hal tertentu, yang dapat diatasi dengan meningkatkan komunikasi dan dialog antarpihak.

g. Furman dan McQuaid

Furman dan McQuaid membedakan konflik menjadi dua berdasarkan akibat maupun cara penyelesaiannya, yaitu sebagai berikut,


1) Konflik Destruktif (Merugikan)

Konflik destruktif (merugikan) yaitu konflik yang merugikan berbagai pihak. Beberapa bentuk kerugian akibat konflik destruktif adalah sebagai berikut.

a) Perasaan cemat yang tidak perlu

b) Adanya perubahan kepribadian seorang individu.

c) Hancurnya harta benda dan jatuhnya korban manusia.

d) Komunikasi yang berkurang.

e) Munculnya persaingan yang tidak sehat.

f) Ledakan konflik yang hebat sampai muncul tindakan ancaman dan kekerasan.

g) Hancurnya kesatuan kelompok sehingga perhatian terhadap tujuan kelompok semakin berkurang.



2) Konflik Konstruktif

Konflik konstruktif yaitu konflik yang menimbulkan keuntungan bagi pihak-pihak yang berkonflik. Keuntungan yang dimaksud adalah sebagai berikut.

a) Bertambah kuatnya rasa solidaritas antara sesama anggota kelompok yang bertikai

b) Meningkatnya inisiatif dan kreativitas individu atau kelompok karena mereka akan berusaha untuk menyesuaikan terhadap halhal yang baru.

c) Intensitas usaha semakin meningkat, perasaan apatis teratasi, dan individu atau kelompok yang terlibat akan bekerja lebih keras.

d) surutnya ketegangan pribadi dan jika hal tersebut tidak terjadi, justru akan menimbulkan stres.

h, Soerjono Soekanto

Berikut lima bentuk khusus konflik menurut Soerjono Soekanto.

1) Konflik Pribadi

Konflik pribadi merupakan pertentangan kepentingan antarpribadi, Setiap pribadi mempunyai sikap, pendirian, keyakinan, keinginan, kebutuhan, dan tujuan hidup yang berbeda-beda. Perbedaan-perbedaan tersebut selain menciptakan keunikan-keunikan dalam masyarakat, juga berpotensi menimbulkan konflik antarpribadi. Dalam konflik tersebut timbul rasa benci, iri hati, saling menyalahkan, atau bahkan saling menjatuhkan.

2) Konflik Rasial

Ras menunjukkan ciri-ciri fisik seseorang. Sikap etnosentrisme dan rasaprimordialisme yang berlebihan dapat mengakibatkan terjadinya konflik antarras.

3) Konflik antara Kelas-Kelas Sosial

Konflik antarkelas dilandasi oleh adanya perbedaan kepentingan. Misalnya, konflik antara pengusaha dan karyawan. Bentuk konkret dari konflik tersebut yaitu makin seringnya terjadi demonstrasi para buruh dalam memperjuangkan aspirasinya.

4) Konflik Politik

Konflik politik merupakan pertentangan antara dua orang atau lebih yang saling berlawanan dalam rangka untuk memiliki kekuasaan. Pertentangan ini berkisar pada siapa yang memperoleh sesuatu, kapan ia memperolehnya, dan bagaimana ekuasaan dapat diraih, dipertahankan, dan diperebutkan. Misalnya, dalam masa pemilu setiap partai politik berusaha memperebutkan suatu kedudukan atau pengaruh dengan cara mengalahkan partai politik lain.

5) Konflik yang Bersifat Internasional

Konflik internasional merupakan pertentangan yang terjadi antara satu negara dan negara lainnya atau melibatkan beberapa negara sekaligus. Konflik internasional antara lain disebabkan masalah ekonomi, perbedaan kepentingan, perebutan ayah, dan sebagainya. Misalnya, konflik antara lrak dan Amerika Serikat karena adanya perbedaan kepentingan bilateral maupun multilateral.

i. Soetopo

Menurut Soetopo, konflik dapat dibedakan berdasarkan segi materinya, yaitu sebagai berikut

1) Konflik Tujuan

Konflik tujuan terjadi jika ada dua tujuan atau yang kompetitif bahkan yang kontradiktif

2) Konflik Peranan

Konflik peranan timbul karena manusia memiliki lebih dari satu peranan dan tiap peranan tidak selalu memiliki kepentingan yang sama.

3) Konflik Nilai

Konflik nilai dapat muncul karena pada dasarnya nilai yang dimiliki setiap individu dalam organisasi tidak sama sehingga konflik dapat terjadi antarindividu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan organisasi.

4) Konflik Kebijakan

Konflik kebijakan dapat terjadi karena ada ketidaksetujuan individu atau kelompok terhadap perbedaan kebijakan yang dikemukakan oleh satu pihak dan kebijakan lainnya.

Terimakasih telah membaca Bentuk-Bentuk Konflik Berdasarkan Hubungannya dan Menurut Para Ahli Materi Sosiologi

/* kode iklan */

jangan lupa iklannya diklik ya, to "Bentuk-Bentuk Konflik Berdasarkan Hubungannya dan Menurut Para Ahli Materi Sosiologi"

Post a Comment